Langkahku terhenti, suasana sepi membuatku mendengarkan suara yang aneh – aneh saja. sejak masuk ke rumah ini aku belum pernah merasakan hal seperti ini, tiba – tiba bulu romaku tegak. Ada rasa tak nyaman, kepalaku mulai mencari sumber suara yang membuatku merasa tidak nyaman.
Ya allah aku mulai komat kamit membaca asma Allah, aku jadi jengkel dengan suamiku Bang Ilham. Bang Ilham kalau sudah tidur hanya bom meledak saja yang bisa membangunkannya, sudah sering aku membicara rasa tidak nyamanku akan suara ane itu tapi itu hanya dianggap angin lalu oleh Bang Ilham.
Lihat saja setelah sholat isya, dengkur halus dari mulut sexy Bang Ilham terdengar pahadal aku belum mengunci semua pintu yang menjadi tugas rutinku setiap malam. Jengkel sangat menjengkelkan padahal ini malam jumat, sudah menjadi tanggung jawabnya menemaniku mengunci pintu itu sudah janji kami.
Hanya karena katanya banyak kerjaan di kantor, sehingga selepas isya tadi Bang ilham sudah menjemput mimpinya, dan meninggalkanku sendiri untuk mengunci pintu dengan rasa yang sungguh membuatku mati suri rasanya.
Ya malam jumat suara aneh itu malah menyeramkan dari hari biasanya, batinku nelongso.
Tinggal pintu belakang lagi yang tinggal aku lihat sebelum semua penyiksaan suara aneh untuk malam jumat ini.
Belum juga aku sampai di pintu belakang, suara aneh itu sudah meneror langkahku terhenti, aku melihat ke sudut dapur semuanya aman, tidak ada yang aneh hanya suara itu saja yang makin jelas terdengar seperti tangis yang menyayat hati, ya Allah jangan sampai aku melihat wujudnya suaranya saja sudah membuatku takut setengah mati.
Akhirnya aku berlari menuju ruang tengah meninggalkan ruang belakang tanpa pengecekan sungguh aku tidak sanggup untuk malam ini. Rasa aman setelah melewati ruang tengah tinggal beberapa langkah aku sampai di pintu kamar, deg jantungku hampir terlepas dari cangkangnya aku melihat kelebat putih berdiri di samping kamarku, bagaimana ini aku harus lari kemana. Suaraku tercekat di tenggorokan, aku tidak bisa menjerit untuk memanggil Bang Ilham. Akhirnya aku mencapai pot bunga yang terletak di meja sudut ruang tengah, melemparnya dengan keras sehingga menimbulkan suara keras menyatu dengan pintu kamarku, berharap Bang Ilham akan bangun dan membantuku saat ini.
Aku sudah tidak kuat lagi, kesadaranku semakin lemah hanya tinggal titik kelabu dan akhirnya aku tidak ingat apa – apa lagi.
***
Bau minyak yang menyengat dihidungku membuatku mulai sadar, perlahan aku membuka netraku, wajah Bang Ilham terlihat jelas cemas.
“Hana, sudah berapa kali Abang bilang jangan suka nonton film horror, lihat apa yang terjadi sekarang malah ketakutan sendiri, satu lagi jangan suka meletakkan jilbab sembarangan mengganggu.” Ucapan Bang Ilham membuatku teringgat jangan – jangan jilbab putihku yang aku sangkut dipintu kamar yang aku lihat tapi membayangkan yang tidak – tidak, batinku.
“Sudah berapa lama kran di kamar mandi bocor, sehingga mengeluarkan suara aneh jika suasana sepi.” Sekali lagi aku merutuki diri ternyata aku hanya ketakutan sendiri.
“Besok nonton lagi film horror.” Aku melihat raut jengkel dari wajah Bang Ilham sebelum meninggalkan aku sendiri.***









