Tentang Rasa

Netraku tertumpu pada gelas yang jelas penuh, karena tidak ada niat sedikit aku untuk meminum airnya. Khayalanku berkelana ke negeri antah brantah, pikiranku kacau sejak pertemuan yang tidak aku inginkan, luka itu kembali mengangga dan mengeluarkan darah yang hanya aku bisa melihat dan merasakannya.

Jika orang mengatakan cinta pertama memberikan kenangan yang tidak akan terlupakan, mungkin inilah rasanya, aku selalu merasa tersiksa jika bertemu dengannya, selalu ada rasa yang membuatku tersiksa.

Fahri satu nama yang selalu menjadi luka mengangga di hatiku, teman abangku yang telah mengambil hatiku saat pertama bertemu pertama kali.

Flashback

“Fa, buatkan minum buat teman Abang.” Aku terkejut mendengar suara Bang Alan yang tiba – tiba nongol setelah pintu kamarku terbuka.

“Sekalian dengan kue jika ada.” Aku memandang cemberut ke arah Abangku.

“Farah lagi belajar Bang.” Ucapku malas

“Ujianmu tidak akan gagal hanya membuatkan minuman buat Abang, Fa.” Aku mengeluh bukannya mendukung adiknya belajar untuk ujian Akhir di SMA rutukku dalam hati.

“Iya , iya sebentar lagi minumannya diantar.” Ucapku kesal tapi tetap berjalan menuju dapur.

Dengan mendumel aku berjalan menuju ruang tamu, deg mataku tidak mengerjap melihat sosok yang sedang duduk dengan Bang Alan, begitu sempurna entah karena apa tanganku tiba – tiba saja menjadi gemetaran dengan merapal doa aku berharap nampan yang ku bawa tetap utuh sampai ke tujuan jangan sampai tertumpah isi dalamnya karena aku merasa gugup menatap makluk sempurna cipta-Nya yang mampu mengoda imanku.

Dengan kekuata penuh aku berhasil meletakkan semunya di atas meja tamu, netraku melirik ke arah makluk sempurna itu, umurku baru dua bulan ini tujuh belas tahun belum pernah aku menyukai yang namanya makluk lelaki, karena aku selalu berfikir mahkluk yang berjenis kelamin lelaki pasti menyebalkan seperti Abangku Alan yang selalu memerintah seenak perutnya saja.

“Katanya mau belajar, terus kenapa pasti mematung di sini.” Ucapan yang tidak berprikemanusiaan terdengar dari mulut Abangku, menjengkelkan bukan berterima kasih malah mengusirku dengan kejam.

Aku mencebikkan bibirku dan meninggalkan Abangku sambil mencuri pandang ke arah temannya yang memandangku dengan senyum yang membuat anganku melayang.

***

Aku tersenyum mengingat waktu itu, dengan lugunya aku menyatakan suka kepada Bang Fahri tapi harapanku terlalu tinggi, kedekatanku bersamanya selama mendaftar keperguruan tinggi karena Bang Alan tidak bisa menemani karena mengalami kecelakaan ku artikan lain. Dan akhrinya hanya kata aku dianggap sebagai adik menbuat luka dengan cinta pertamaku, sejak itu aku membentang jarak antara kami, akhirnya aku memilih untuk pergi jauh dari keluarga dengan  alasan ingin mandiri, walaupun aku melihat wajah tidak rela dari Bunda melepas aku pergi kuliah jauh darinya.

Lima tahun telah berlalu, setahun pula aku kembali ke kota kelahiranku. Bekerja sebagai guru bahasa membuatku selalu mencurahkan rasa resah, luka dan rindu dalam bentuk cacatan berupa cerpen, puisi dalam kelompok pengemar blog yang aku ikuti.

***

Suasana meriah pernikahan Bang Alan tidak membuatku merasakan hal yang sama, aku berusaha menata hatiku, memandangnya membuat semuanya hancur, usahaku sia – sia selama ini menyusun pecahan hatiku yang dirusaknya.

Aku memilih menyembunyikan diriku,  duduk di sudut ruangan dengan memandang gelas yang berisi air berwarna yang sebenarnya menggugah rasa, tapi entah kemana perginya rasa hausku akhirnya air ini hanya menjadi penyedap netra bukan pelepas dahaga.

Langkah tegap menghampiriku, dengan engan aku melihat ke arah datangnya suara sejuta rasa aku merapal doa semoga pandanganku salah dan dia tidak sedang mengarah ke tempatku sekarang ini.

“Farah lagi di cari sama Alan, diajak foto bersama.” Aku memandangnya sepintas mengelak mata elangnya, menganggukkan kepala aku bangkit dari duduk berjalan mendahuluinya.

“Fa, hati – hati dengan bajumu.” Ucap Bang Fahri

Bukannya memelankan langkahku, tapi jalanku semakin cepat. Aku menjinjing gamisku untung saja aku selalu memakai dalam celana dan kaos kaki, sehingga tidak mengumbar auratku. Dengan terengah aku sampai di pelaminan Bang Alan. Senyum Bang Alan dan kakak iparku tak lepas dari wajah mereka.

“Kenapa napasmu Fa, sini disebelah Kakak.” Ucap kakak iparku.

