Pepatah atau paribasan dalam budaya Jawa bukan sekadar kata-kata kiasan. Itu jadi pedoman hidup atau pitutur untuk menjaga keharmonisan, etika, dan keseimbangan jiwa. Juga dapat menjadi metafora tentang regenerasi yang sehat: menghargai akar sejarah, menjaga nilai-nilai luhur, tetapi tidak takut menumbuhkan sesuatu yang baru.
Berasal dari kata tunggak dan semi.Tunggak berarti pangkal batang pohon atau tunggul pohon yang tersisa setelah pohonnya ditebang. Semi berarti tumbuh tunas baru atau mulai bersemi kembali. Kata Nunggak” menunjukkan proses.
Nunggak semi menggambarkan tunggul pohon yang masih mampu menumbuhkan tunas baru. Meskipun pohon induknya telah ditebang atau tidak lagi berdiri, kehidupannya ternyata belum berakhir. Ada tunas yang tumbuh sebagai kelanjutan kehidupan sebelumnya.
Secara filosofis menggambarkan kesimbungan generasi atau regenerasi dan keberlanjutan. Ada generasi penerus yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan warisan yang telah dibangun. Juga dapat menggambarkan harapan setelah kehilangan. Sesuatu yang tampaknya telah berakhir belum tentu benar-benar selesai. Selalu ada kemungkinan tumbuhnya kehidupan baru dari sesuatu yang tersisa.
Ada pesan menarik yang dapat direnungkan dari ungkapan Nunggak Semi ini. Jangan hanya meninggalkan tunggul, tetapi tumbuhkan tunas. Tunggul tanpa tunas hanyalah sisa masa lalu. Sebaliknya, tunggul yang menumbuhkan tunas menunjukkan bahwa kehidupan masih memiliki masa depan.
Nunggak semi mengajarkan keberhasilan suatu generasi bukan hanya terletak pada apa yang telah dibangunnya. melainkan juga pada kemampuan menumbuhkan generasi berikutnya. Karenanya seseorang dikatakan punya sikap Nunggak Semi, di manapun ia ditempatkan ia mampu menumbuhkakan kehidupan dengan suDana baru yang penuh harapan.
Masa lalu adalah akar, masa kini adalah batang, dan masa depan adalah tunas yang harus terus ditumbuhkan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)











