Aku menghempaskan badanku tidak menghiraukan bajuku akan kotor atau tidak yang penting sekarang ini aku merasa perkahwinanku sudah dikotori oleh Bang Azam.
Entah berapa lama aku merenungi nasib pernikahanku, azan magrib berkumandang. Aku mengangkat badanku menuju mobil yang hanya tinggal sendirian tanpa ada kawannya lagi. laju mobil menuju masjid terdekat yang menjadi tujuanku, setelah mengunci pintu mobil aku melangkah lemah membawa persiapan sholat yang selalu ada di mobil.
Lama aku mengadu pada-Nya, segala sesak yang sedari tadi menyesakkan dada setelah melihat Bang Azam, sudah pukul Sembilan malam tapi aku bimbang untuk pulang ke rumah belum siap untuk menghadapi semuanya. Untuk pulang ke rumah Bunda juga tidak mungkin pasti banyak pertanyaan yang malah membuatku semakin kecewa, bagaimana tidak aku berkeras untuk menikah dengan Bang Azam walaupun ada penolakan keras dari ke dua orang tuaku terutama Bunda.
“Sudah malam tidak pulang Nak.” Ucapan penjaga masjid membuatku melepas lamunanku.
“Boleh saya menumpang tidur di masjid Pak.” Entah apa yang membuatku sampai berbicara seperti ini.
“Di samping masjid ada kamar untuk menginap, tidur di sana saja Bu, mari saya antar..” Ada rasa lega mendengar penuturnya.
“Terima kasih Pak.” Jawabaku lega, sudah banyak masjid menyediakan fasilatas menginap dengan pembayaran seiklasnya untuk membantu perawatan masjid.Aku berjalan mengikuti Bapak penjaga masjid.
“Ini kunci kamarnya, silakan Ibu istrirahat.” Setelah mengucapkan itu, Bapak penjaga masjid berlalu dari hadapanku.
Menekan knop pintu, mengucapkan salam seperti kebiasanku ketika masuk ke dalam satu ruangan. Memandang sekeliling lumayan seperti home stay ada kamar mandi di dalam. Aku merebahkan diri di ranjang single yang tersedia, memandang langit kamar mencari celah dimana letak kesalahanku sampai Bang Azam berpaling dariku.
Bunyi handphone yang sedari memekak teliga tidak aku hiraukan, aku masih berjibaku dengan pemikiranku ada apa dengan rumah tanggaku. Mengapa tidak ada tanda – tanda pengkhianatan dari Bang Azam, tapi yang aku lihat tidak mungkin membohongiku, lelah akhirnya aku tertidur menyemput mimpi dalam ketidak sadaranku.
Bunyi ketukan di pintu membuatku membuka netra yang perit karena dalam mimpipun aku menangis. Dengan badan yang lemah karena dari semalam sore kosong membuat langkahku tertatih menuju pintu, setelah sampai di pintu aku membuka kuncinya dan menekan knop pintu untuk melihat siapa yang datang disaat aku tidak ingin menjumpai sesiapapun saat ini.
“Sayang, jangan membuat Abang mati memikirkan Salwa semalaman tidak pulang.” Aku tidak kuasa untuk menolak dekapan Bang Azam, akhirnya semuanya gelap segelap nuasa pernikahanku saat ini.
***
“Wa, bangun Salwa jangan buat abang cemas.” Perlahan suara itu masuk kependengaranku, membuatku membuka mata, warna putih mendominasi penghihatanku, mengalihkan pandangan dari warna putih langit kamar aku mencari sumber suara, ternyata Bang Azam di duduk di samping sambil mengemggam tanganku, melihat aku membuka mata Bang Azam bangun mengecup keningku, setelah mengecup keningku Bang Azam duduk di tempat semula sambil terus mencium tanganku yang berada dalam genggamannya.
“Wa, Abang minta maaf, seharusnya ini sudah lama Abang ceritakan tapi karena permintaan Bunda, Abang harus menyembunyikannya dari Salwa.” Deg, degup jantung berpacu mendengar kalimat Bang Azam, Ya Allah aku tidak sanggup mendengarnya satu persatu air mata mulai turun membasahi pipiku.
“Sayang jangan menangis, maafkan Abang. Sungguh Abang tidak bermaksud menyakiti Salwa. Dengarkan Abang dulu, berhenti nangisnya sayang.” Biasanya aku merasa senang jika Bang Azam memujukku jika aku merasa sedih, tapi saat ini hatiku bagaikan tercabik mendengar suara yang keluar dari mulutnya, tangisku bertambah – tambah karenanya. (bersambung)













