PEMBINAAN BUKAN SEKEDAR MENGISI BOTOL KOSONG

Terbaru23 Dilihat

Guna meningkatkan kompetensi profesionalisme yang meluputi Pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi kinerja seseorang, lazimnya dilakukan pembinaan. Pembinaan berasal dari kata bina yang berarti membangun atau membarui.

Suatu pembinaan merupakan upaya bersifat sistematis, berkesinambungan, dan bertujuan menyempurnakan apa yang sudah ada dalam diri setiap insan. Pada dasarnya bukanlah menciptakan pribadi baru, melainkan membantu setiap orang menjadi wujud terbaik dari dirinya sendiri. Karenanya melibatkan perencanaan dan pengendalian terstruktur.

Galileo Galilei mengatakan:
“We cannot teach people anything, we can only help them discover it within themselves.”– Kita tidak bisa mengajarkan apa pun kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukannya di dalam diri mereka sendiri”. Kata-kata Galileo ini menegaskan bahwa proses belajar itu sejatinya bukanlah proses “mengisi gelas kosong”, itu proses ibarat “menyalakan pelita”. Mengajar seseorang tidak sekedar menjejalkan Pengetahuan dengan menyampaikan materi, melainkan sekaligus menghayatkan apa yang diajarkan. Pengetahuan tidak sekadar ditransfer dari pengajar kepada peserta didik, tetapi peserta didik dibangkitkan dari kesadaran, mendalami pengalaman, dan melakukan refleksi pribadi.

Dalam konteks pembinaan, pembina bukanlah pusat kebenaran, melainkan seorang Nara sumber, motivator dan fasilitator pertumbuhan. Ia tidak memaksakan pemikiran, tetapi membuka ruang dialog. Ia tidak mendikte, tetapi menuntun. Ia tidak membentuk dengan tekanan, tetapi membimbing dengan pertanyaan.

Karena kesadaran lebih penting daripada instruksi. Nilai integritas, tanggung jawab, dan kedisiplinan tidak akan tumbuh karena ceramah panjang, tetapi karena kesadaran pribadi yang muncul dari refleksi.

Pembina yang baik melakukan probing dengan pertanyaan-peetanyaan yang menggugah guna menggali potensi lebih dalam, semisal: Mengapa kamu memilih sikap itu? Apa konsekuensinya? Nilai apa yang sedang kamu pertahankan? Pertanyaan seperti ini membantu peserta didik menemukan jawaban dari dalam dirinya.

Setiap individu memiliki potensi laten. Karena itu tugas pembinaan adalah membantu seseorang mengenali potensi, bukan menciptakannya dari nol. Karakter itu tidak dipaksakan dari luar; ia dibangun dari dalam.

Proses pembinaan membawa Implikasi praktis antara lain
menggunakan metode reflektif dan diskusi, bukan hanya ceramah satu arah. Mendorong peserta menulis pengalaman dan pelajaran hidupnya. Menggunakan studi kasus yang memancing analisis dan kesadaran nilai serta menciptakan ruang aman agar peserta berani menyampaikan pandangan tanpa takut dihakimi.

Sejatinya pembinaan sejati adalah proses membangunkan, bukan memaksakan. Seorang pembina yang efektif memahami bahwa perubahan yang bertahan lama selalu lahir dari kesadaran internal. Keberhasilan suatu pembinaan bukan diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi dari seberapa dalam peserta menemukan makna bagi dirinya sendiri. Ketika seseorang menemukan kebenaran dari dalam dirinya, ia tidak hanya mengerti—ia akan menghayati dan menghidupinya.

Sekali lagi pembinaan bukanlah proses memindahkan pengetahuan dari satu kepala ke kepala yang lain. Ia bukan sekadar penyampaian materi, bukan pula sekadar forum ceramah yang penuh nasihat. Suatu proses membangunkan kesadaran perjalanan menemukan makna dari dalam diri.

Setiap pribadi sesungguhnya telah memiliki potensi, nilai, dan benih kebijaksanaan. Namun potensi itu sering tertutup oleh kebiasaan, lingkungan, tekanan sosial, atau ketidaksadaran. Di sinilah peran pembinaan menjadi penting: bukan untuk mengisi, tetapi untuk menggali; bukan untuk memaksa, tetapi untuk memantik; bukan untuk menggurui, tetapi untuk menuntun.

Peserta didik tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang harus menerima, melainkan sebagai subjek yang aktif berpikir, bertanya, dan menemukan. Nilai yang ditemukan sendiri akan jauh lebih kuat daripada nilai yang hanya didengar. Pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kedewasaan berpikir hanya akan efektif jika lahir dari kesadaran internal. Perubahan yang dipaksakan dari luar biasanya bersifat sementara. Namun perubahan yang tumbuh dari dalam diri akan menjadi prinsip hidup.

Pembinaan membuka ruang belajar bersama—ruang untuk berdialog, merefleksi, dan menemukan kembali nilai-nilai yang sesungguhnya telah ada dalam diri setiap insan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

 

Tinggalkan Balasan