Belajar bisa dari mana, dimana dan kapan saja. Karena belajar itu satu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mau menjadi mau dan dari tidak mampu menjadi mampu.
Suatu kata dalam berbagai budaya, sering menjadi sumber belajar bijak yang sederhana, namun maknanya mendalam. Semisal kata “Honne” dan “Tatemae” dalam budaya Jepang. Dua konsep yang menarik.
Honne adalah isi hati, pikiran, atau pendapat yang sesungguhnya. Tatemae cara seseorang menampilkan diri di ruang publik dengan mempertimbangkan norma, kesopanan, dan keharmonisan sosial. Sekilas keduanya tampak bertentangan, padahal justru saling melengkapi.
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari kedua konsep ini adalah kejujuran tidak harus diwujudkan dalam kata-kata yang kasar, dan kesantunan tidak boleh menjadi alasan untuk menyembunyikan kebenaran. Keberanian (honne) harus dibingkai oleh kebijaksanaan (tatemae). Dengan demikian, seseorang mampu menyampaikan kritik tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa mempermalukan, dan berbeda pendapat tanpa menciptakan permusuhan.
Di negeri kita dewasa ini, ditengah derasnya arus informasi lewat media sosial, menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ruang publik dipenuhi berbagai pendapat, kritik, dan perdebatan. Kerap kali menunjukkan keseimbangan antara kebijaksanaan dalam menjaga harmoni, keberanian berkata benar namun santun, mulai terganggu. Yang sering hilang bukanlah keberanian untuk berbicara, melainkan kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran.
Media sosial mendorong banyak orang berbicara spontan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Sebaliknya, di berbagai institusi masih ditemukan budaya “asal bapak senang”, enggan menyampaikan fakta demi menjaga kenyamanan. Dua sikap tersebut sama-sama merugikan. Yang pertama merusak persaudaraan, sedangkan yang kedua menghambat perbaikan. Kita melihat dua kecenderungan yang sama-sama tidak sehat: ada yang memilih diam meskipun mengetahui adanya penyimpangan, dan ada pula yang berbicara tanpa kendali hingga melukai martabat orang lain.
Sejatinya membangun bangsa bukan hanya soal menyusun kebijakan atau membangun infrastruktur. Membangun bangsa juga berarti membangun budaya komunikasi yang sehat. Budaya yang menjadikan kejujuran sebagai fondasi dan kebijaksanaan sebagai cara. Sebab, kebenaran yang disampaikan dengan kasih akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kebijaksanaan yang berpijak pada kebenaran akan melahirkan perubahan. Itulah hikmah yang dapat dipetik dari budaya negeri Sakura ” Honne” dan “Tatemae”- beranilah berkata benar, tetapi sampaikanlah dengan cara yang membangun. Sebab, tujuan akhir dari satu kebenaran bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan menghadirkan perbaikan bagi kehidupan bersama.
(Abraham Raubun. B.Sc, S Ikom)






