Celoteh Nyakbaye, Merindu

Cerpen, Fiksiana308 Dilihat

Nyakbaye menulis cerpen tiga pragrap hari ini, semoga berkenan.

 

Masih sama, tak ada yang berubah. Pancaran mata yang selalu menyejukkan, tutur kata menyentuh kalbu selalu menyejukkan sukma aku selalu terlena dibuatnya, senyum yang tersungging manis dibibir tipis miliknya. Belum lagi sentuhan yang selalu menghangatkan jiwa seakan tidak ada gundah yang bisa datang jika kau sudah ada didekatku, tak rasa taku yang bisa membuat jiwaku merasa gentar hanya rasa aman dan nyaman kehadiranmu.

 

“Apa kabar lama tidak bertemu.” Suara itu selalu tergiang di telingaku masih sama dan tetap tak berubah.

Aku tak berkedip melihat penampilan barunya. Lihatlah baju gamis yang tidak mengurangi kecantikannya, lambaian jilbab syar’inya menambah kecantikannya. Sungguh aku semakin terpaku dengan pesona yang sekarang berdiri di depanku, aku mati gaya karenanya. Sungguh ciptaan-Nya yang maha sempurna tidak ada cacat celanya, sungguh aku memujanya.

 

Lamunanku buyar ketika sentuhan di tanganku, aku mencari keberadaanya tapi tidak ada. Netraku melemah sudah tujuh tahun kami berpisah, pertemuan yang tak disengaja membuat rindu mengebu, ternyata masih ada rasa yang tersisa. Putih abu – abu membuatku bertanya apakah rambut hitam panjangnya masih tersimpan rapat dipanjangnya jilbab syar’inya saat ini, seandainya aroma manis itu masih bisa aku hidu, seperti masa putih abu – abu, entahlah yang pasti saat ini, dipertemuan ini membuat rasa rinduku semakin mengebu, tunggu aku rindu tetap menjadi merindu seiring tangan lain mengenggam tanganku.***

 

 

Tinggalkan Balasan