Aku galau, fikiranku kalut bayangan dalam cermin yang ku pandang saat ini sangat seksi, lihat saja belahan dada dari bajuku menonjolkan gundukkan gunung yang sepertinya malu – malu tapi mau menunjukkan keberadaannya. Tinggal mengeser sedikit saja kainnya maka akan nampak gunung kembarku.
Aku menghela napas panjang, pengajian semalam sore, isi ceramahnya masih tergiang diteligaku, membuatku takut akan dosa.
“Sebagai wanita muslimah tentu berharap mendapatkan pasangan yang baik, untuk itu benahi diri menjadi lebih baik maka jodoh kitapun menjadi baik.” Kata Ustazah mengakhiri ceramahnya.
Bagaimana aku akan mendapatkan jodoh yang baik jika aku masih mengumbar keseksian tubuhku. Aku memandang lama ke arah cermin yang berada di depanku. Satu persatu baju di lemari, aku keluarkan, mencari baju yang bisa menutup keseksian tubuhku jika memakainya. Tapi nihil, aku memandang semua baju yang bahannya kurang sewaktu dijahit.
Aku masih memandang cermin di depanku, tidak salah lagi karena aku yang mengumbar keseksianku, laki – laki yang dekat denganku, lelaki yang hanya menginginkan tubuhku bukan hati dan jiwaku
Hampa itu yang kurasakan saat ini, umurku tidak muda lagi. sudah kepala tiga tapi aku masih sendiri. Aku melihat beberapa kerut yang sengaja aku sembunyikan dari pandangan mata yang melihatnya. Alat kecantikan dari pondation serta entah apa lagi yang ditawarkan oleh cometik aku jabani hanya untuk menutup kerut di wajahku ini.
Tapi semua tidak bisa dipungkiri, umur tua tidak akan bisa ditutupi dengan hanya menggunakan cometik saja. Untuk operasi plastic, kantongku bukan tipe yang banyak uangnya hanya gaji sebesar empat jutaan untuk level kampungku sudah cukup besar. Aku tersenyum mengingat itu, bagaimana tidak aku bekerja pada perusahaan mabel yang tokeynya, aku tahu menyukaiku dan aku memanfaatkan itu untuk mendapatkan gaji yang tinggi serta fasilitas diluar gajiku.
Menemani makan dan jalan, tapi sekarang aku sudah bosan dengan semua gombalnya yang tidak kunjung menikahiku. Alasan klise yang membuatku tidak lagi mau mempercayainya, izin istri belum keluar katanya. Entah iya atau tidak dia meminta izin dari istrinya, yang pasti aku yakin dia hanya ada maunya denganku. Untung saja aku bukan perempuan bodoh yang bisa ditipunya, kalau sekedar jalan dan makan mungkin itu hal biasa, tapi bertahan untuk berapa lama, aku yakin sebentar lagi saja.
***
Tegap pasti kulangkahkan kakiku hari ini, penampilanku berubah 360 derajat. Memang dratis, pagi ini dengan yakin, aku menuju kantor dengan menggunakan baju gamis yang ku beli beberapa waktu lalu, setelah aku yakin akan menutup semua aurat yang selama ini aku umbar. Pandanganku sekali lagi aku lemparkan kearah kaca depanku, tepat dimanan aku berdiri, melihat penampilan baruku pagi ini. Sejuk merayapi hati melihat penampilanku, berharap dari hijrahku aku mendapatkan sesuatu yang menenangkah jiwa ragaku.
Jilbab coklat tua yang menjadi warna kesukaanku sudah bertenger manis di kepala, tidak lupa aku memakai bros baju dari mutiara yang berbentuk bunga, baju gamis warna coklat muda aku padu padankan dengan jilbab coklat tuaku. Aku melihat Aura keibuan terpancar dari wajahku, jauh berbeda dengan penampilanku sebelumnya seperti wanita penghibur saja.
“Ah sudahlah itu sudah berlalu.” Batinku tak perlu difikirkan sekarang aku ingin hijrah.
Setelah puas dengan penampilan baruku, aku menuju garasi. Menekan remote mobil Aylaku yang berwarna merah menyala. Ku buka pintunya, dengan membaca bismilah aku duduk dikursi kemudi, memasukkan kunci di tempatnya dan mulai menghidupkan mesin. Pelan tapi pasti, mobilku mulai meninggalkan garasi rumahku menuju kantor. Tidak butuh waktu lama hanya 25 menit aku sudah sampai ditempat aku bekerja. (bersambung)







