Assalamualaikum.” Aku mengucapkan salam setelah sampai di depan pintu rumahku, ojek online sudah pergi.
“Walaikumsallam.” Suara Ibu menyahut salam yang aku berikan
“Sudah sampai, bagaimana kakimu Ila terasa sakit hari ini.” Belum juga aku masuk ke rumah Ibu sudah bertanya beberapa pertanyaan kepadaku.
“Tidak bu, Ila baik – baik saja.” setelah menjawab pertanyaan Ibu aku langsung menuju ke kamarku.
“ Ila sudah makan?” pertanyaan Ibu hanya aku jawab dengan menganggukkan kepala saja, setelah itu akan menutup pintu kamarku. Aku masih mendengar pertanyaan lain dari Ibu
“Mau ibu buatkan minuman hangat?
“Tidak, terima kasih bu.” Aku menjawab pertanyaan Ibu dari balik dalam kamar saja.
Aku membersihkan badanku, menganti baju dan merebahkan badanku di tempat tidur. Pikiranku agak tenang setelah membaca beberapa buku tadi siang di toko buku, aku meraih novel yang sempat aku beli. Membuka halaman pertamanya, aku membaca dan mencerna bab satu dari novel yang kubaca.
“Sudah pulang anakmu?” aku mendengar suara Ayah menanyakan tentangku dengan nada suara yang menurutku hanya ingin menumpahkan kekesalannya kepadaku.
“Sudah, ada di kamar lagi istrirahat.” Aku mendengar Ibu menjawab pertanyaan Ayah.
“Buatkan Ayah kopi.” Seperti selalu Ayah akan meminta Ibu membuatkan kopi sepulangnya Ayah dari kantor.
Langkah kaki yang terdengar dari kamarku menunjukkan Ayah pasti akan singgah di Kamar Adikku. Sebelum Ayah sampai di kamar Adikku, aku mendengar suara Ibu
“Lia belum pulang Yah, katanya mau belajar kelompok bersama teman – temannya.”
“Syukurlah, semoga nanti hasil ujiannya bagus.” Aku mendengar perkataan Ayah, apapun yang dilakukan Lia pasti Ayah tidak pernah marah selalu begitu. Aku hanya bisa menghembuskan napas berat jika sudah menyangkut tentang Lia.
“Ayah mau mandi dulu Bu, kopinya letakkan diruang tengah saja. Setelah mandi, Ayah ingin nonton sambil menunggu Lia pulang.” Suara Ayah membahana di rumahku, seperti ingin mengatakan kepadaku, bahwa anaknya hanya Lia adikku yang selalu membuatnya bangga. Aku menghapus air mata yang hampir keluar disudut mataku, apa salahku sampai Ayah sangat tidak menginginkanku. Aku tidak habis pikir dibuatnya.
Azan magrib membuatku tersadar dari sedih yang mengelayut di hatiku karena memikirkan perlakuan Ayah yang semakin di luar nalarku saja. (bersambung)





Mantap. Lanjutkan.