Barisan semut merah berjalan rapi di atas tanah. Pasukan tersebut adalah Mumut dan keluarga yang sedang mencari tempat tinggal baru. Mumut memang sering pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka akan mencari tanah baru yang dirasa lebih aman dan membangun rumah di sana.
“Apakah masih jauh perjalanan ini Ayah? aku sudah lelah,” tanya Mumut terengah-engah.
“Sabar Mut, kalau kamu lelah kita bisa istirahat dulu sebentar di sini,” jawab ayah sambil memerintahkan pasukannya berhenti.
“Apa kita tidak membuat rumah di sini saja Ayah? Aku mencium banyak makanan di sini,” tanya Mumut lagi.
“Tidak Nak, banyak manusia di sini. Kita bisa terinjak-injak,” jawab ayah lagi.
“Kita sudah jauh sekali berjalan Ayah, tapi kulihat manusia tetap banyak. Semua wilayah sepertinya sudah ditempati oleh manusia. Kita harus kemana lagi Ayah?”
“Sabar ya Mut. Apa kamu tidak ingat dengan kakak-kakakmu yang mati terinjak waktu itu. Belum lagi saudara-saudara kita yang disiram minyak tanah. Ada juga yang mati diracun. Ayah ingin memastikan keluarga kita selamat Nak. Itu saja!”
“Iya Ayah. Maafkan Mumut yang tidak sabar,” Mumut menundukkan kepalanya malu.
“Tidak apa-apa Mut. Kaki-kakimu masih kecil. Wajar kamu cepat lelah. Istirahatlah dulu sepuasnya sebelum kita lanjutkan perjalanan.”
Pasukan semut merah itu pun beristirahat di halaman sebuah rumah kayu. Karena haus, Mumut minta izin kepada ayahnya untuk mencari minum di dekat situ. Ayah Mumut mengizinkan asal tidak jauh-jauh dari rombongan.
Mumut pun berjalan-jalan mencari air. Lama ia melangkah tidak terasa dia sudah memasuki rumah kayu dengan papan bertuliskan Nyonya Mone. Tampak seorang ibu paruh baya dan seorang anak sedang bermain di teras rumah.
“Hmm…itu pasti Nyonya Mone dan anaknya,” bisik Mumut.
Di dekat Nyonya Mone, Mumut melihat ada sedikit serpihan kue dan percikan air. Cukup rasanya untuk melepas haus dan lapar yang dirasakan Mumut sejak tadi.
Sambil sembunyi-sembunyi, Mumut mendekati makanan tersebut. Dia harus hati-hati agar tidak terlihat oleh mereka. Mumut menyelip dari satu mainan ke mainan lain. Dari satu sudut ke sudut lain. Perlahan-lahan dan mengendap ngendap.
“Ahrggg…” Mumut berteriak. Ia terkena kibasan tangan dari anak Nyonya Mone.
“Ibu…ada semut api!” teriak anak Nyonya Mone.
“Oh ya, hati-hati Shafa jangan sampai kamu menginjak atau menekan semut kecil itu dengan tanganmu. Nanti semutnya kesakitan.”
“Tapi Bu, nanti dia menggigit kita,” Shafa bergeser dari tempatnya duduk.
“Dia tidak akan menggigit kita kalau tidak diganggu. Dia hanya mencari makanan dan minuman. Tuh lihat, semutnya menuju serpihan kue sisa makanan Shafa tadi.”
Mumut yang mendengar percakapan Nyonya Mone tidak takut-takut lagi berjalan menuju makanan. Ia makan dengan sangat lahap. Setelah semuanya habis, Mumut kembali menuju keluarganya. Dari kejauhan ia melihat ayah dan saudara-saudaranya berjalan kesana kemari sambil meneriakkan namanya.
“Ayah aku di sini!” teriak Mumut sambil berlari ke arah ayahnya.
“Mumut! Kemana saja kamu Nak. Kami semua sudah mencemaskanmu. Kamu tidak boleh berjalan sendirian seperti itu. Berbahaya!”
“Maafkan aku Ayah, aku tadi haus dan lapar. Jadi aku mencari makanan dan minuman dulu,” ucap Mumut.
“Iya Mut, tapi besok jangan ulangi lagi,”
“Baik Ayah,”
“Baiklah kalau begitu, apa sudah lengkap semuanya? Ayo kita lanjutkan perjalanan!” teriak Ayah kepada pasukannya.
“Ayah…bagaimana kalau kita buat rumah di sini saja. Kita bisa membuat rumah di halaman belakang rumah Nyonya Mone,” Mumut berkata sambil memandang wajah ayahnya.
“Nyonya Mone? Siapa itu?”
“Nyonya pemilik rumah kayu itu Yah. Tadi aku bertemu dengannya. Dia sangat baik padaku.”
“Baik padamu? Coba ceritakan bagaimana Nyonya Mone itu Mut,”
“Tadi aku hampir terinjak oleh Shafa, anaknya Nyonya Mone. Nyonya Mone lalu menyuruh Shafa berhati-hati agar tidak mengenaiku. Aku bahkan dibiarkan makan kue dan minum di dekat anaknya yang sedang bermain.”
“Begitukah Mut? Tapi tetap saja kalau kita banyak, mungkin dia akan jahat pada kita.”
“Tidak Ayah. Asal kita tidak mengganggu, Nyonya Mone pun akan menjaga kita dengan baik.”
Ayah Mone berfikir sejenak. Jauh pun berjalan pasukannya tetap akan bertemu pemukiman manusia. Semua tanah di bumi ini sudah diolah manusia. Mau tak mau mereka pasti akan bertemu manusia. Mendengar cerita tentang Nyonya Mone dari Mumut, Ayah Mumut berfikir tinggal di sana sepertinya lebih baik. Ada juga manusia yang tidak mau menyakiti binatang kecil seperti mereka.
“Baiklah semuanya, ayo kita buat rumah di sini. Bersiap-siap semua. Kita harus bekerja sama agar pekerjaan cepat selesai.”
“Siap!” jawab pasukan semut serentak dan bekerja bersama dengan semangat.













