Kebangkitan Nasional VS Kebangkitan Islam : Dua Arus Besar, Satu Tujuan Indonesia Merdeka

Edukasi, Humaniora375 Dilihat

Ketika bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei, banyak yang lupa bahwa ada arus lain yang juga menggerakkan kesadaran masyarakat Indonesia di awal abad ke-20: Kebangkitan Islam. Dua arus ini, meski berbeda jalur, sesungguhnya menuju satu tujuan yang sama—kemerdekaan dan martabat bangsa.

Kebangkitan nasional ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada 1908. Organisasi ini menjadi simbol munculnya kesadaran nasionalisme modern. Gerakannya sekuler, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan pendidikan serta budaya. Ia tidak membedakan suku dan agama, melainkan mengedepankan semangat persatuan untuk melawan kolonialisme.

Sementara itu, Kebangkitan Islam mulai mengakar kuat melalui Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji Samanhudi pada tahun 1905, kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam (SI) di bawah H.O.S Tjokroaminoto. Gerakan ini mengusung semangat perbaikan ekonomi umat, pembaruan pemikiran Islam, dan kesadaran politik berbasis keagamaan. Dari sini pula lahir organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Keduanya sering kali dipertentangkan dalam diskursus ideologis. Namun sejatinya, mereka saling melengkapi. Nasionalisme tanpa spiritualitas bisa kehilangan arah, sebaliknya, gerakan keagamaan tanpa visi kebangsaan bisa terjebak pada eksklusivisme. Para pendiri bangsa menyadari hal ini, mereka meramu semangat keagamaan dan kebangsaan menjadi satu fondasi negara.

Baca juga:https://terbitin.id/ropiyadi-alba/05/2025/bangkitlah-wahai-para-pelajar-sebuah-refleksi-hari-kebangkitan-nasional/

Hari ini, ketika bangsa dihadapkan pada tantangan globalisasi, polarisasi politik, dan krisis identitas, semangat kebangkitan dari dua arus ini perlu dihidupkan kembali. Bukan untuk membangkitkan fanatisme golongan, tetapi untuk menyadarkan bahwa Indonesia dibangun di atas semangat kolaborasi, bukan pertentangan.

Kita tak perlu memilih: apakah kita bagian dari Kebangkitan Nasional atau Kebangkitan Islam. Yang harus kita pastikan adalah kita bagian dari kebangkitan Indonesia—yang adil, berdaulat, dan berperadaban.

Sudah 117 tahun sejak Boedi Oetomo didirikan atau hampir 80 tahun sejak kemerdekaan diproklamirkan, namun kita sebagai bangsa Indonesia belum benar-benar bangkit, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Apa yang menjadi penyebab utama bangsa Indonesia belum mengalami kebangkitan nasional yang sebenarnya?.

Kebangkitan nasional sejati yang kita harapkan yakni kemajuan menyeluruh dalam bidang ekonomi, pendidikan, moral, dan kemandirian nasional, sampai saat ini belum sepenuhnya terwujud. Masih banyak tantangan mendasar yang menahan laju kebangkitan itu, misalnya:

Kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kualitas Sumber Daya Manusia kita masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Di era global yang ditandai oleh ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi, kita belum cukup kompetitif. Sistem pendidikan kita belum mampu menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan zaman. Masih banyak daerah yang minim akses pendidikan bermutu, dan budaya literasi kita belum mengakar kuat.

Korupsi

Korupsi yang merajalela menjadi penghambat utama. Bagaimana mungkin kita bisa bangkit jika uang negara terus-menerus dikorupsi? Korupsi merusak kepercayaan, memperlambat pembangunan, dan membuat rakyat kecewa pada sistem. Ini bukan hanya persoalan hukum, tapi juga masalah moral yang kronis.

Ketimpangan sosial dan ekonomi

Ketimpangan sosial dan ekonomi masih mencolok. Sementara kota-kota besar tumbuh pesat, banyak daerah lain yang tertinggal. Kesenjangan antara kaya dan miskin semakin lebar. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan belum benar-benar inklusif, dan semangat keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud.

Kedewasaan politik

Kedewasaan politik kita belum mencapai tahap ideal. Politik identitas, polarisasi, dan pragmatisme sempit masih menjadi wajah keseharian politik kita. Demokrasi prosedural memang berjalan, tetapi demokrasi substansial—yang menjunjung tinggi etika, integritas, dan kesejahteraan rakyat—masih belum menjadi budaya.

Nasionalisme

Nasionalisme kita perlahan terkikis oleh ego sektoral dan kepentingan kelompok. Kita sering terjebak dalam konflik horizontal dan intoleransi. Padahal, fondasi utama kebangkitan adalah persatuan dan rasa memiliki terhadap bangsa ini secara utuh.

Terakhir, kita masih terlalu bergantung pada asing. Ekonomi kita banyak bergantung pada ekspor bahan mentah dan investasi luar negeri. Kita belum mampu menciptakan industri mandiri yang kuat dan berdikari. Padahal, kemandirian ekonomi adalah syarat utama bangsa besar.

Indonesia memiliki semua modal untuk bangkit: kekayaan alam, jumlah penduduk besar, keragaman budaya, dan posisi strategis di dunia. Tapi semua itu tidak akan berarti tanpa SDM unggul dan karakter bangsa yang kuat.

Maka, sudah saatnya kita bertanya, bukan hanya “sudahkah kita bangkit?”, tetapi juga “apa yang telah kita lakukan untuk membuat Indonesia benar-benar bangkit?”

Semoga dengan makin matangnya bangsa ini belajar terhadap sejarah panjangnya, suatu saat nanti bangsa Indonesia benar-benar mencapai kebangkitannya, menjadi bangsa yang tegak berdiri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. ***

Referensi: https://www.detik.com/sulsel/berita/d-7158988/mengenal-sarekat-islam-sejarah-tokoh-serta-tujuan-didirikannya#:~:text=hingga%20Perjanjian%20Bongaya-,Sejarah%20Berdirinya%20Sarekat%20Islam,menyaingi%20pedagang%20batik%20besar%20Tionghoa.

Tinggalkan Balasan

10 komentar

  1. Ping-balik: rybelsus tablets
  2. Ping-balik: 50 milligram viagra
  3. Ping-balik: cialis 5
  4. Ping-balik: order cialis online
  5. Ping-balik: black cialis