Enggak Usah Dimasukin ke Hati: Jurus Senyum Lebar Menghadapi Standar Hidup Orang Lain

Sosial Budaya6 Dilihat

Pagi atau siang atau sore hari, niat saya sebenarnya simpel banget.

Kadang, cuma lagi di depan rumah sambil pegang selang menyiram tanaman, menyapu halaman yang penuh daun kering, atau sekadar lewat jalan kaki mau ke warung sebelah.

Malah, kadang momennya lagi ketika kumpul seru bersama keluarga besar, atau lagi asyik nongkrong bersama teman-teman.

Saya pikir, momen-momen itu akan berjalan damai tanpa gangguan, karena saya sendiri kan sudah lulus kuliah dan wisuda.

Tapi ya, namanya juga hidup di tengah lingkaran pergaulan masyarakat kita, beraktivitas di sekitar rumah atau berkumpul dengan orang terdekat itu, ibarat masuk ke ruang sidang tanpa pengacara.

Baru juga mau menyapa atau lewat dengan sopan, obrolan dari kanan ke kiri sudah menyengat telinga.

Awalnya sih, bahas cuaca atau basa-basi biasa, tapi tidak butuh waktu lama, sampai ujung-ujungnya radar mereka mengarah tajam ke saya.

“Eh, sekarang kerjanya apa nih? Kok tiap hari kelihatan di rumah aja, enggak pernah pergi pakai kerja atau pake baju rapi?”

Duh, langsung kena mental. Pertanyaan klise nomor satu keluar tanpa permisi. Padahal, zaman sekarang kan ada yang namanya kerja dari rumah.

Mereka tidak tahu aja, kalau di dalam kamar, jari-jari saya ini mengetik untuk mengisi tulisan di blog pribadi, membuat konten tulisan untuk pesanan orang, sampai menyusun lembar demi lembar untuk buku yang sedang saya tulis.

Belum sempat bibir ini menjelaskan, orang di sekitar menimpali dengan pertanyaan legendaris.

“Halah, yang penting mah cepat nikah aja, tuh anaknya si itu tuh kan udah mau nikah. Jangan kelamaan milih jodoh, entar keburu tua loh. Biar cepat punya anak juga, biar enggak kesepian, enggak sendirian terus.”

 

Hati Remuk Redam Akibat Pertanyaan “Kapan”

Rasanya? Seperti dikepung pertanyaan beruntun yang isinya sudah disiapkan sejak zaman purba.
Kerja apa? Kok di rumah terus? Kapan nikah? Kapan punya anak?

Kalau dituruti, rangkaian daftar pertanyaan itu tidak akan pernah ada habisnya, sampai formatnya berubah jadi kapan pensiun?.

Bagi saya, momen-momen begini, sering kali membuat dada rasanya sesak, atau ingin putar balik masuk kamar, lalu mengunci pintu rapat-rapat.

Ada rasa kesal yang meluap, karena merasa ruang pribadi diacak-acak.

Diacak-acak oleh orang-orang yang mengira, kalau tidak keluar rumah secara fisik, artinya tidak menghasilkan apa-apa.

Bahkan, saat lagi kumpul keluarga atau teman pun, suasana yang tadinya seru, bisa mendadak canggung, sebab selingan pertanyaan seperti ini.

 

Membedah Isi Kepala Lingkungan Sekitar Tanpa Bawa Perasaan

Tapi, setelah masuk ke dalam rumah atau kembali ke kamar, saya mencoba merenung tanpa bawa perasaan. Saya coba melihat fenomena ini, dari sudut pandang yang lebih luas.

Kenapa ya, kebiasaan mengobrol tentang hidup orang lain, atau bahasa sederhananya bergosip, bisa subur banget di lingkungan kita.

Entah itu di kalangan tetangga, pertemanan, bahkan di dalam lingkaran keluarga sendiri?

Kalau dipikir-pikir secara jernih, obrolan basa-basi tentang hidup orang lain, di tengah masyarakat perkotaan itu sebenarnya punya fungsi tersendiri.

