Sejak dari malam tadi kepala dan perutku bagaikan tidak bersahabat, Adam, suamiku masih meringkuk dengan bantal gulingnya seperti tidur mati, jengkel aku dibuatnya. Azan subuh sudah lewat, aku kesal tapi aku berusaha bangun untuk sholat subuh. Akhirnya bukannya sholat yang aku kerjakan aku malah menangis kesakitan di kamar mandi, sudah 1 jam aku duduk menahan sakit kepala dan perut yang terus mengocok sehingga seluruh tulang belulangku rasanya lepas dari badanku, teramat sakit sehingga aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku.
Warna biru langit – langit kamar yang kupandang bukan pemandangan biasa dari kamarku, dimana aku? itu pikiran pertama yang terlintas dibenakku. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi, seingatku terakhir kali, aku terduduk lemas di kamar mandi rumahku setelah itu semuanya gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku mencari seseorang di kamar ini, tapi tidak ada siapa – siapa, aku hanya seorang diri di sini. Mataku sudah panas dengan airmata yang sudah mengantung penuh memenuhi kelopaknya tapi Aku menahannya, aku tidak boleh cengeng semakin kuat aku menahan rasa ini, semakin rasanya airmata ini jatuh. Akhirnya aku biarkan semuanya tumpah dan mengalir membuat aliran sungai di pipiku.
Clek!
Suara pintu dibuka, aku melihat seseorang masuk, perempuan dengan pakaian perawat.
“Aah.” Ternyata aku berada di rumah sakit batinku.
“Sudah sadar Bu.” Sudah enakkan sembari memberikan senyumannya kepadaku
“Mbak melihat suami saya?” Tanyaku kepada Perawat
“Lho bukannya tadi disini.” Jawabnya singkat
Setelah memeriksa semua, perawat keluar sambil memberikan selembar kertas untuk menebus obatku.
“Banyak – banyak istrirahat, kandungannya masih lemah.” Setelah mengatakan itu perawat meninggalkan aku sendiri.
Ya Allah kemana perginya Adam, terlalu. Aku bagaikan tidak bersuami, sedang sakit saja bisa – bisanya dia meninggalkan aku sendiri. Jika sehat tentunya aku tidak akan marah, sudah sering Adam menyepelekanku. suatu kali demi acaranya yang hanya kumpul dengan teman alumni, sudah lama tidak berjumpa, dia meninggalkan aku yang sedang sakit. Padahal banyak hal yang lebih penting yang seharusnya dilakukannya dirumah. Aku menghembus napas berat, ternyata aku yang sudah dibesarkan dengan penuh disiplin bertemu dengan Adam yang selalu menganggap semuanya santai menjadi kacau, tapi aku tidak menyangka akan sekacau ini. 2 jam sudah berlalu tapi Adam belum juga nampak batang hidungnya, sudah waktunya untuk aku diperiksa oleh dokter jaga. Akhirnya aku hanya diperiksa, sementara obat tidak bisa aku makan karena tidak ada yang menebus obatku.
Hilang semua asa untuk tetap mempertahankan sesuatu yang tidak mungkin aku perjuangan sendirian, tak akan aku biarkan diriku berjuang sendiri jika hanya sakit dan luka yang kuterima. Lelah biarlah aku lelah sendiri daripada berdua rasanya sendiri. Putus sudah tekatku tak ada lagi yang bisa menghalang keinginan ku meninggalkan mu Adam. Aku akan berjuang sendiri untuk diriku dan anak yang kukandung ini. aku akan mendidiknya dengan caraku, pelan tapi pasti aku menutup mata berharap bisa tertidur setelah bangun aku berharap keputusaanku tidak akan goyah, tak bisa, dan tak mau lagi, aku berjuang biarkan aku pergi, akhirnya aku menangis menyesali diri.***












Menarik, terus berkarya dan pertajam klimaksnya bu.