Bunga Kenanga Di Sudut Rumahku (part Akhir)

Cerpen, Fiksiana481 Dilihat

Akhirnya aku hanya bisa mengomel sendiri, ada – ada saja. Kemaren parangnya di pinjam tetangga, trus dibawa anakku yang pasti hari ini tidak jadi lagi menebang bunga kenanga itu.

***

Aku sudah siap – siap dengan mukenaku tinggal menunggu azan magrib berkumandang, suamiku serta anakku sudah pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Karena aku tadi lama mandinya sehingga aku di tinggal oleh suami dan anakku dan akhirnya aku harus sholat dirumah saja.

Azan sudah berkumandang, aku mencium bau harum bunga kenanga secepat kilat aku memasang niat sholat magribku berusaha mengkhusukkan sholatku sampai aku mengucapkan salam aku lupa akan bau bunga kenanga.

Sebelum keluar dari kamar, untuk menyiapkan makan malam bagi aku, suami dan anakku aku mencium lagi bau bunga kenanga. Aku berusaha mengusir rasa takutku dengan membaca ayat kursi. Bukannya ke dapur, malah langkahku ku ayun ke ruang depan rumahku. Aku membuka pintu dan mengambil tempat duduk di kursi yang ada di teras rumah. Mulutku masih komat kamit membaca ayat kursi.

Satu persatu aku melihat orang pulang dari arah masjid yang berada tidak jauh dari rumahku, tapi baying suami dan anakku belum juga terlihat, beberapa orang yang lewat depan rumahku memberikan salam dan terus berlalu.

Hampir 20 menit waktu berlalu dari sholat magrib tapi Suami dan Anakku belum juga pulang, bulu kudukku tambah meremang karena bau bunga kenanga malah tambah santer tercium. Entah berapa puluh kali alunan ayat kursi aku lantunkan. Ya Allah kemana Suami dan Anakku, batinku.

Baru saja aku mau memakai sandal jepit dan bermasuk menyusul suami dan anakku ke masjid, Aku melihat kedua orang yang aku tunggu datang. Suamiku di papah anakku, sarung dan baju bagian bawah suamiku kotor dan ada bercak darah di sarung Suamiku.

“Papa kenapa? Di.”Tanyaku

“Papa disempret motor Ma.” Jawab anakku

Pantas saja beberapa hari ini aku merasakan ada yang tidak enak di hatiku, tapi bukannya jika bau bunga kenanga santer tercium ada mahluk gaib yang akan datang, bukannya ada musibah batinku.

Kami masuk ke dalam rumah, anakku memapah papanya sampai di kursi ruang tengah tempat biasa kami kumpul keluarga. Aku bergegas mengambil kotak P3K dan membersihkan luka lecet pada kaki suamiku dan memberikan obat betadine pada lukanya.

Sambil mengobati luka suamiku, aku mengungkapkan perasaan hatiku kepada suamiku dan di dengar oleh anakku

“Pantas saja beberpa hari ini Ibu mencium bau bunga kenanga sangat tajam. Sampai bulu kuduk Ibu meremang.” Sambil mengatakan itu aku menunjukkan ekspresi wajah takut

“Yang benar saja bu, apa hubungan bau bunga kenanga dengan papa di serempet motor.” Suamiku memprotes ucapannku

“Ada pa , kata orang jika kita mencium bau bunga kenanga sangat tajam maka akan ada mahluk gaib yang mendekati kita.” Aku masih kekeh dengan pendapatku.

“Ini bukan mahluk gaib yang menyerempet papa, bu tapi si Udin. Rem motornya blong jadi nabrak papa dengan tidak sengaja. Ibu itu ada – ada saja.” Suara Suamiku mengingatkanku

“Sana Ibu keluar, lihat bunga kenanganya. Bunganya bersemi banyak sekali tentu baunya santer, jangan pikiran takut saja yang ada di kepala Ibu.” Kata – kata suamiku membuatku kesal.

“Biasanya juga berbunga, tapi baunya tidak pernah sampai kedalam rumah.” Aku masih kekeh dengan argumentasiku

“Di, bawa ibumu tunjukkan kepada Ibumu berapa banyak bibit bunga kenanga yang sudah kau buat dan sekarang lagi berbunga semua tentu bau harumnya sampai kedalam kamar, karena Adi menjejerkan pot – potnya dibawah jendela kamar kita bu.” Penjelasan panjang papa membuatku mengerutkan keningku. Memang sudah hampir 1 bulan ini Adi yang membantu Aku untuk mengurus bunga sehingga Aku tidak memperhatikan bunga – bunga itu.

“Adi ada memfotonya yah.” Kata Adi sambil menunjukkan pot bunga kenanga yang tersusun rapi di bawah jendela kamarku dan sekarang lagi berbunga lebat. Betapa bodohnya aku takut pada hal yang sebenarnya tidak perlu.

“Maafkan ibu pa, Adi.” Kataku sambil tersenyum malu.***

 

Tinggalkan Balasan