Bukan Cinta, Tapi Aku Terlanjur Sayang (Part 3)

Cerpen, Fiksiana457 Dilihat

Hening, suasana di kamarku hening Ibu sudah terlelap dalam tidur yang aku yakin tidak nyenyak. Mataku tidak bisa dipejamkan, jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 9 malam setelah sholat Isya’ tadi ibu terlelap dalam isak tangis yang ditahannya. Aku memandang iba keadaan Ibu, setelah memastikan Ibu tertidur aku melangkah keluar, aku harus berbicara dengan Ayah, harus.

Aku melihat kelebat Ayah di ruang tengah, Ayah belum beranjak dari tempat duduknya setelah Aku dan Ibu meninggalkannya tadi. Aku mengambil posisi duduk di depan Ayah, memandang lekat wajah yang sampai detik sebelum beliau menceritakannya aib yang selama ini disimpannya rapat Ayah adalah yang sempurna buat diriku sekarang tidak lagi. Wajah lelah di depanku membuatku muak tapi aku harus bertanya kepadanya, mengapa sampai melukai hati Ibuku yang begitu mengabdi kepadanya.

“Maafkan Ayah.” Kata itu keluar begitu saja dari mulut Ayah

“Ayah tidak perlu meminta maaf, Ila hanya meminta Ayah memberikan Ila satu alasan mengapa sampai Ayah menyakiti Ibu dengan wanita lain.” Emosiku tak bisa aku tahan lagi, tidak pernah aku meninggikan suaraku kepada Ayah, tapi malam ini aku terpaksa karena aku melihat luka dimata Ibu.

“Ayah khilaf Ila, tapi Ibu tetap memaksa Ayah untuk tetap menikahi Ibu Ruhila dengan janji jangan sampai semua ini Ila tahu, Tetap bersikap seperti tidak terjadi apa – apa, Ayah terpaksa mengikuti kata – kata Ibu, karena Ayah sangat mencintai Ibu walaupun Ayah tahu Ayah sudah mengecewakan Ibumu. Ayah tahu Ibu menyimpan semua kekecewaannya kepada Ayah, tapi Ayah tidak tahu hati Ibu terbuat dari apa sehingga Ia tidak mau Ayah melakukan satu kesalahan lain dengan menyia – yiakan adikmu Ruhila menurut Ibumu Ruhila tidak bersalah, jadi jangan sampai Ruhila merasa menjadi anak yang tidak dikehendaki kehadirinya oleh orangtuanya.

Mungkin Ila bertanya – tanya kenapa selama ini, Ayah setiap malam minggu ada pekerjaan. Ayah bukan pergi bekerja tapi Ayah harus menemani Adikmu Ruhila atas izin Ibumu. Ibumu sudah mengatur bagaimana Ayah harus adil kepadanya dan Ibunya Ruhila, tapi nasib berkata lain. Ibu Ruhila terkena kanker paru – paru, sehingga hampir setahun ini Ayah selalu beralasan keluar kota. Untung saja Ila tidak curiga sehingga, itu yang selalu di katakana Ibu kepada Ayah. Sudah sebulan Ibunya Ruhila meninggal, Ayah bingung mau tidak mau Ayah terpaksa membawa Ruhila kemari, Ibu sebenarnya tidak mau membuat kamu sedih karena Ibu tidak mau Ila menjadi membenci Ayah.” Ayah menjeda ceritanya dengan memandang wajahku menghembus napas berat dan berusaha meraih tanganku. Tapi aku menarik tanganku dan berusaha menjaga jarak dengan Ayah.

“Apakah Ibunya Ruhila cantik sampai Ayah tergoda kepadanya?” Tanyaku kepada Ayah dengan menahan emosiku

“Maaf, Ayah termakan ucapan bibimu. Ibumu tidak bisa memberikan Ayah anak selain dirimu karena Ibu bermasalah dengan rahimnya. Sementara keluarga Ayah menginginkan anak laki – laki. Akhirnya keluarga Ayah meminta Ayah menikah dengan sepupu Ayah yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan Ayah tapi Ayah menolaknya karena Ayah lebih memilih menikahi Ibumu.” Cerita Ayah membuat kepalaku bertambah pusing.

“Maafkan Ayah Ila, Ibumu terlalu sempurna sehingga Ayah selalu menuruti apapun yang dikatanya. Tapi Ayah selalu saja menyakiti hatinya, ayah tidak bisa lagi menyimpan air matanya yang sudah dari tadi mengantung di kelopak matanya, akhirnya Ayah menyusut airmata yang berani keluar dari sudut matanya dengan mengesat cepat berusaha untuk tidak menampakkan airmatanya dari aku. (bersambung)

Tinggalkan Balasan