Teringat ulang masa duduk di Sekolah Rakyat (SR) yang kini beralih nama menjadi Sekolah Dasar (SD). Pelajaran sejarah Indonesia merupakan mata pelajaran yang saya senangi. Salah satu cerita yang masih melekat dalam ingatan adalah Legenda Aji Saka.
Kisah ini berkaitan dengan asal-usul aksara Jawa. Saya masih ingat bagaimana Pak Guru Alimin, yang sangat mencintai budaya Jawa dan wayang kulit, menyampaikannya dengan penuh penghayatan sehingga menarik untuk disimak.
Masih segar dalam ingatan ketika kami bersama-sama diajak melafalkan bunyi aksara Jawa yang diciptakan oleh Aji Saka yang tidak hanya sekadar huruf, tetapi juga menyimpan cerita dan makna mendalam.
Ha Na Ca Ra Ka: Ana utusan (Ada utusan).
Da Ta Sa Wa La: Padha kekerengan (Saling berselisih).
Pa Dha Ja Ya Nya: Padha didhayane (Sama-sama sakti).
Ma Ga Ba Tha Nga: Padha dadi bathange (Sama-sama menjadi mayat).
Legenda Aji Saka juga mencerminkan masuknya ajaran Hindu-Buddha ke Pulau Jawa. Dalam konteks sejarah, aksara Jawa terinspirasi dari aksara Pallawa yang berasal dari India. Kedatangan Aji Saka sering diasosiasikan dengan kedatangan peradaban dan nilai-nilai Dharma ke Nusantara.
Dalam Legenda dikisahkan seorang pemuda bernama Aji Saka pengembara dari India melakukan perjalanan mengunjungi berbagai negeri untuk memperluas ilmu dan pengalaman. Ia ditemani dua orang pelayannya bernama Dora dan Sembada.
Setelah melakukan perjalanan panjang, sampailah mereka ke Nusantara, wilayah subur dan kaya akan keindahan alam.
Di Pulau Majeti, tempat mereka pertama kali mendarat, Aji Saka meminta Sembada salah satu pelayannya tinggal menjaga keris pusaka miliknya dengan pesan : Keris itu hanya boleh diserahkan kepada Aji Saka sendiri. Selanjutnya, Aji Saka bersama Dora melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa.
Di pulau Jawa Aji Saka bertemu dengan Prabu Dewata Cengkar, seorang raja lalim yang gemar memakan daging manusia. Kemudian raja ini ditantangnya dan berhasil mengalahkannya. Aji Saka pun menggantikan Prabu Dewata Cengkar menjadi raja.
Teringat akan keris pusaka yang dititipkan pada Sembada,
Aji Saka meminta Dora untuk kembali ke Pulau Majeti dan mengambil keris pusaka itu.
Namun, Sembada menolak menyerahkan keris tersebut. Ia bersikeras memegang amanah dan mematuhi pesan awal dari Aji Saka. Akibatnya, terjadi pertempuran sengit antara Dora dan Sembada. Keduanya sama-sama sakti, tidak ada yang mundur hingga akhirnya keduanya tewas. Ketika Aji Saka mendengar kabar kematian mereka, ia sangat menyesal. Sebagai penghormatan terhadap pengorbanan Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan aksara Jawa.
Sebagai cerita rakyat, legenda ini mengandung pesan moral tentang kesetiaan, amanah, dan tanggung jawab. Namun dari sudut pandang sejarah, asal-usul aksara Jawa memiliki penjelasan yang berbeda.
Catatan sejarah menunjukkan tulisan Jawa kuno berakar dari aksara Pallawa dari India Selatan. Masuk ke Nusantara pada abad ke-4. Dibawa oleh pedagang dan pendeta Hindu-Buddha. Bentuk awalnya sangat kental dengan pengaruh India, seperti yang ditemukan pada Prasasti Yupa di Kutai dan Prasasti Canggal di Jawa Tengah.
Kemudian aksara ini berkembang menjadi aksara Kawi pada abad ke-8 hingga ke-16 M. Masyarakat lokal mengadaptasinya melalui local genius sehingga menjadi sistem penulisan yang khas seperti yang dikenal saat ini.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Aji Saka sebagai fakta sejarah, legenda tersebut telah menjadi bagian penting dari ingatan budaya masyarakat Jawa. Melalui rangkaian aksara Hanacaraka, generasi demi generasi tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga mewarisi nilai kesetiaan, amanah, dan pengorbanan yang terkandung dalam kisah Dora dan Sembada. Di situlah legenda dan sejarah bertemu: legenda memberi makna, sedangkan sejarah memberi penjelasan.
Aksara ini tidak hanya digunakan untuk menulis, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan alat komunikasi yang penting pada masa itu. Dalam berbagai prasasti kuno, aksara Jawa digunakan untuk mencatat peristiwa penting, hukum, serta ajaran keagamaan. Bentuk yang lebih baku dan standar, seperti yang populer dengan baris “Hanacaraka” (Ada Utusan), yang biasa diajarkan sebagai muatan lokal.
Legenda Aji Saka menjelaskan secara simbolis lahirnya rangkaian Hanacaraka yang dikenal masyarakat Jawa, sementara secara historis perkembangan aksara Jawa berakar pada aksara Pallawa dan aksara Kawi yaitu bentuk yang lebih tua. Istilah “Hanacaraka” yang dikenal sekarang lebih merupakan bentuk aksara Jawa modern.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)







