Brak, suara pintu di banting dengan keras. Pasti suamiku pulang dari kerja, hmmm aku menghembus napas berat pasti terjadi sesuatu di kantor sehingga suamiku membanting pintu dengan keras.
“Sri, ambilkan aku minum.” Teriakan suamiku bisa membangunkan orang satu kompleks.
Aku bergegas membawa kopi susu yang menjadi kegemaran suamiku merupakan minuman favoritnya setiap pulang kantor.
“Ni bang kopinya.” Aku menyodorkan kopi yang ku buat.
Srup suara kopi diseruput, tiba – tiba
“Mau bunuh aku ya, panas sekali kopinya.” Ada – ada saja suamiku mana ada kopi dingin
“Mau kopi dingin?” tanyaku, daripada berdebat dengannya lebih baih mengalah, suasana hatinya lagi tidak baik.
“Buatin teh es.” Perintahnya.
Aku berjalan menuju dapur membuat apa yang menjadi perintahnya, pasti sesuatu yang buruk dikantor. Tidak pernah suamiku meminta selain kopi jika pulang kerja. Ya Allah jangan sampai dia kena berhenti. Jika iya, ini sudah 3 kali dalam setahun ini suamiku kena buang kerja.
Dengan hati bertanya – tanya apa yang terjadi dengan suamiku, aku berjalan sambil membawa es teh yang diminta suamiku.
“Bang, ini es tehnya.” Aku mengambil posisi duduk di sebelah suamiku. Melihat suamiku meminum es tehnya sampai kandas. Aku tidak berani bertanya, aku menunggu sampai suamiku yang memberitahuku. Lama suamiku hanya terdiam, akhirnya aku memutuskan pergi kedapur.
“Sri siapkan makan untuk abang ya.” Tak lama kemudian terdengar lagi suara suamiku
“Sri, abang dipindah tugaskan.”
“Alhamdulillah,”
“Kamu kok senang abang dipindah tugaskan.” Tanya suamiku
“Kamu suka kalau abang jarang berada di rumah, kamu sudah muak melihat muka abang.”
“Memangnya abang di pindahkan kemana? Sampai jarang berada di rumah.
“Tempat kerja abang jauh dari rumah, jika abang harus pulang pergi setiap hari dari rumah. Berarti abang hanya tidur 4 jam satu hari.” Dengan jengkel suamiku bercerita.
“Jadi?” aku balik bertanya, apa maunya suamiku
“Kantor ngasih Mes, abang terpaksa tinggal di sana.”
“Terus apa masalahnya?”
“Ya bermasalah lah.” Suara suamiku meninggi
“Apa masalahnya?’
“Di Mes tentu abang harus selalu bangun tepat waktu, kau kan tahu aku itu.” Suamiku tidak meneruskan kalimatnya karena melihat aku meninggalkannya sendiri.
Aku menghela napas sambil berlalu, ternyata hanya karena tidak mau tepat waktu suamiku sampai membanting pintu, untung pintunya tidak rusak. Malas aku melayan suamiku, lebih baik aku ke dapur menyiapkan makan malam.(bersambung)
***








