KATA “BOSS” DAN “BAWAHAN DALAM AMBANG BAWAH SADAR

Terbaru139 Dilihat

Kata “Boss” dan “bawahan” erat kaitannya dengan soal kepemimpinan atau “leadership” di dunia nyata.

Kata “boss” dan “bawahan” banyak diucapkan secara tidak sadar. Sering digunakan tanpa berpikir panjang atau nalar. Spontan meluncur dalam suatu percakapan yang beredar ataupun berkelakar.

Namun ada yang mengatakan kedua kata itu dalam alam bawah sadar menggiring kearah sikap kepemimpinan yang tidak pada tempatnya.

Di baliknya tersimpan makna yang membentuk cara pandang. Di ambang bawah sadar, kata-kata itu membentuk pola hubungan: yang satu merasa di atas, yang lain merasa di bawah.

Kata “boss” memberi kesan berkuasa, sementara “bawahan” lebih sering menandakan posisi bagi seseorang yang harus tunduk. Dari sini meresap lambat melahirkan jarak lembut antara atasan dan karyawan. Muncul jarak emosional, halus tapi nyata, yang sering menjadi sumber miskomunikasi dan ketidakharmonisan di tempat kerja.

Kata “boss” kesannya penguasa, pemilik keputusan mutlak. Sementara “bawahan” membawa beban rasa patuh, bahkan takut untuk berpendapat.

Kerja produktif tumbuh dari kebersamaan dan saling menghargai, bukan dari rasa takut atau jarak hierarki.

Pemimpin sejati bukan yang memerintah, tetapi yang melayani dan menumbuhkan potensi yang dimiliki orang lain. Sedangkan karyawan yang matang bukan yang sekadar patuh, melainkan yang berpikir dan berinisiatif.

Keativitas sering tersumbat di meja kerja, inisiatif terkubur dalam diam berkepanjangan.
Tak dapat disangkal, dunia kerja modern mutlak menuntut kolaborasi, bukan dominasi.

Pemimpin yang bijak paham jabatan itu bukan simbol kekuasaan. Itu amanah membuka kesempatan orang lain bertumbuh dan berkembang. Ia sadar, kehebatan team bukan lahir dari kepatuhan semata, melainkan dari rasa dihargai dan dilibatkan bersama. Karena “Team” itu bermakna: Together Every one Achieve More”- Bersama setiap orang menghasilkan hal luar biasa”

Sebaliknya, seorang pekerja yang matang tidak merasa rendah karena posisi, tapi justru berkontribusi dengan tanggung jawab dan semangat belajar yang tinggi.

Kata itu mungkin sederhana, tetapi di ambang bawah sadar, ia membenamkan nilai.
Karena pada dasarnya
“Pemimpin sejati bukan yang membuat orang lain merasa kecil, tetapi yang membuat setiap orang merasa penting.”

Memang mungkin kedua kata “Boss” dan “Bawahan” tak bisa serta merta dihapus atau dihilangkan begitu saja. Tetapi bisa ditata maknanya dalam diri dan rasa. Sebab di ambang bawah sadar, kata-kata bukan sekadar bunyi, ia membentuk cara pandang, dan sikap hidup. Keduanya terwujud utuh membentuk budaya.

Karena itu bijaklah melihat diri dalam peran kepemimpinan. Hal ini hendaknya dilihat sebagai “Pencipta pertumbuhan dan proses belajar dalam diri sendiri dan yang dipimpin”. Menggeser makna “Boss” menjadi “COGAL” Creator of Growth And Learning.
demikian tertulis dalam buku “The Effective Leader”nya Rupert Eales White.
(Abraham Raubun. B Sc, S Ikom)

Tinggalkan Balasan