RUMINASI PEMIKIRAN NEGATIF YANG BERULANG

Terbaru59 Dilihat

Merasa cukup dengan apa yang sudah diketahui memang bukan sikap bijak. Karena bisa menjadikan seseorang yang tidak “teachable” alias tidak mau belajar. Tidak mau belajar dari pengalaman atau sesuatu yang baru. Bahkan tidak mau berpikir ulang jika menerima masukan untuk mengoreksi tindakan yang dilakukan.

Padahal berpikir ulang itu penting. Berpikir ulang artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan kembali atau meninjau kembali gagasan, keputusan, atau masalah dengan lebih mendalam.  Mengubah pikiran atau pandangan setelah mendapatkan perspektif baru, menimbang-nimbang kembali dengan hati-hati, dan mengevaluasi kembali pemikiran awal. Selama hal yang dipikirkan ulang itu hal positif, tidak jadi masalah.

Tetapi jika hal negatif yang dipikirkan berulang-ulang, ini mengundang masalah. Namanya “ruminasi” dalam psikologi.  Ini siklus pemikiran negatif yang berulang. Membelenggu seseorang terpaku pada masalah atau perasaan buruk di masa lalu. Hal yang dapat menjerumuskan seseorang dalam kondisi berupa depresi atau kecemasan.

Terjadi ketika pikiran tak henti-hentinya mengulang hal yang sama. Sangat mengganggu. Peristiwa negatif, masalah, atau emosi terus menghempas tanpa menemukan solusi yang jelas. Hal ini sering dikaitkan dengan gangguan suasana hati seperti depresi dan kecemasan.

Kesalahan yang dilakukan terus-menerus kepikiran. Kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan, atau hasil buruk dari suatu keputusan seakan tak lepas dari ingatan.

Faktor penyebabnya bisa beragam. Bisa sikap
Perfeksionisme  yang takut membuat kesalahan dan cenderung memikirkan setiap kekurangan secara berlebihan.

Ada juga trauma masa lalu. Pengalaman traumatis yang belum terselesaikan bisa kembali dipikirkan secara berulang tak berkesudahan.

Kecemasan dan depresi. Kedua kondisi ini memperkuat kecenderungan untuk merenung berlebihan.

Tak dapat disangkal kebiasaan berpikir negatif  menghasilkan pola pikir pesimistis,  membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam ruminasi pikiran yang negatif.

Ciri-cirinya bisa ditandai dengan pikiran yang terus-menerus kembali ke peristiwa negatif, sulit untuk “move on” dari kesalahan atau pengalaman buruk, merasa terjebak dalam pola pikir yang sama, sering menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.

Jika ruminasi terjadi bukan hanya tidak produktif, tapi juga bisa berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik. Risiko depresi bertambah tinggi karena fokus terus tertuju pada hal-hal negatif menggerogoti diri.

Bagaimana mungkin dapat berkonsentrasi dan fokus bahkan insomnia yang mungkin ada. Akhirnya melemahkan rasa percaya diri karena terus menyalahkan diri sendiri. Melakukan pemecahan masalah dengan baik tak dapat diharapkan.

Lalu bagaimana mengatasinya ?  Langkah awaltemukenali kapan hal negatif yang dipikirkan muncul dan hal yang sama mulai terulang dalam pikiran. Itu penyebab awal pola pikir ruminatif. Perlu segera dialihkan. Aktivitas fisik apakah berjalan kaki, atau olahraga ringan, untuk memecah pola pikir yang berulang dapat menolong.

Menulis termasuk yang dianjurkan. Itu berarti menuliskan pikiran. Ini membantu mengeluarkan pikiran dari kepala dan melihatnya secara lebih objektif.

Latihan kesadaran mindfulness dan meditadi membantu fokus dan menghentikan aliran pikiran negatif yang berulang.

Curhat pada seseorang yang dipercaya atau profesional, konseling dan terapi  bisa sangat membantu, terutama jika ruminasi sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Ruminasi jelas pola berpikir yang bisa menjebak dalam lingkaran negatif. Meskipun terasa sulit untuk dihentikan, mengenali dan memahami ruminasi adalah langkah pertama untuk keluar dari jeratnya. Dengan latihan dan dukungan yang tepat, pikiran bisa menjadi lebih sehat dan fokus pada solusi, bukan hanya pada masalah yang memenuhi pikiran dan hati.

Ada istilah berpikir ulang (re-thinking) dan refleksi diri (self-reflection). Memang keduanya sama-sama melibatkan aktivitas berpikir, namun tujuan dan kedalamannya bisa berbeda.

Berpikir ulang dilakukan untuk mengevaluasi kembali keputusan, pendapat, atau tindakan. Tujuannya bisa sesederhana mempertimbangkan ulang pilihan,  hingga mengubah sudut pandang atas suatu hal. (misalnya mau pergi atau tidak ya?).

Berpikir Ulang fokus pada keputusan atau tindakan. Bisa menghasilkan keputusan yang lebih baik atau pandangan yang lebih logis.

Sedangkan Refleksi Diri  lebih mendalam dan bersifat introspektif. Tujuannya  memahami diri sendiri — motivasi, nilai, emosi, dan bagaimana pengalaman membentuk diri pribadi.

Refleksi Diri fokus pada diri sendiri  terkait pikiran, emosi, nilai, dan pertumbuhan pribadi.
Menggali lebih jauh masuk ke dalam pikiran dan perasaan. Menghasilkan pemahaman diri yang lebih dalam, membantu perkembangan pribadi dan emosi.

Bisakah keduanya saling melengkapi? Bisa saja
keduanya  saling melengkapi. Seseorang bisa berpikir ulang atas suatu keputusan, lalu melakukan refleksi diri untuk memahami mengapa membuat keputusan tersebut sejak awal.

Ada kata bijak mengatakan:
“Jangan pernah menyesali keputusanmu, tapi jadikan itu pelajaran untuk langkah selanjutnya,” Karena itu jangan mengambil keputusan saat sedang emosinal karena keputusan yang diambil saat emosi itu tidak pernah berakhir baik.”

Pikiran yang kusut tidak akan mampu mengambil keputusan yang jernih. Ambil langkah surut dan tenangkan pikiran sebelum mengambil keputusan.

Berpikir ulang dan merekfleksi diri tentu ruminasi tak akan menghampiri atau terjadi. Mungkin ini bukan hal yang mudah dalam kehidupan, tetapi bukan juga berarti hal yang mustahil untuk dilakukan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom,)

Tinggalkan Balasan