MENJADI GURU BAGI ORANG LAIN

Terbaru28 Dilihat

Ada pepatah Jawa kuno berbunyi: “Guru, Ratu, Wong Atua Karo, Wajib Disembah”.
Ungkapan ini artinya guru, pemimpin (ratu), dan kedua orang tua (wong atua karo) wajib dihormati dan dipatuhi (disembah) untuk mendapatkan kebahagiaan serta keselamatan di dunia dan akhirat.

Khusus untuk guru ada istilah lain dalam bahasa Jawa yang mengatakan itu singkatan dari “Digugu lan ditiru”. Digugu itu dipatuhi. Di tiru diteladani.
Guru adalah seseorang yang tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Secara formal dikenal pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Seorang guru dikenal penuh dedikasi dan pengorbanan. Sering dikatakan sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Terlepas dari apakah imbalan yang diterima dari pengorbanan dan dedikasinya itu setimpal atau tidak. Penghargaan tetap dijunjung tinggi. Ini yang dikatakan oleh Iskandar Yang Agung atau Alexander the great:
“I am indebted to my father for living but to my teacher for living well”. –Aku berutang kepada ayahku untuk hidup, tetapi kepada guruku untuk hidup dengan baik. Itu pernyataannya yang menunjukkan rasa hormatnya kepada ayahnya, Philip II of Macedon, dan gurunya, nAristotle.

Makna kutipan perkataan Alexander the great ini menegaskan dua sumber pembentukan manusia:
Orang tua yang memberi kehidupan biologis. Dari ayah dan juga ibu, seseorang menerima keberadaan, identitas awal, serta nilai-nilai dasar. Sedangkan seorang
guru memberi arah dan kualitas kehidupan.

Guru tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan. Ia membina seseorang bukan hanya untuk hidup, tetapi hidup dengan baik dan bermakna.
“Hidup” adalah soal eksistensi.
“Hidup dengan baik” adalah soal kualitas karakter dan kebijaksanaan.

Kutipan ini di tengah kehidupan mada kini semakin terasa relevasinya. Ia mengandung beberapa pesan
penting antara lain:
Guru yang membina bukan sekadar mentransfer ilmu. Bukan pula hanya mengajarkan materi, tetapi pembentuk karakter. Semua guna membekali anak didik guna
mengembangkan integritas,
menumbuhkan tanggung jawab, memiliki visi hidup serta
agar mampu membedakan benar dan salah.

Kualitas hidup dibentuk bukan karena ilmu semata. Ilmu tanpa nilai bisa melahirkan kecerdasan tanpa arah.
Seorang guru yang konsisten, etis, dan memberi teladan akan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada sekadar nilai akademik. Karena itu hormati peran orang tua dan guru secara proporsional. Keduanya memiliki kontribusi berbeda namun sama-sama fundamental.

Setiap orang pada waktunya akan menjadi teladan—bagi anak, mahasiswa, rekan kerja, atau komunitas. Maka pertanyaannya: Apakah kehadiran kita membuat orang lain hanya “hidup”, atau membantu mereka “hidup dengan baik”? Karenanya jadilah “guru” bagi orang lain.

Pada dasarnya kehidupan  adalah anugerah, tetapi kualitas kehidupan adalah hasil pembinaan dan didikan. Tujuan akhirnya bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang mampu hidup dengan baik—berkarakter, berintegritas, serta memberi manfaat bagi sesama.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan