Bak kata pepatah, jika kita nak belajar jangan separuh jalan, bagaikan senjata makan tuan. Karena tidak percaya semua amalan yang diberikan oleh nenek buyutku terlupakan, tapi yang namanya amalan tidak akan meninggalkan tuanya. Sebelum si tuan membuangnya, ini yang terjadi dengan diriku, tanpa aku sadari semua yang sudah diturunkan oleh nenek buyutku menempel dan ikut dengan diriku tanpa aku sadari.Suasana baru ditempat kerja yang baru, tentu saja menginginkan aku lebih waspada. Jauh dari orangtua membuatku lebih mendekati diri dengan sang pencipta dengan rajin melakukan kewajiban sebagai umat beragama bukan untuk yang lainnya.
Pagi ini, seperti biasanya sebelum subuh menyusul masih aku sempatkan diri untuk melaksanakan sholat tahajut jam masih menunjukkan pukul 3.30 subuh aku berjalan menuju kamar mandi di Mes tempat yang hampir sebulan ini aku berada. Kantor mengirimku kesini untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat disini untuk lebih berwirausaha dengan pembinaan usaha kecil menengah.
Desa dengan suasana yang lebih dingin dari biasanya membuat bulu kudukku meremang, tapi niat untuk sholat tahajud tetap aku laksanakan. Memasuki kamar mandi dengan langkah kiri dan membaca doanya. Alangkah terkejutnya diriku diatas bak mandi ada ular melingkar dengan kepala yang mestinya kepala ular juga bukan itu yang aku lihat, wajah cantik dengan mata seperti mata ular memandangku tajam, tersenyum tanpa ku duga lidah keluar mendesis persis ular yang membuat wajahku pucat pasi terpantul dari cermin yang pas tepat berada didepanku sehingga jelas warna wajah mukaku.
Dalam hitungan detik melepaskan mataku melihat wajahku sendiri di cermin, aku mengalihkan padangan kembali ke atas bak mandi tapi pandangan yang meyeramkan itu sudah tidak ada. Akhirnya niatku terhenti, aku langsung membalikkan badan tidak berani masuk ke kamar mandi. Melangkah cepat menuju kamarku kembali, duduk diatas kasur dengan mendekap kaki ke depan dada sambil mulutku komat kamit membaca ayat kursi.
Suara azan subuh menyadarkanku ternyata lama sekali aku dalam keadaan ketakutan setelah melihat pemandangan yang menakutkan, benarkah ada mahluk ular berkepala ular di Mes ini?. Aku masih belum berani keluar kamar mes walaupun suara azan subuh sudah berlalu. Lewat 15 menit dari waktu subuh, jika aku tidak bergerak dari tempat dudukku maka subuh akan meninggalkan aku. Dengan mulut yang masih komat kamit membaca ayat kursi aku memberanikan diri menuju ke kamar mandi kembali, berharap teman – teman yang lain juga sudah bangun untuk melaksanakan sholat subuh.
Kamar terakhir sebelum aku sampai di kamar mandi hampir saja copot jantungku ketika tiba – tiba seorang keluar dari sana. Aku sampai terlompat ke samping karenanya.
“Shila, kamu kenapa? Mukamu pucat sekali, kamu sakit? Suara Lia salah satu teman satu mes ku ternyata yang muncul.
“Hmmm, kepalaku agak pusing jawabaku asal.”
“Kalau pusing mendingan kamu istirahat dulu.”
“Sholat subuh dulu, baru aku istirahat.” Jawabku singkat dan meneruskan jalanku menuju kamar mandi. Hatiku agak lega pasti Lia mau kekamar mandi juga. Dan teryata benar Lia juga mengikuti langkahku kebelakang menuju kamar mandi. Aku memilih kamar mandi sebelah, bukan kamar mandi yang tadi subuh aku masuki yang sekarang dimasuki oleh Lia semoga Lia baik – baik saja. Untung saja ada 2 kamar mandi di mes ini batinku lega.Setelah sholat subuh yang terlambat aku merebahkan diri lagi di tempat tidur untuk meringan sakit kepalaku karena kejadian tadi subuh.(Bersambung)
***