Ini bukan melulu soal orang-orang yang jahat, atau kurang kerjaan.

Di tengah kehidupan yang perputarannya serba cepat dan membuat pusing, gosip itu kadang masih jadi cara bertahan hidup sosial, yang tidak sengaja terbentuk.

 

Sisi Lain dari Ruang Gosip

Bagi kebanyakan orang, obrolan di tempat nongkrong, di depan pagar rumah, acara kumpul keluarga, atau di sela-sela papasan jalan, adalah sarana hiburan yang paling murah dan mudah didapatkan.

Mereka tidak punya waktu atau biaya, untuk pergi ke tempat hiburan mahal, demi melepas penat.

Melalui obrolan-obrolan inilah, mereka merasa terhubung satu sama lain.

Pertanyaan tentang pekerjaan yang tidak kelihatan atau kapan nikah, sebenarnya adalah bentuk kepedulian yang dikemas dalam bentuk yang salah.

Mereka hanya bingung, harus membuka obrolan dengan topik apa lagi. Ya, karena lingkaran dunia mereka, seputar siklus kehidupan umum zaman dulu.

Yang kalau kerja itu, harus pergi pagi pulang sore. Mereka belum akrab, dengan dunia digital tempat saya bekerja.

Bahkan, kebiasaan saling membicarakan ini, secara tidak sadar berfungsi sebagai jaring pengaman sosial.

Di lingkungan yang erat, karena semua orang saling tahu urusan masing-masing, tingkat kepeduliannya sebenarnya tinggi.

Kalau ada rumah yang kemalingan, ada keluarga yang sakit tiba-tiba, atau ada yang butuh bantuan mendesak, informasi itu menyebar lewat jalur gosip ini juga.

Coba bandingkan dengan kawasan hunian mewah, yang masing-masing penghuninya tertutup rapat, kadang ada orang sebelah rumah kesusahan pun tidak ada yang tahu.

 

Jurus Senyum Lebar dan Damai dengan Keadaan

Jadi, menghadapi rentetan pertanyaan klise itu, memang butuh kelapangan dada yang ekstra luas.

Sekarang, setiap kali dapat pertanyaan tentang kerjaan atau kapan nikah dari siapa pun, saya memilih untuk menarik napas dalam-dalam, tersenyum sopan, lalu menjawab seadanya, tanpa perlu dimasukkan ke dalam hati.

Kita tidak bisa mengubah cara lingkungan sekitar berinteraksi, karena itu adalah cara adaptasi sosial, yang sudah berjalan puluhan tahun. Yang bisa kita ubah, adalah cara kita meresponsnya.

Menganggapnya sebagai bagian dari warna-warni kehidupan bermasyarakat, yang membuat hidup kita jadi jauh lebih tenang.

Lagipula, hidup berdampingan memang seni tentang, bagaimana kita menjaga jarak yang pas. Tidak terlalu jauh sampai asing, tapi tidak terlalu dekat sampai pusing.

Pada akhirnya, jalan hidup kita tidak ditentukan oleh absen masuk kantor, atau komentar orang di sekitar kita Setiap orang punya garis awal dan garis akhir yang berbeda.

Jadi, untuk teman-teman yang hari ini mungkin telinganya sedang merah, karena dianggap menganggur. Padahal, sedang berjuang lewat ketikan layar, atau dicerca pertanyaan kapan nikah.

Ingatlah, bahwa langkah kalian tidak sedang terlambat. Kalian hanya sedang berjalan di atas jembatan kalian sendiri, merakit cerita dengan cara kalian sendiri.

Jadikan omongan miring sebagai angin lalu, yang menguji kekuatan kepak sayap kalian, bukan sebagai batu pemberat yang menahan kalian untuk maju.

Tetaplah melangkah dengan bangga, karena kisah terbaik selalu ditulis oleh mereka, yang menolak menyerah pada standar hidup orang lain.

Tinggalkan Balasan