MaulanaYa Suamiku (part 1)

Cerpen, Fiksiana503 Dilihat

Keheningan pagi selalu menganggu tidur lelapku, entah karena sudah dari kecil dibisakan oleh orang tuaku untuk selalu bangun sebelum subuh.

“ Sri jangan sampai rezeki mu di patuk dan dimakan ayam.” Kata – kata ibu selalu tergiang diteliga ini sampai sekarang.

Aku memandang kecewa dengan sosok lelaki dewasa yang masih terbaring di kasur kamar kami. Aku sudah kehabisan gaya untuk membangunkannya setiap hari, sudah disiram dengan segayung air juga masih kekeh tertidur seperti tidak terjadi apa – apa. Atau aku harus menceburkannya di lautan api baru dia akan terbangun.

“Bang, bangun bang. Subuh sudah lewat sebentar lagi jam 7. Jangan sampai di pecat untuk yang kesekian kalinya.” Suaraku sudah sejak subuh membangunkannya.

Jika ada pertandingan tidur kebo, mungkin suamiku selalu keluar sebagai juaranya. Entahlah aku jadi berfikir, mungkinkan jodohku tertukar. Bukankan dalam Al-quran disebutkan bahwa jodohmu selalu akan  seiriangan denganmu atau aku salah mengartikannya. Karena dalam hal kedispilanan suamiku tidak sepersepuluhnya dari diriku. Atau hanya aku yang berpendatan begitu tapi ini kenyataan yang selama 1,5  tahun ini aku hadapi.

Subuh selalu tertinggalkan,  jika sudah terlambat bangun aku yang selalu dimarahnya, padahal dia yang susah dibangunkan.

“ Sri, kamu senangkan jika aku kena pecat? Bukannya dibangunkan dari tadi.” Aku hanya mengurut dada mendengarkan kata – katanya.

“ Sri, kamu itu istri seperti apa sih. Aku sampai tidak sempat sarapan karena kamu membangunkan aku terlambat.” Dilain waktu ucapanya yang ingin sekali aku lawan tapi aku sudah tidak punya kekuatan untuk membalas kata – katanya lagi.

***

“Sri, jam berapa sekarang? Teriakan suamiku bagaikan suara gledek yang membelah bumi.

Aku malas melayannya, aku tetap melakukan akitifiasku merekap semua pesanan jualan onlineku. Entah apa jadinya jika aku ikut malas sepertinya, bisa – bisa dapur di rumah kami hanya akan berasap hanya di awal bulan saja.

Selesai merekap semua, aku berdiri dan menuju kamar untuk menganti pakaian. Aku harus menyetor duit untuk pesananku, biar cepat sampai sehingga cepat kembali danaku batinku.

Di depan pintu kamarku, bukannya dapat kecupan di dahi tanda sayang. Malah yang melayang botol deodorant tepat di mukaku. Aku menjerit sakit, sambil memandang kesal ke arah suamiku.

“Apa – apan bang, apa lagi yang tidak beres? Aku memandangnya dengan mata yang tanpa aku sengaja membulat besar.

“Kamu itu ya, sudah jam berapa ini. Suka ya kalau aku dipecat? Suaranya meninggi tanpa rasa bersalah.

“Sarapan Abang sudah di box makan. Abang sarapan di kantor saja, biar tidak terlambat.”

“Minta uang untuk beli bensin, motorku habis bensinya.”

“Ya Allah bang, sampai uang bensinpun tidak ada.”

“Kamu itu ya jadi Istri bukannya  mensupport suami mau pergi kerja, tidak usah banyak tanya. Mana uangnya? Jangan buat aku tambah terlambat lagi.

Aku mengeluarkan uang 20 ribuan dari dompetku menyodorkannya uang itu padanya

“Aku minta seratus ribu.”

“Mana ada bang.” Sungguh terlalu suamiku, sudahlah setiap bulan ngasih gajinya pakai di sunat 50% dengan alasan yang tidak masuk akal. Dan setiap akhir bulan selalu meminta uang bensin lagi.

“Biasanya juga 20-an.” Kataku jengkel

“Hari ini tidak biasa, mana uang seratusnya?”

“Tidak ada.” Kataku lagi

“Jangan sampai aku ambil sama dompet – dompetnya.” Ancam suamiku

Akhirnya aku mengeluarkan 2 lembar uang lima puluh ribu dan menyerahkan kepada suamiku. Daripada dompetku yang di ambil, suamiku tidak pernah main – main dengan ancamannya. Bukanya berterima kasih padaku, malah keluar dari kamar sambil berkata yang membuatku tambah jengkel

“Sama suami pelit, masuk neraka baru tahu.” Meninggalkan ku di kamar dengan hanya bisa mengurut dada saja.(bersa)mbung

***

Tinggalkan Balasan