Panggil Aku Anak Melayu

Mendung hitam menggelantung di langit yang tidak cerah hari ini, tiba – tibaa aku mengingat masa – masa kuliah dulu. Masa yang beda dengan waktu SMA, anak baru gede kata orang jawa. Semuanya serba suka – suka dia, untung saja aku sudah terbiasa dididik oleh kedua orang tuaku untuk selalu berdikari kalau orang jawa menyebutnya mandiri.

Penampilan yang aku rasa cukuplah tidak memalukan, wajahku banyak mengecohkan orang yang melihatnya. Aku sering di katakana suku jawa, dengan rambut yang kala itu panjang sampai ke mata kaki.

Entah dari mana aku tidak tahu penilaiannya, yang jelas baru beberapa bulan di Yogyakarta aku sudah mahir berbahasa jawa walau bukan bahasa kromonya, aku bisa berbahasa jawa.

Sebenarnya aku mempelajarai bahasa jawa dengan cepat karena aku melihat orang jawa selalu akan memberikan harga yang jauh murah jika berbelanja daripada menjualnya kepada orang yang notabene bukan orang jawa.

Mungkin ini pepatah yang cocok, masuk kandang kambing mengembek masuk kandang lembu mengoek. Entahlah tapi aku mempraktikkannya.

Aku selalu senyum – senyum sendiri kalau mengingat masa – masa kuliah, jika lagi kepasar bersama – sama teman satu kost.

“ Nur, kamu saja yang menawar.” Kata kak Yuni yang berasal dari Palembang.

“ Kakak saja, yang mau beli barang, kan kakak.” Kataku menolak.

“ Nur saja,” tolonglah kakak, Nur.

Akhirnya aku menawarkan juga barang yang mau dibeli oleh kak Yuni.

“ Iki piro, bu.” Aku mulai menawar baju batik yang diinginkan kak Yuni kepada penjual baju yang berada di pasar Bringharjo.

“ Telung puluh ewu.” Kata penjual baju batik di Bringharjo

“ Entok kurang ora, Bu?”

“ Entok.”

“  Telung puluh limo, piye.”

“ Enggih.” Jawab penjual sambail membungkus baju batik yang baru saja aku tawar dan menyerahkannya kepadaku. Mbak Yuni mengeluarkan uang sebesar dua puluh lima ribu dan menyerahkannya kepada ibu yang menjual baju batik.(bersambung)

Sambil berjalan kak Yuni, berkata

“ Tu kan, karena Nur yang menawar harganya bisa duapuluh lima ribu.”

“ Minggu yang lalu kakak membeli baju batik harganya limapuluh ribu rupiah.” Cerita kak Yuni.

“ Yun, kemahalan baju yang kamu beli, harga pasar baju kamu itu Cuma duapuluh lima ribu.” Kata kak Santi teman satu kost kami yang orang Padang.

“ Lain kali kalau mau beli baju, ajak Nur saja. Dia pandai menawar, Nur bahasa jawanya bagus.”  Itu percakapan kami minggu kemaren sewaktu kak Yuni memamerkan baju batik yang baru dibelinya.

“ Nur, yuk kita mimun es dawet. Kakak yang traktir.” Sambil berjalan kak Yuni menawarkan es dawet gratis. Siapa yang bisa menolak rezeki pikirku.

“ Benar ni kak mau traktir es dawet?” aku memastikan lagi tawaran kak Yuni

“ Benarlah, kan Nur sudah bantu kakak nawarkan baju tadi.” Dengan yakin kak Yuni menjawab.

Kami berjalan menuju penjual es dawet sambil bercanda, kak Yuni sangat senang dapat membeli baju batik dengan harga murah.

“ Nur, besok – besok kalau kakak mau beli baju. Kakak ajak Nur, ya.” Kata kak Yuni di sela – sela kami meminum es dawet.

Kami menikmati es dawet sambil memperhatikan orang yang berlalu – lalang di depan kami. Sudah biasa jika berbelanja di pasar Bringharjo melihat pemandangan seperti ini, setelah lelah menawar barang yang dibeli orang – orang bisa menghilangkan penat dengan meminum es dawet, es degan ( kelapa muda) atau es jeruk yang sedia. Jika uang berlebih bisa juga sambil memakan bakso atau mie ayamnya.

Akhirnya teman – teman kost jika ingin berbelanja selalu mengajakku serta, dan alhamdulillahnya lagi selalu ditraktir mereka. Sambil mencuci mata, dapat minum atau makan gratis pula, hitung – hitung ngirit uang bulanan.

Hampir lima tahun aku kuliah di salah satu perguruan swasta di Yogyakarta, selama yang aku ingat banyak yang menyangka aku suku jawa.

