Netraku perih, tidur tidak pulasku ada sejuta resah melanda hidupku akhir – akhirnya semua rasanya seperti dari jatuh dari langit menimpa kepalaku semuanya. Ya Allah jika rasa cintamu yang besar kepada hambamu, maka berikan aku kekuatan untuk menjalani semuanya, batinku sambil memijit kepala yang tiba – tiba terasa pusing.
Mengumpulkan segenap jiwaku sebelum aku membangunkan diri dari tempat tidur, melihat sepintas ke arah jam di nakas, jarum jam menunjukkan angka dua lewat empat puluh lima menit. Hanya satu niatku menyampaikan semua keluh kesahku kepada sang pencipta.
Tak terasa azan subuh bergema, aku larut dalam doa panjang meminta segala kekuatan untuk menghadapi semua kemelut hidupku saat ini.
Jam segini suamiku, Bang Rustam belum juga nampak batang hidungnya. Setelah semalam kami panik mencari solusi untuk operasi anakku.
Dengan kekuatan yang tersisa aku menguatkan jiwa dan ragaku untuk melalui hari ini, setelah melipat peralatan sholat aku melangkahkan kaki menuju dapur untuk memulai aktivitas pagi menyiapkan sarapan sederhana, nasi putih, telor ceplok, sayur bayam campur toege bening serta sambal belacan.
Tidak butuh lama aku menyiapkan sarapan sederhana untuk keluarga kecilku, nasib anakku yang kedua membuatku meneteskan air bening dari netraku yang sejak semalam tak berhenti menangis.
Tangis anak keduaku, menyadarkan aku dari sedih yang teramat dalam. Melangkahkan kaki menuju kamar lain dirumahku yang hanya memiliki dua kamar, disana kedua anakku tidur berbagi.
Langkahku terhenti ketika melangkah masuk, melihat si abang berusaha menenangkan adiknya yang dalam kondisi yang tidak baik saat ini, aku menghapus tetes air bening yang tidak memandang situasi, aku tidak mau menangis dihadapan mereka anak – anakku.
Aku harus kuat, harus kuat aku menyakinkan hatiku saat ini, melangkah mendekati mereka berdua merangkul mereka erat seakan ingin menyalurkan rasa aman yang mereka butuhkan, sementara aku sendiri tidak merasa aman sama sekali.
Rengekan si kecil mengiris hatiku, akhirnya kami larut dalam tangis dengan pikiran masing – masing.
***
(bersambung)










