Putih Abu – abunya Kamal (1)

Cerpen, Fiksiana343 Dilihat

Pagi ini dengan tergesa – gesa aku melangkah ke sekolah, jam pelajaran pertama dengan Bu Mar membuat aku sedikit cemas, sebagai ketua kelompok tentu aku akan di tanya bagaimana perkembangan tugas kelompok yang diberikan olehnya.

“Udah lama?”

“Belum, baru juga datang.”

Itulah pembuka pertemuanku pagi ini dengan Tiara, temanku sedari Sekolah Dasar. Sekarang kami sudah duduk di kelas XI MIPA 3 SMA Negeri di daerahku.  Menurut guru – guru yang kelasnya bernomor angka 3 dari kelas X sampai dengan XII baik MIPA maupun IPS luar biasa nakalnya. Pratiwi, semua teman di kelas memanggilku Tiwi. Hanya satu yang suka memanggilku dengan nama prat yang jahil mengganti hurup A menjadi E, bisa dibayangkan bagaimana  bunyinya bukan.

 

Sudah beberapa hari ini, sosok yang suka menjahiliku dengan memanggil namaku Prêt tidak kelihatan, bukannya aku rindu dengan kehadirannya tapi lebih kepada takut jika penyakit lamanya di kelas X kambuh. Tentu tidak terbayangkan bagaimana tugas kelompok yang diberikan oleh ibu Kimia tidak akan selesai tepat waktu. Konsenkuensinya pasti kami akan mendapatkan angka merah di raport, tentunya.

 

Belum lagi suara berat dari Ibu Kimia yang bisa membuat gendang telinga mau pecah jika sudah ia meneriaki kami karena kesal tugas yang diberikan tidak kami selesaikan tepat waktu. Tak terbayangkan.,Mudah – mudahan hari ini aku melihat kehadirannya di sekolah.

 

Bel berbunyi, tapi sosok yang kutunggu tidak menampakkan batang hidungnya. Ya Allah, jangan sampai hari ini dia tidak hadir lagi ke sekolah. Sudah lebih dari 3 hari. Biasanya tidak ada siswa di sekolahku yang berani bolos 3 hari berturut-turut. Jika berani tentunya akan mendapatkan surat panggilan orang tua, dengan poin 3 tentunya.

 

Aku melihat Tiara sudah duduk di tempat duduknya, sambil membuka-buku pelajaran Kimia, jam pertama adalah pelajaran Kimia. Tidak ada pekerjaan rumah alias PR, tapi kami  satu kelas sudah tahu kebiasaan Bu Mar yang selalu memberikan kuis jika masuk kelas.

“ Ra, sudah 4 hari tapi Kamal belum masuk sekolah juga?” kataku kepada Tiara

“ Hmmm” Tiara menjawab pertanyaanku dengan hanya mengeluarkan suara sengau begitu.. Aku menutup buku Kimia yang lagi dibaca Tiara, berharap Tiara akan memperhatikan aku dan mau membahas tentang tugas yang diberikan ibu Mar. Aku, Tiara dan Kamal satu kelompok tapi kelihatannya Tiara santai saja, tidak ambil pusing tentang tugas yang diberikan ibu Mar yang hanya tinggal 1 minggu lagi harus kami kumpulkan.

 

Tuk…tuk…tuk bunyi sepatu pansus bu Mar sudah kedengaran menghampiri kelas, dadaku sesak sebagai ketua kelompok pasti aku akan di tanya tentang perkembangan tugas kelompok yang diberikan. Bu Mar sudah berdiri di depan kelas, Amir ketua kelas kami berikan aba – aba

“ Bersiap, sebelum memulai pelajaran marilah kita berdoa. Berdoa mulai.”

Suasana hening beberapa saat

“ berdoa selesai, beri salam”

“ Assalamualaikum wr wb “ suara koor siswa satu kelas memberikan salam kepada ibu Mar.

“ Walaikumsallam.” Sambil tersenyum bu Mar menyambut salam kami.

“ Sehat, anak – anak?”

“ Bagaimana kabarnya?”

“ Sudah siap untuk memulai pelajaran hari ini?”

Tiga pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh ibu Mar setiap akan memulai pelajarannya. Aku sempat berfikir, jika ada salah satu dari kami yang menjawab tidak siap untuk belajar, apakah bu Mar tidak jadi mengajar hari ini.

“ Tiwi” aku tersentak mendengar namaku dipanggil ibu Mar. Mati aku, pasti bu Mar melihat aku senyum – senyam sendiri. Sudah menjadi kebiasan bu Mar akan bertanya kepada siswa yang ia rasa tidak memperhatikan ketika ia sedang berbicara.

“ Iya bu”  jawabku

“ Iya apanya,  yang lagi kamu lamunkan sampai senyum – senyam sendiri.

“ Tidak melamun Bu, hanya gembira saja melihat Ibu hari ini sehat.” Kataku mencoba memberikan jawaban yang mudah – mudahan membuat bu Mar tidak marah.

“ Pintar kamu ya, tapi terima kasih sudah mendoakan saya sehat.” Kemudian bu Mar melemparkan pandangan kearah semua kami yang duduk manis di depannya.

“ Siapa yang sudah mengerjakan tugas kelompok yang saya berikan” Mati aku pasti bu Mar akan bertanya kepada semua ketua kelompok, hatiku mulai tidak tenang. Jawaban apa yang akan aku berikan jika bu Mar bertanya kepadaku, semua gara – gara Kamal. “ “ Kamal jangan lupa untuk mencari referensi dari tugas yang diberikan ibu Mar, secepatnya serahkan kepadaku” sambil menantap tajam mengingatkan tugas yang harus di kerjakan kamal.

“ Insyaallah kalau ingat.: jawaban santai dari Kamal cukup memancing emosiku.

“ Aku tahu kamu pintar Kamal, tapi hargai aku sebagai ketua kelompok. Aku tidak mau gara – gara kamu, Aku dan Tiara kena getahnya.

“ Memangnya kamu makan nangka sampai kena getahnya?” cuek menjawab perkataanku, kamalpun berlalu. Tiara senyum melihat aku membesarkan mataku memandang ke arah Kamal yang sudah berlalu dari hadapanku.

“ Percuma aku marah wi, orangnya sudah pergi.” Ucapan Tiara membuatku sadar kalau Kamal sudah menghilang dibalik pintu kelas. Itu kejadian minggu kemaren setelah bu Mar memberikan tugas kelompok.

“ Oh ya hampir saya lupa, tiwi untuk sementara waktu tugas kelompokmu harus di kerjakan berdua Tiara saja. Kamal tidak akan masuk sekolah selama 1 bulan ini, 4 hari lalu kamal kecelakan kakinya patah.” Perkataan bu Mar membuat aku dan Tiara saling berpandang.

“ Iya bu” aku dan tiara menjawab bersamaan.

“ Karena kalian hanya berdua mengerjakan tugas kelompoknya, saya berikan tambahan waktu 1 minggu untuk mengumpulkannya (bersambung)

Tinggalkan Balasan