 

Masa – masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) punya cerita tersendiri buatku. Sleman Bantul salah satu daerah di Yogya karta merupakan tempat terakhir untuk aku meninggalkan kampus dengan gelar sarjana. Hari pertama aku sampai di sana.

“ Selamat datang di Sleman mahasiswa semua.” Aku mendengar pengarahan dari bapak Rulli salah satu dosen yang memperkenalkan kami kepasa warga setempat. Dan menyerahkan kami kepada kepala desa yang menjadi penanggung jawab kami selama menjalani KKN. Panjang lebar pak Rulli memberikan pengarahan, kami sebagai mahasiswa KKN mendengarkannya. Sambil berbisik – bisik kawanku yang sama – sama anak melayu berkata.

“ Nur, desa ini susah airnya.”

“ Bagaimana kita mandi, Aku kalau mandi masih bisa lah tak mandi. Tapi kalau tak gosok gigi.” Dwi anak meranti berkomentar.

“ Iya, tadi kau numpang kencing. Airnya kuning.” Kata Sari. Sari satu kampung denganku. Kami anak Karimun.

Aku menunjukkan jari ke mulutku, meminta Dwi dan Sari untuk diam.

“ Dengarkan dulu penjelasan Kepala Desa.”

“ Selamat datang untuk semua mahasiswa KKN ke desa kami.” Suara pak kepala desa memberi sambutan setelah pak Rulli menyerahkan kami kepadanya.

“ Untuk mahasiswa semua , Saya sudah mencarikan rumah – rumah penduduk yang akan menjadi keluarga angkat selama KKN di desa kami.

Setelah acara seremonial selesai, aku dan teman – teman mahasiswa menemui keluarga yang akan menampung kami selama KKN di Sleman, Bantul Yogyakarta.

Aku dan Dwi tinggal di rumah Pak Slamet dan Bu Juminten, Bu Juminten berbicara panjang lebar menjelaskan keadaan desa dan rumahnya. Aku mendengar, sekali aku menjawab

“ Inge bu.”

“ Aku tak paham apa yang dikatakan bu Juminten.” Kata Dwi setelah kami beristirat di kamar.

“ Bu Juminten menjelaskan di rumahnya tidak ada WC dalam rumah.”

“ Jika ingin buang hajat (buang air besar) dimalam hari kita buang airnya masukkan dalam plastic. Besok subuh baru di buang ke WC yang ada di sungai.” Aku menjelaskan kepada Dwi.

“ Air pam hanya hidup satu hari sekali, jadi mandi jangan pakai air banyak – banyak.”

“ kalau mau nak mandi puas, mandi kat sungai saja.” itu kata Bu Juminten.

Orang – orang jawa jika di sebut Karimun pasti tidak akan tahu, tapi jika mengatakan Batam mereka pasti akan langsung tahu.

“ Nur bukan orang jawa tho.”

“ Ibu pikir orang jawa.”

“ bahasa jawa mu apik, nduk.”

“ mukanya juga muka orang jawa, ayu.” Aku tersenyum mendengarkan perkataan Bu Juminten.

Akhirnya aku berbahasa Indonesia dengan Bu Juminten.

“ Nur orang Melayu bu.”

“ Nur dari Karimun, kalau ibu main ke Batam, mampir ke tempat Nur.”

“ Atau ibu Kabari Nur jika main ke Batam, nanti Nur jemput di Batam.”

“ Karimun masih jauh?” serius Bu Juminten bertanya

“ Masih satu setengah jam, menaiki kapal Bu.’

“ Walah, jauh sekali. Belum tentu ibu bisa sampai kesana.”

“ Inshaallah, ibu sampai.”

“ Ya udah, Nur main – main ke Sleman sebelum pulang ke Karimun.

“ Atau Ibu carikan jodoh orang Sleman, piye.”

“ Biar bisa selalu jumpa Ibu.”

Aku tersenyum mendengar kata – kata Bu Juminten. Bu Juminten memang punya anak laki – laki yang sekarang bekerja di Yogya. Setiap satu minggu sekali akan pulang ke Sleman, selama KKN sudah 3 kali aku berjumpa dengan anak Bu Juminten. Pernah sekali Bu Juminten mengolok – olok aku.

“ Nur, udah punya gacoan?”

“ Sama anak ibu saja.”

“ Guanteng lho anak ibu.” Bu Juminten mempromosikan anaknya.

Aku hanya tersenyum dan berkata

“ Lulus kuliah mau kerja dulu bu.”

“ Orang tua dan adik – adik menunggu Nur di kampung.” Aku menolak halus permintaan Bu Juminten.

