Tali Kasih Lama

Cerpen, Fiksiana382 Dilihat

Riuh rendah memenuhi ruangan reuni saat ini, aku baru beberapa menit lalu sampai. Genggaman erat tangan Bang Rasyid membuatku merasa dia cemburu terhadap diriku. Bagaimana tidak sejak aku memutuskan untuk menghadiri reuni ajakan teman – teman masa putih abu – abu kami selalu saja berdebat karenanya. Banyak sekali alasannya yang diberikan oleh Bang Rasyid untuk tidak mengizinkan aku menghadirinya. Tapi semua alasanya yang diberikannya bisa aku patahkan dengan alasan yang tidak aku buat – buat dan akhirnya kami hadir disini saat ini.

 

“Intan, intankan?” suara itu membuat genggaman Bang Rasyid semakin kencang di tanganku.

Netranya sudah tidak lagi bersahabat, ada kemarahan di sana, aku melepaskan genggaman tangan Bang Rasyid dan beralih memberikan pelukan dipinggang kekarnya sambil tersenyum kearah suara yang baru saja menyebutkan namaku.

“Assalamualaikum, apa kabar Har. Kenalkan ini suamiku.” aku memberikan salam kepada Harianto.

Ya namanya Harianto, teman putih abu – abuku yang memberikan cerita tersendiri buatku. Dulu aku masih terlalu naïf, aku terlalu egois dan suka cemburu. Tapi Har, panggilan kecilku untuk Harianto, selalu memberikan rasa nyaman karena kekerasaan kepalaku.

“Walaikum salam, kenalkan Harianto.” Harianto mengelururkan tangannya kepada Bang Rasyid.

Aku menyubit pingang Bang Rasyid, yang tidak juga menyabut uluran tangan Har.

Setelah basa basi sebentar bersama Har, aku menarik Bang Rasyid untuk mengikuti langkahku. Aku tahu Bang Rasyid tidak betah jika ada pria yang beramah tamah denganku.

Selama acara berlangsung badan kaku Bang Rasyid bertambah kaku, terlihat jelas dia tidak nyaman dengan suasana reuni.

Senyumku tersimpul di bibir, si kaku terpaksa hadir untuk menemani si supel seperti diriku, bukannya terlalu percaya diri tapi aku idola sewaktu putih abu – abu, apalagi aku belum pernah hadir keacara reuni sehingga saat ini aku mendapatkan sambutan yang luar biasa dari teman – teman putih abu – abuku.

Si beku Rasyidku, sudah gelisah netranya dari tadi memandang sinis kepada semua teman pria putih abu – abuku yang mengulang cerita bagaimana aku dulu menjadi primadona. Tapi sekarang mereka tambah mengagumiku karena sudah hijrah, baju gamis serta jilbab syari melambai di kepala bukan lagi rambut hitam legamku yang panjang mengurai sewaktu putih abu – abu.

Akhirnya aku bisa berlapang dada, kami sudah tiba di rumah. Tepatnya kamarku, si kaku Bang Rasyid masih memasang wajah bajanya yang sedari tapi pagi sampai acara reunian usai tetap ditekuk tanda masih dalam mode marah entah pada siapa, karena aku tidak merasa membuatnya marah sedikitpun.

Aku hanya tidak mau dibilang sombong pada chat grup wa alumni, karena aku tidak pernah hadir pada setiap acara reuni yang rutin mereka adakan selama dua bulan sekali. Tapi kali ini aku harus hadir guna mengusir cap sombong dari semua teman putih abu – abuku.

Bang Rasyid bukan dari sekolah yang sama denganku, aku mengenal si kaku Bang Rasyid ketika kuliah, dia seniorku yang mengingatkan sosok Har mereka bagaikan pinang dibelah dua, kembar tapi d, hari orangtua yang berbeda. Hanya sifat mereka yang sangat berlotak belakang, Har selalu ramah dan bersahabat, sementara Bang Rasyid kaku tapi karena kegigihanya mendekati membuat aku luluh dan menerimanya.

Bang Rasyid meluluhkan dengan segala kekakuanya, pada awalnya aku memilih Bang Rasyid karena dia mengingatkanku akan Har, tapi lama kelamaan rasa itu berubah menjadi rasa nyaman senyaman bersama Har pada masa putih abu –abu. (Bersambung)

***

Tinggalkan Balasan