Sementara di sebelah Bang Alan sudah berdiri dengan anggun Bunda, ada air kecil di sudut neter. Dengan terengah aku sampai di pelaminan Bang Alan. Senyum Bang Alan dan kakak iparku tak lepas dari wajah mereka.

“Kenapa napasmu Fa, sini disebelah Kakak.” Ucap kakak iparku.

Sementara di sebelah Bang Alan sudah berdiri dengan anggun Bunda, ada air kecil di sudut netraku, Ayah tidak bisa menyaksikan pernikahan Bang Alan, Ayah sudah tenang di sana.

Terdengar suara fotografer mengarahkan gaya kepada kami, aku berusaha fokus dengan fotografe tapi sudut netraku cemas melihat dari tadi pandangan Bang Fahri tidak lepas dariku.

“Selesai.” Ucap fotografer setelah mengambil beberapa foto.

“Fa, kita foto lagi ya.” Ucap Bang Alan, belum sempat aku melangkah turun permintaan Bang Alan terdengar.

Tangan kakak iparku melingkar manis di lenganku, langkahku tertahan. Tapi aku tidak melihat permintaan Bang Alan terdengar.

Tangan kakak iparku melingkar manis di lenganku, langkahku tertahan. Tapi aku tidak melihat Bunda di sebelah Bang Alan. Sekarang sosok Bang Fahri yang berada di sisi Bang Alan. Aku hanya bisa menghembuskan napas berat, dengan senyum dipaksakan beberapa fose kami diabadikan oleh fotografer.

Ivoria pernikahan Bang Alan sudah usai, hanya tinggal pihak keluarga yang berada di gedung pernikahan. Aku meletakkan tubuhku yang lelah pada kursi yang tidak jauh dari tetua keluarga. Tangan sibuk gawaiku, menulis beberapa bait puisi pada aplikasi notenya, jariku berhenti bergerak ketika bayangan seseorang menghampiriku, mengangkat kepala, deg kenapa harus Bang Fahri yang berdiri tegak dan tanpa aku undang sudah duduk tepat di depanku terhalang meja bundar saja.

“Farah.” Bang Fahri menyebut namaku, aku memandangnya sekilas tidak melihat ada kata sambunganya aku berniat meninggalkan Bang Fahri, belum juga berdiri sempurna diriku

“Fa, duduk dulu kita harus bicara.” Aku mengkerutkan keningku, apa yang harus kami bicara rasanya tidak ada.

“Seperti tidak ada yang harus kita bicarakan Bang.” Ucapku, mengingat lima tahun yang silam bagaimana Bang Fahri tidak mau mendengarkan aku sambil berkata tidak ada yang perlu kita bicara adik kecilku. Jika mengingat itu, hati yang susah payah aku tata hancur lagi.

“Fa, Abang tahu Abang salah tapi cukup sudah lima tahun ini menjadi penyesalan yang berpanjangan buat Abang.” Ucapnya lirih.

Bukan maksudnya mengejek Bang Fahri, tapi senyum yang aku lemparkan kepadanya saat ini karena aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Bang mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk kita bicara, Farah lelah.” Ucapku dan berlalu dari hadapan Bang Fahri menyusul Bunda, Bang Alan dan keluarga yang mulai berajak meninggalkan gedung pernikahan Bang Alan.

Dengan tergesa aku berjalan mensejajarkan langkah dan meraih tangan bunda.

***

“Fa, Fa masih marah dengan Fahri?” aku terkejut mendengar penuturan Bang Alan, minuman yang baru saja mendarat di bibirku sempurna terkeluar, netraku menantap Bang Alan.

“Kenapa Farah harus marah dengan Bang Alan.” Ucapku datar sambil mengelap minuman yang tadi sempurna keluar dari bibirku.

“Tidak marah, tapi menghindar.” Ejek Bang Alan kembali

“Farah tidak menghindar.” Ucapku lagi sambil mencoba menenangkan hatiku

Aku memandang lurus kedepan menatap bunga – bunga yang menjadi peliharaan Bunda yang lagi bermekaran dan menyebarkan harumnya. Tempat favoritku samping rumah yang selalu menemani soreku setelah pulang dari mengajar.

“Bang, ada Fahri di depan.” Suara kakak iparku sempat membuatku terkejut.

Sudah sebulan sejak hari pernikahan Bang Alan, aku selalu menghindar dari telephone maupun chat yang dikirim Bang Fahri.

“Suruh saja ke sini Fahrinya saja sayang.”

Aku bangun dari duduku, belum juga aku beranjak Bang Fahri sudah ada diantara kami.

“Fa mau kemana? Suara Bang Alan membuatku menatapnya jengah

“Lah kan Bang Fahri mencari Abang, ngapain Farah ada di sini.” Ucapku spontan.

“Abang Mencari Farah.” Ucapan Bang Fahri yang spontan membuatku memandang ke arahnya.

“Fa, duduklah kalian perlu bicara.” Ucap Bang Alan yang membuatku merasa terzolimi

“Tak pembicaraan antara kami Bang.” Aku berusaha meniggalkan ruang samping

“Farah, demi Abang dengankan dulu penjelasan Fahri.” Pelukan di pundakku oleh Bang Alan membuatku terpaksa tinggal di tempat dan mengambil posisi dudukku semula.

Henig, aku masih memandang bunga yang bermekaran di sana tapi hatiku layu putiknya tidak pernah lagi mekar sejak saat itu.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

News Feed