Mas Aditya, lumayan ganteng. Dengan tinggi 167 cm, kulit sawo mateng, peramah. Tapi pendiam, aku tidak pernah berbicara empat mata dengannya paling Cuma saling sapa tanda aku menghormati yang punya rumah. Setiap pulang ke Sleman Mas Aditya lebih banyak berbicara dengan Dwi, tapi aku tidak melihat ketertarikan antara Mas Aditya dan Dwi. Dwi memang supel siapa saja pasti akan senang berbicara dengannya.

Selamat tinggal Sleman Bantul, terima kasih atas semua pelajaran hidup yang berharga yang ku dapat, Bis yang kami tumpangi meninggalkan Sleman Bantul mengantar kami kembali ke kampus.

Itu dulu cerita, semasa kuliah. Orang – orang selalu salah menganggap aku orang jawa. Cerita itu sering berulang – ulang terjadi jika aku pada lingkungan baru, orang disekitarku pasti menyangka aku orang jawa.

Sambil duduk termenung memandang langit yang hitam pekat, hujan sudah mulai turun perlahan. Sambil menunggu bunyi lonceng masuk, aku hanya berharap hujan tidak sampai jam terakhir. Jika sampai jam terakhir, berarti aku harus menunggu hujan reda atau basah mandi hujan untuk sampai di rumah.

Aku masih mengingat saat pertama masuk ke sekolah ini, kepala sekolah memperkenalkan ku pada rapat pertama aku sekolah ini kepada rekan – rekan guru yang lain.

“ Bapak/Ibu kita ada guru baru, belia mengajar pelajaran Ekonomi.” Aku mendengar Kepala Sekolah berkata.

“ Bu Nur silakan berdiri.”

“ Namanya Nuraisyah.”

“ Mulai hari ini Bu Nur akan bergabung bersama kita mengajar di sekolah kita.”

Aku berdiri sesuai intruksi Kepala Sekolah, sambil melemparkan senyum kepada teman – teman guru yang akan menjadi kolegaku sebentar lagi.

Selesai rapat, aku didampingi oleh Wakil Humas untuk melihat lingkungan sekolah dan menujukkan di mana meja aku berada.

“ Selamat bergabung bersama kami Bu Nur.” katanya

“ Terima kasih Bu.”

“ Semoga betah di sekolah kami.”

“ Insyaallah bu.”

Aku memandang ruang majelis guru, satu persatu guru –  guru datang menyalamiku.

Yang namanya lingkungan sekolah kami dalam percakapan sehari – hari mengunakan bahasa Indonesia.

Setelah hampir enam bulan mengajar, baru teman – teman guru tahu bahwa aku adalah anak melayu sejati.

Aku masih ingat waktu itu ada acara kabupaten, yang meminta setiap sekolah menyiapkan satu tari persembahan bisa, tari, nyanyi, drama, puisi sampai membacakan gurindam. Aku berkata kepada ibu wakil kesiswaan, biar aku saja yang melatih anak – anak untuk menampilkan drama batu belah batu bertangkup.

Sambil memandangku ibu Des berkata

“ Memang bu Nur bisa?”

“ Bahasanya harus bahasa Melayu dialognya, bukan bahasa Indonesia.”

Aku tersenyum sambil berkata kepada Bu Des.

“ Bu saya ini orang Melayu tulen, Mak dan Ayah saya Asli orang Karimun. Notabene saya orang melayu.”

“ Saya juga mendengarkan desas – desus di majelis guru yang mempertanyakan suku bangsa saya Bu Des, tapi karena tidak ada yang bertanya langsung saya diamnya. Menurut saya suku apa saja tidak penting yang penting bagaimana kita warga sekolah dapat berpartisipasi dalam kemajuan sekolah titik. “ kataku panjang lebar kepada Bu Des.

“ Jadi Bu Nur bukan orang Jawa, saya kira orang jawa. Wajahnya saja wajah orang Jawa, Ayu ” Sambil memandangku bu Des berkata.

“ Di sekolah tentu pakai bahasa Indonesia, Bu.” Aku menjelaskan kepada bu Des sambil bercanda, aku melihat senyum dikulum di wajah bu Des.

“ Ok, Bu Nur membimbing anak – anak bermain drama.”

“ Terima kasih bu.” Aku girang mendengar bu Des mengizinkan aku melatih anak – anak bermain drama. Anak – anak tampil dengan sangat bagus, Dinas pendidikan dan pihak sekolah memuji penampilan anak –  anak yang aku asuh.(bersambung)

***

Satu minggu setelah penampilan anak – anak pada acara yang diadakan oleh Dinas Pendidikan aku dipanggil bu Des keruangan wakil kesiswaan.

“ Bu Nur, ibu dipanggil Bu Des keruangannya.”  Syahrani TU yang membantu Bu Des di bidang kesiswaan.

Aku menganggukkan kepala kepada syahrani, berdiri dari dudukku berjalan menuju ruangan Bu Des, pintu ruangan Bu Des aku dorong sambil mengucapkan salam.

“ Assalmualaikum, ibu mencari saya.” Setelah aku melihat Bu Des duduk di mejanya sedang menulis sesuatu.

“ Iya Bu Nur, duduk.” Bu Des menunjuk dan menyuruhku duduk dikursi yang berada di depan mejanya.

Aku mengangguk dan duduk dikursi depan meja Bu Des, Bu Des menghentikan aktivatas menulisnya dan menatap wajahku sambil berkata.

“ Bu Nur saya mendapat telephone dari Dinas Pendidikan, ada pelatihan pembuatan sanggar di sekolah. Orang Dinas meminta  Ibu Nur yang di kirim sekolah untuk mengikutinya. Sambil menyodorkan surat tugas Bu Des berkata

“ Ini surat tugasnya.” Sambil tersenyum memandangku.

“ Saya bu?” tanyaku tidak percaya.

Aku tahu Bu Des melihat binar di mataku, aku senang sekali diberi kepercayaan oleh sekolah untuk mengikuti pelatihan sementara aku guru baru di sekolah ini..

‘Iya Bu.” Kataku bersemangat..

***

Alhamdulillah akhirnya aku di izinkan mendirikan  sanggar sekolah dengan nama “ Tuah Belia” yang logo anak muda berdiri tegak menggunakan baju lengkap melayu menggunakan tanjak.

Aku ditunjuk oleh Kepala Sekolah dengan SK bagian kesiswaan untuk menjadi pembinanya.

Aku masih mendengar desas – desus di majelis guru yang mempertanyakan sukuku, mereka masih menganggap aku bukan anak Melayu. Aku tersenyum sendiri jika mengingat – ingat hal itu.

“ Bu Nur benar orang melayu? “ Pak Usman yang mengajar matematika bertanya kepadaku, belum sempat aku bertanya aku mendengar suara lagi.

“ Hayo, mengapa Pak Usman mengapa Tanya – Tanya kecewa ya. Saya dengar pak Usman cari calon orang jawa.” Suara bu Tuti.

Pak Usman membesarkan matanya memandang bu Tuti sambil berkata

“ Bu Nur bawaannya seperti orang jawa, tidak seperti Bu Tuti semborono cirinya orang melayu suka grusa – grusu .” suara Pak Usman menyindir Bu Tuti.

“ Enak saja mengatakan orang Melayu sembrono, ingat Pak. Bapak di mana.” Ibu Tuti menyerang balik perkataan Pak Usman.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah kedua teman guruku itu,

“ Sudah tidak usah bertegang urat, tanyakan saja kepada Bu Nur apa suku bangsanya. Habis perkara.” Suara Bu Ises guru agama disekolahku.

Semua mata di ruangan majelis guru pada tertuju kepadaku, aku jadi jengah melihat mereka semua pada melihatku.

“ Maaf Bapak/Ibu, Saya suku Melayu. Saya juga heran orang lebih banyak mengira saya suku jawa.” Aku menjelaskan kepada semua mata yang tertuju padaku.

“ Mungkin karena aku kuliah di Yogya selama 4,5 tahun jadi terbawa – bawa dengan keadaan disana.”

“ Tu dengar jawaban Bu Nur, jangan bilang orang melayu semberono.” Ejek B Tuti kepada Pak Usman.

Orang melayu pemalas, orang melayu tidak teliti banyak lagi perkataan yang menjelek – jelekkan orang Melayu. Karena ingin membuktikan bahwa semua suku di Indoesia ada yang pemalas tergantung orangnya, aku memilih untuk kuliah di Yogya yang katanya telaten dan rajin bekerja.

Tak bisa dipungkiri, semua yang dikatakan tentang suku Melayu karena ada sebagaian besar orang melayu di zaman dulu lebih memilih tidak bekerja, hanya karena gajinya kecil. Ada juga sebagian orang Melayu karena sudah kaya orang tuanya maka anaknya tidak bekerja. Semua pandangan itu memberikan citra yang buruk untuk orang melayu sendiri, tidak bisa dipungkiri.

Tapi bukan karena aku malu bersuku Melayu, sehingga tidak menjelaskan bahwa aku suku melayu. Sejak aku masuk kesekolah ini tidak ada yang bertanya, mereka hanya menebak – nebak saja. mungkin karena aku kuliah di Yogyakarta mereka berfikir aku orang jawa.

Ada – ada saja tidak mungkin aku harus berkata setiap tempat yang baru aku masuk dengan mengatakan Panggil Aku Anak Melayu. Aku tersenyum sambil berdiri dan berjalan menuju pintu keluar majelis guru, bel bunyi tanda masuk jam pelajaran selanjutnya. Jadi teringat dengan satu film dengan judul Jangan Panggil Aku China. ***

 

 

 

Tinggalkan Balasan