PANTUN

Warisan Sastra Lisan, Cermin Kebijaksanaan, dan Identitas Budaya Nusantara

Terbaru14 Dilihat

Siang itu Bus Trans Jakarta melaju lancar di jalur khusus. Tak heran kalau masyarakat lebih nyaman menyebut alat transportasi ini dengan sebutan :”Busway“. Tengah terkantuk-kantuk, terdengar speaker bus melantunkan pantun:“Baca koran sambil makan mie rebus….cakeep….
Harap jaga ketenangan dalam bus.. “ wuuiih….betul juga ada yang ngantuk…tak jadi terlelap…

Pantun cukup akrab digunakan di berbagai acara resmi ataupun santai. Warisan sastra lisan Nusantara ini bukan sekadar rangkaian kata yang berima. Di dalamnya
mengandung kecerdasan berbahasa, kedalaman perasaan, kehalusan budi, serta kemampuan masyarakat menyampaikan pesan kehidupan melalui ungkapan yang singkat tetapi bermakna.

Menarik menelusur asal-usulnya. Dalam tradisi masyarakat Melayu, pantun menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. digunakan untuk menyampaikan nasihat, menyatakan cinta, menyindir, menghibur, membuka percakapan, bahkan menyampaikan kritik sosial tanpa harus menyinggung perasaan orang lain secara langsung. Keistimewaan pantun terletak pada kemampuannya menyampaikan sesuatu yang serius dengan cara yang ringan, indah, dan terkadang jenaka. Konon Tradisi ini berkembang jauh sebelum masyarakat mengenal budaya tulis secara luas. Diwariskan turun temurun, dari generasi ke generasi lewat percakapan, pergaulan, upacara adat, permainan rakyat, nyanyian, dan berbagai kegiatan sosial.
Pantun berkembang melampaui batas wilayah masyarakat Melayu. Meski tak tersedia informasi jelas dan pasti tentang asal-usul pantun secara tepat termasuk siapa penciptanya dan kapan pertama kali muncul, namun menyebar di kawasan yang sekarang menjadi Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, serta sebagian wilayah Thailand Selatan. Dapat dikatakan sebagai produk kebudayaan yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Semisal makna Pantun. Ada yang menghubungkannya dengan kata dalam bahasa Melayu yang berarti perumpamaan atau peribahasa. Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan tradisi berbalas ungkapan. Menariknya,  pantun bukan hanya permainan bunyi. Ia memiliki pola berpikir yang khas: mengawali pesan dengan gambaran alam atau kehidupan sehari-hari, kemudian menghubungkannya dengan pesan yang ingin disampaikan.

Pantun tradisional umumnya terdiri atas empat baris dengan pola persajakan a-b-a-b.
Baris pertama dan kedua disebut sampiran. Baris ketiga dan keempat disebut isi. Perkembangannya melintas masa. Dari masa tradisi lisan menuju masa modern melewati masa kesusastraan klasik dan perkembangan sastra dan kebudayaan. Kajian Muhammad Haji Salleh menunjukkan bahwa pantun berkembang dalam sedikitnya 40 dialek Melayu dan 35 bahasa non-Melayu di kawasan Semenanjung dan kepulauan Indonesia. Pada 17 Desember 2020, UNESCO menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (Intangible Cultural Heritage of Humanity) melalui pengajuan bersama Indonesia dan Malaysia. Ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pantun. Bukan hanya penghargaan terhadap keindahan sastra, tetapi juga terhadap nilai moral, kebijaksanaan, dan keharmonisan sosial yang terkandung di dalamnya.

Pantun dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun kembali budaya komunikasi yang: Santun tanpa kehilangan ketegasan. Kritis tanpa harus menyakiti. Cerdas tanpa merasa paling pintar.
Menghibur tanpa merendahkan orang lain. Mengandung nasihat tanpa terkesan menggurui. Dapat pula  dikembangkan menjadi media pendidikan, diplomasi budaya, komunikasi publik, promosi kesehatan, hingga kampanye sosial. Namun jangan silap, ada juga tantangannya. Pantun terkadang hanya dianggap sebagai permainan kata-kata dan rima. Banyak pantun modern lebih mengutamakan kesamaan bunyi daripada kedalaman makna.
Dokumentasi pantun daerah dan bahasa lokal jarang tersedia. Karena itu, pelestarian pantun sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan perlombaan atau acara seremonial. Pantun perlu dihidupkan kembali dalam berbagai aspek kehidupan. Pantun mengajarkan bahwa menyampaikan pesan tidak harus selalu dilakukan secara langsung. Terkadang, sebuah pesan justru lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui perumpamaan, keindahan bahasa, dan kebijaksanaan. Sampiran mengajarkan kita mengamati alam dan kehidupan. Isi mengajarkan kita menyampaikan pikiran dan perasaan. Keduanya menyatu menjadi sebuah kesatuan yang indah. Ia juga memperlihatkan bahwa kecerdasan seseorang bukan hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dimiliki, melainkan juga dari kemampuannya memilih kata, memahami perasaan orang lain, dan menyampaikan kebenaran secara bijaksana.

Pantun adalah seni berbahasa sekaligus seni membangun hubungan antarmanusia.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan