HABISKAN ISI PIRINGMU

Terbaru148 Dilihat

Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sehari, ada pedomannya.  Dikeluarkan oleh
Kementerian Kesehatan. Untuk apa? untuk mengampanyekan konsumsi makanan yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Diberi judul “Isi Piringku”. Ini menggantikan semboyan “4 Sehat 5 Sempurna yang melegenda sejak tahun 50an.

Pedoman Gizi Seimbang
bukan hanya mengatur jenis makanan dan minuman yang seharusnya dikonsumsi setiap kali makan. Tetapi juga menyampaikan  informasi terkait porsi yang sebaiknya dikonsumsi. Diwujudkan dalam slogan “Isi Piringku” agar bisa memenuhi kebutuhan gizi dalam satu hari.

Bicara soal porsi, tentu secara individu bisa beragam. Dalam “Isi Piringku” porsi ini distandarkan. Meski demikian tetap saja tidak tertutup kemungkinan ada sisa (waste). Sepintas, dilihat secara individu, tidak jadi masalah jika “isi piringku” itu tak habis dimakan atau bersisa.

Tetapi nanti dulu. Bappenas dalam publikasinya tahun 2021 mencatat 1 orang penduduk Indonesia mempunyai andil membuang pangan setara 1-2 kwintal per tahunnya.

Ada juga catatan lain yang menunjukkan secara keseluruhan dihitung-hitung
Food loss and waste(FLW) mencapai 23-48 juta ton per tahun. Ini per jiwa dikatakan menyumbang pemborosan 115-184 kg per tahun.

Lebih jauh Food and Agriculture Organization (FAO), menyatakan secara global sepertiga dari pangan yang diproduksi atau sekitar 1,3 miliar ton pangan terbuang setiap tahunnya.  Pada tahun 2024, dari total timbunan sampah saja ditemukan ada sekitar 40% sisa makanan yang ditemukan (SIPSN, 2024).

Menyadari tingginya tingkat makanan tersisa dan terbuang ini tentu merupakan kehilangan yang begitu besar. Karenanya ada Aksi penyelamatan pangan. Maksudnya untuk mencapai salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu mengurangi 50% “food waste ” di tingkat ritel dan konsumen serta ‘food loss” di tahap produksi dan distribusi. Selain penyelamatan  pangan diharapkan juga tercipta masyarakat tanpa kelaparan.

Karena jika saja kehilangan makanan lewat sisa-sisa yang dikonsumi dapat dicegah atau setidaknya dikurangi, diperkirakan dampaknya tidak akan terlalu parah.

Mengapa demikian? Hasil telaahan menunjukkan  sisa dari 125 juta orang jika dikumpulkan dapat memberi makan setara 47% populasi Indonesia. Dari sisi ekonomi konon nilainya diperkirakan sebesar Rp. 551 Triliun per tahun. Kehilangan ini setara dengan 4%-5% PDB Indonesia.

Informasi lain menjelaskan pangan yang berpotensi terbuang jika terselamatkan dapat memberi makan sekitar 61-125 juta orang atau setara 29-47% populasi Indonesia.

Pemborosan dan kehilangan pangan ini terjadi akibat berbagai hal. Dari mulai produksi sampai tingkat konsumsi. Produksi berlebih, kurangnya efisiensi dalam rantai pasokan, penyimpanan yang buruk, perilaku konsumen yang tidak bijak, serta kurangnya kesadaran akan nilai makanan dan banyak lagi.

Miris juga jika melihat  kenyataan kondisi di Indonesia khususnya. Di satu sisi ada makanan terbuang, di sisi lain   ada masyarakat yang kebutuhan pangannya belum seluruhnya terpenuhi.

Peta FSVA Badan Pangan Nasional, tahun 2024 memaparkan sebanyak 62 kabupaten/kota termasuk dalam kelompok daerah rentan rawan pangan .

Belum lagi menurut laporan Bappenas pada tahun 2021, ada masalah emisi gas rumah kaca Indonesia yang mencapai angka 7,29%. Emisi gas rumah kaca ini berdampak juga pada perubahan iklim (climate change) yang mempengaruhi curah hujan. Pada gilirannya berdampak terhadap produktivitas  tanaman pertanian untuk penyediaan pangan. Jika ini terjadi jalan menuju  lemahnya ketahanan pangan pun terkuak lebar.

Menu yang tak cocok selera juga akan bersisa. Hindari mengambil makanan dalam porsi yang terlalu besar dan tidak menghabiskannya. Itu menjadi penyebab umum pemborosan. Karenanya sikat bersih tanpa sisa isi piringmu.

Hati-hati juga dengan cara menyimpan makanan atau bahan makanan. Jika tidak tepat akan rusak dan dibuang. Kesemuanya menyebabkan pemborosan. Makanlah dengan bersyukur, karena tidak semua orang memiliki akses untuk makanan yang cukup.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan