FAKTA SAMA, RESPONS BERBEDA

Terbaru7 Dilihat

Seorang teman tak menyapa ketika bertemu, apa respon kita?  Dua kemungkinannya. Dia sombong atau sedang banyak pikiran. Faktanya sama. respons emosionalnya berbeda, karena interpretasinya berbeda.

Dua orang bisa mendengar kalimat yang sama, tetapi memiliki pemahaman yang berbeda. Mengapa? Karena komunikasi tidak berhenti pada pengiriman pesan, melainkan pada bagaimana pesan itu dipersepsi.

Komunikasi dalam satu interaksi terjadi karena adanya kesamaan makna. Hal mendasar dalam komunikasi yang paling menentukan  bukan sekadar apa yang dikatakan, tetapi bagaimana pesan itu dipahami.

Di sinilah letak kuncinya: kita tidak bereaksi terhadap fakta, tetapi terhadap interpretasi kita atas fakta tersebut. Harold Lasswell melalui rumusnya dalam teori komunikasi klasik mengatakan “Who says what in which channel to whom with what effect”. Tujuan akhir komunikasi adalah efek. Efek itu terjadi bukan pada kata-kata, melainkan pada persepsi penerima.

Komunikasi sering dipahami sebagai kemampuan berbicara dengan lancar, menyusun argumen dengan runtut, atau menyampaikan gagasan dengan percaya diri. Namun sesungguhnya, komunikasi bukan semata-mata soal kata-kata. Ia adalah soal makna. Dan makna tidak pernah lahir dari hanya kata-kata, melainkan dari persepsi.

Pada dasarnya inti dari komunikasi adalah persepsi, dan inti dari persepsi adalah interpretasi. Pernyataan ini  menegaskan satu hal mendasar: dalam komunikasi, yang paling menentukan bukan sekadar apa yang dikatakan, tetapi bagaimana pesan itu dipahami.

Setiap orang menafsirkan berdasarkan pengalaman hidupnya, nilai yang dianutnya, latar budaya, tingkat kedewasaan emosi, bahkan kondisi hatinya saat itu. Kita tidak bereaksi terhadap kenyataan apa adanya; kita bereaksi terhadap tafsir kita atas kenyataan tersebut. Itulah persepsi yang terbentuk dari proses menafsirkan.

Dalam kehidupan sehari-hari hubungan antar sesama sangat dipengaruhi oleh cara kita menafsirkan situasi. Banyak konflik bukan lahir dari niat buruk, melainkan dari interpretasi yang terburu-buru. Banyak kesalahpahaman bukan karena kurangnya informasi, tetapi karena kurangnya klarifikasi. Karena yang merusak komunikasi bukan perbedaan pendapat, melainkan perbedaan penafsiran yang tidak ditelusur dengan teliti.

Sebab itu perlu untuk membangun kedewasaan komunikasi. Bukan hanya terampil berbicara, tetapi juga bijak menafsirkan; bukan hanya cepat merespons, tetapi cermat memahami; bukan hanya ingin dimengerti, tetapi bersedia memahami.

Karakter dibentuk, kepemimpinan ditempa lewat komunikasi matang yang lahir dari kesadaran bahwa setiap kata memiliki kemungkinan makna, dan setiap makna membutuhkan kebijaksanaan dalam menafsirkannya.

Keberhasilan seseorang di ruang publik, di dunia akademik, maupun dalam kehidupan bermasyarakat, sangat ditentukan bukan oleh seberapa banyak ia berbicara, tetapi oleh seberapa dalam ia memahami makna di balik setiap percakapan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan