Rindu….rinduku berlumut karena kau jarang menyiramnya dengan kasih sayangmu. Rinduku berkalang tanah, membeku dan akhirnya menjadi batu. Kau lihat batu karang di pantai, dia ada tapi hanya sesekali ombak datang kepadanya sehingga batu karang tidak merindukan ombak dengan setia.
Nyanyian rinduku tidak lagi aku perdengarkan, hanya rindu sebatas rindu jika aku mengingatmu. Tapi rindu itu lebih banyak aku kubur dalam kerja dan kerja. Aku lupa rasanya bagaimana merindu tapi hari ini kau mengatakan rindu padaku.
“Sayang aku rindu.” Hadirmu tidakku harapkan
Aku memandangmu dengan netra yang berat dengan kecewa, aku tidak mengenal sosok yang sekarang berdiri tepat dihadapanku. Hatiku beku, sebeku es di kutup utara. Aku melangkah meninggalkan dirimu yang aku pasti bingung dengan tingkahku.
Aku memberhentikan langkahku, tanganmu meraih lenganku dan menarikku, aku jatuh didada bidangmu. Jika dulu aku akan menikmati harum bau badanmu, sekarang aku merasa tersiksa berdekatan denganmu, aku menarik badanku yang berada di dadamu.
“Sakit tau.” Setelah mengatakan itu aku berlalu meninggalkanmu termenung mendengar perkataanku.
Brak…bunyi pintu kamar yang aku tutup karena kesal pasti kau dengar itu. langkah mendekati kamar kita, ya kamar kita yang jarang kau kujungi hampir 3 tahun ini, dengan alasan yang aku tidak tahu apa sebabnya.
Panel pintu bergerak, aku yakin kau menyusulku. Tapi aku tidak mengindahkanmu, aku merebahkan semua rasa lelah dibadanku di kasur. Memejamkan mata membelakangi arah kedatanganmu, aku berdoa semoga kau tidak mengangguku dengan rasa rindu yang baru saja kau ucapkan yang menambah beku hati ini.
“Indah…kamu kenapa?” Tanyamu tanpa rasa bersalah
“Tidak rindukah dengan Suamimu ini.” Sambil berkata itu, aku merasakan kau juga merebahkan diri dikasur kamar kita, aku tersenyum sakit menyebut kamar kita dihatiku.
“Aku capek, mau istirahat. Jika tidak ada yang penting, jangan ganggu.” Aku berkata tanpa memandangmu, hatiku menangis, Ya Allah jangan jadikan aku istri yang durhaka pada suaminya. Tapi ini bukan kehendakku, kau yang membuat aku durhaka.(bersambung)
***









