SECERCAH PENYESALAN

Terbaru162 Dilihat

Pagi itu jarum jam belum lagi menunjukkan pukul 07.00. pagi. Sudah jadi satu kebiasaan saya setiap hari untuk membawa Kido anjing kesayangan untuk berjalan-jalan di seputar komplek perumahan tempat saya tinggal.

Pagi itu memang cerah, udara segar mengelus wajah dengan lembut. Setelah berjalan berkeliling selama lebih kurang 15 menit, di pos keamanan komplek di salah satu pojok jalan terlihat seorang pemulung sedang sarapan. Ia menyantap nasi bungkus.

Ketika saya sampai di pos tersebut terlihat bapak setengah baya itu memegang-megang lehernya. Ketika saya tanya ia menjawab dengan tersedat-sendat.: “keseretan pak” jawabnya: tidak punya air minum”

Memang terlihat wajahnya sedikit meringis, sedikit memerah. Rupanya ada makanan ditenggorokannya yang tersangkut. Saya pun bingung karena tak membawa uang untuk membeli air kemasan.

Tak terpikir sedikit pun untuk pergi ke rumah kawan atau tetangga yang letaknya tak jauh dari situ untuk meminta segelas air minum. Saya hanya berdiri dengan tercenung, tak tahu harus berbuat apa.

Tak lama bapak itu berdiri dan pergi, mungkin mencari air minum.

Saya terhentak menyesali diri. Tak sedikitpun terlintas pikiran untuk melakukan usaha menolong sang bapak yang dalam kesulitan.

Penyesalan itu cukup lama melekat di benak. Ada perasaan miris menyelinap di hati yang membisikan kata:”untuk masalah begitu saja kau tak mampu berbuat apa-apa”. Secercah penyesalan itu tinggal dalam ingatan selama beberapa hari dan tak akan mudah terlupakan.

Teringat kata-kata bunda Theresa “Tebarkanlah cinta kemanapun engkau pergi. Jangan biarkan seorangpun yang datang menemuimu tanpa lebih bahagia ketika pergi meninggalkanmu”
(Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan