Karena terlalu penat, akhirnya aku tertidur dibuaian yang berada diteras rumah. Sentuhan lembut di kepalaku membuatku terbangun.
“Ayah sudah pula” belum selesai perkataanku aku mendengar
“Ayah sudah pulang, dinda main terus sampai ketiduran dibuaian karena capek.” Suara ibu sangat membuatku muak.
“Masuk ya, dinda bawakan barang – barang Ayah ke dalam.” Selalu perintah dari Ibu yang ku dengar. Dengan malas aku bangun dan melangkah menuju barang bawaan Ayah yang terletak tidak jauh dari buaian. Mungkin Ayah meletakkannya disana ketika memegang kepalaku tadi.
Aku mengikuti langkah Ayah dan Ibu masuk ke dalam rumah
“Dinda buatkan minuman hangat, pasti Ayah sudah rindu dengan minuman buatan Dindakan yah?” ada saja cara Ibu untuk membuatku tidak lepas dari pekerjaan. Katanya Istri tapi selalu aku yang menyiapkan kebutuhan Ayah.
“Ayah rindu minuman buatan Ibu, Ibu buatkan kopi susu ya bu.” Ahhh ibu kena batunya, aku hanya tersenyum mendengar permintaan Ayah.
“Dinda, sini duduk disamping Ayah.” Ayah duduk diruang tengah di kursi kebesaran Ayah jika lagi nonton TV bareng aku dan Ibu.
Aku duduk dilantai meletakkan kepalaku dipangkuan Ayah. Ayah mengusap kepalaku sambil berkata
“Dinda baik – baik saja dirumah?Ayah lihat dinda agak kurusan dan pucat.”
Belum sempat aku menjawab ibu sudah datang membawa kopi susu permintaan Ayah
“Yaho, Dinda ngadu apa sama Ayah?” aku melihat mata curiga Ibu sambil berkata demikian
“Ibu, Dindanya belum ngomong apa – apa Ibu sudah datang. Kenapa anak kita kurusan sekarang bu. Ibu pasti tidak jaga Dinda dengan baik, pasti biaran Dinda berbuat sesukannya. Ayah tahu Ibu sayang Dinda tapi Dinda harus diperingatkan bu.” Ibu tidak senang mendengar perkataan Ayah.
“Yah Dinda saja yang suka semaunya, mana berani Ibu larang – larang Dinda.” Pandainya Ibu bersandiwara di depan Ayah.
“Ni kopi Ayah.” Ibu menyodorkan kopi buatannya.
Baru sedikit Ayah mencicipi kopi buatan ibu
“Bu ini kopi atau apa kenapa tidak enak begini.” Wajah Ayah berubah yang tadinya tersenyum langsung memandang lain kepada Ibu.
“Masak sih, sini ibu coba.” Ibu masih berusaha mencari alasan, padahal selama ini Aku yang membuatkan kopi susu untuk Ayah tetapi selalu Ibu yang mendapatkan pujian.
“Mungkin karena Ibu kangen Ayah ni, jadi kopinya tidak enak.” Bisa saja Ibu mencari alasan.
“Biar Dinda yang buatkan Ayah kopi.” Sambil berkata aku bangkit dari dudukku dan menuju dapur. Ternyata Ibu mengikuti aku ke dapur.
“Dinda bicara apa dengan Ayah?” aku hanya bisa menghembus napas sebegitunya curiga Ibu denganku.
“Dinda belum bicara Ibu sudah datang.” Jelasku.
“Awas ya kalau mengadu ke Ayah.” Ibu mengambil kopi yang sudah ku buat.
“Bawakan piring buat kue yang Ayah bawa.” Titah Ibu sambil meninggalkan aku di dapur.
Aku mengambil piring dan membawanya ke ruang tengah
“Ni kopi enaknya Yah, ibu yang bikin.” Aku sempat mendengar perkataan Ibu kepada Ayah. Masih saja Ibu mencari muka kepada Ayah.
“Masukkan kuenya kedalam piring din, beli dimana kuenya Yah?
“Ayah beli di bandara, sebelum pulang kerumah. Ayah tidak sempat membeli oleh – oleh karena Ayah langsung pulang seteleah urusan Ayah selesai. Ayah rindu sama Istri dan Anak Ayah.”
“Ah Ayah bisa saja.” Sungguh muak aku mendengar kata – kata Ibu.
“Di makan kuenya dinda, itukan kue kesukaan dinda.” Aku tersenyum sambil mengambil 1 kue yang ditawarkan Ayah dan memakannya dengan tidak bersemangat
“Ibu tidak ditawari Yah?”
“Ya, itu juga ada kue yang Ibu suka.” Kata Ayah.
“Din, kamu sakit? Aku terkejut dengan pertanyaan Ayah, dan menjawabnya dengan mengelengkan kepala karena dimulutku masih mengunyah kue.
“Dinda baik – baik saja Yah, kerjanya hanya main dan belajar saja. Ayah jangan khawatir.” Suara ibu menyakinkan Ayah.
“Tapi Dinda kurusan dan pucat bu.”
“Ah itu perasaan Ayah saja, dinda kerjanya hanya kesekolah dan main di kamar tentu pucat tidak kena matahari.” Lanjut Ibu.
“Jangan biarkan Dinda main saja bu, ajak Dinda untuk berolah raga juga. ibukan suka ikut senam ajak anak gadisnya sekalian jangan ibu saja yang mau jaga badan.” Ucapan Ayah membuat ibu memandang sinis kepadaku.
“Ya, besok – besok Ibu ajak Dinda senam juga.” dengan tidak bersemangat ibu menjawabnya.
Azan magrib berkumandang
“Ibu,Dinda ambil wudhu kita sholat berjamaah.” Aku langsung memandang Ibu, sudah lama aku tidak pernah melihat Ibu sholat apalagi jika Ayah harus ke luar kota..
“Ayah sholat sama Dinda saja.”
“Kok begitu tu, apa ibu lagi dapat?” ibu menunjukkan kukunya
“Mau buang cat kukunya tadi ibu arisan jadi ibu memakainya. Ibu bersihkan dulu.”
“Sudah berapa kali Ayah kasih tahu Ibu pakai Inai saja, jadi tidak perlu dibersihkan.” Suara Ayah meninggi
“Iya, Ibu salah. Ibu tahu, besok – besok tidak lagi Ibu pakai.”
Aku dan Ayah bangkit dari duduk menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
***
Untuk beberapa hari ini aku aman dari perintah Ibu, selama Ayah berada di rumah aku bagaikan putri kerajaan. Semua pekerjaan dari memasak, mencuci serta setrika dibuat oleh Ibu. Walaupun aku tahu Ibu memandangku sinis dan berharap Ayah cepat – cepat keluarg kota.
“Din, bantu Ibu.”
“Jangan Yah, biarkan Dinda belajar sebentar lagi Dinda ujian.” Ratu drama di rumahku.
Ya Allah semoga Ayah lama dirumah sehingga aku bisa sedikit istirahat dan belajar dengan baik untuk menghadapi ujian.
“Ayah, berapa bulan Ayah dirumah?” suatu sore aku bertanya kepada Ayah, sudah lebih dari seminggu Ayah dirumah. Biasanya Ayah hanya 10 hari dirumah setelah itu Ayah akan berangkat selama 3 bulan untuk mengurus usahanya.
“Ayah dirumah sampai Dinda pengumuman kelulusan.” Aku bahagia mendengar ucapannya.
“Kok lama sekali Yah, terus usaha kita bagaimana.” Tiba – tiba Ibu sudah ada di antara kami sambil membawakan kopi, teh serta camilan sebagai pendampingnya.













