Seorang mahasiswa ketika diberi tugas oleh dosennya menyusun suatu makalah dengan topik tertentu, dalam waktu singkat tugaspun selesai. Tentu saja berkat bantuan AI. Salahkah upaya yang dilakukan sang mahasiswa?
Tak dapat dipungkiri perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan mencuatkan perbincangan baru tentang perubahan cara manusia berpikir. Kita semua sangat menikmati ketika AI bekerja sempurna untuk merapikan yang rumit, menyederhanakan yang kompleks yang kita hadapi. AI memberi solusi cepat, seolah jarak antara rasa ingin tahu dan jawaban kini hanya sejauh sentuhan jari di piranti genggam yang di tangan.
Jika ditelaah, René Descartes mengatakan “cogito, ergo sum (Saya berpikir, maka saya ada). Meski ini upaya Descartes mencari kebenaran yang tidak dapat diragukan. Ia mencoba meragukan segala sesuatu: pengetahuan, pengalaman indra, bahkan keberadaan dunia di sekitarnya. Sederhananya ia mengemukakan logikanya :
Jika aku meragukan sesuatu, berarti aku sedang berpikir.
Jika aku berpikir, berarti ada “aku” yang berpikir.
Karena itu, keberadaanku sebagai subjek yang berpikir tidak dapat disangkal”
“Cogito, ergo sum” bukan sekadar pernyataan bahwa manusia memiliki pikiran. Ia merupakan pengingat bahwa keberadaan manusia memperoleh makna melalui kesadaran, perenungan, dan kemampuan memahami dirinya sendiri. Dengan kata lain: Manusia tidak hanya hidup karena bernapas, tetapi juga karena berpikir, menyadari, dan memaknai kehidupannya.
Dengan munculnya AI, seakan eksistensi manusia dapat ditentukan oleh kemampuan mesin, kemampuan berpikir justru seakan ditantang. Sehingga muncul perbincangan perubahan dari ” Homo Cogitans,-manusia yang berpikir, menjadi “Homo Algorithmicus”-manusia yang dipandu algoritma, sebagai gambaran dua kecenderungan manusia dalam mengolah informasi dan mengambil keputusan.
Ternyata manusia bisa tunduk pada mesin. Hal ini banyak dikuatirkan. Bahkan pemimpin Vatikan, Paus Leo XIV baru-baru ini mengeluarkan ensiklik (surat edaran resmi) pertamanya yang bertajuk “Magnifica Humanitas”
(Kemanusiaan yang Agung) yang berfokus penuh pada peringatan etis terhadap bahaya Kecerdasan Buatan (AI)
Di era digital dan kecerdasan buatan, Homo algorithmicus memperoleh makna baru. Ketika banyak keputusan dibantu algoritma, manusia tetap perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Kemajuan AI tidak boleh membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan, martabat, maupun peran sosial mereka. Pekerjaan lebih dari sekadar sumber penghasilan; ia adalah bagian dari martabat manusia.
Penting diingat agar tidak terjadi eksploitasi manusia melalui teknologi. Dengan demikian, kesadaran berpikir menjadi bukti paling mendasar tentang keberadaan diri manusia.
Di era digital dan kecerdasan buatan, ungkapan Homo algorithmicus ini memperoleh makna baru. Ketika banyak keputusan dibantu algoritma, manusia tetap perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Jika Homo Algorithmicus cenderung mengikuti rekomendasi sistem, maka semangat Cogito, ergo sum dalam Homo Cogitans mengingatkan bahwa manusia tetap harus menggunakan akal budinya sendiri.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)
.







