Prang…prang…prang, selalu begitu jika amarah pasti barang yang menjadi sasaran empuknya. Aku hanya bisa mengeluh dan mengurut dada saja. entah berapa banyak barang pecah belah yang tidak bernasib baik, entah yang lama atau yang baru selalu menjadi incaran amarahnya yang kadang – kadang aku tidak mengerti kenapa selalu saja begitu.
Malam ini lebih terasa dingin, aku merapatkan sweter yang kupakai. Sudah sejak senja kepala dan hidungku sangat menyiksa. Sebentar – sebentar aku bersin dan mengeluarkan cairan dari hidungku yang cukup membuatku kesusahan untuk bernapas. Sudah pukul setengah tujuh, sebentar lagi pasti dia akan pulang, aku sudah siap – siap untuk mendengarkan amarahnya. Beberapa barang pecah belah sudahku simpan yang ada semua barang dari milamin ataupun plastik.
Panel pintu sudah terbuka, aku melihat sosok laki – laki yang bergelar suami buatku, menghampiriku dan menjulurkan tanganyanya. Menyentuh dahiku dan membelai lembut pucuk kepalaku. Aku masih memejamkan mataku, berdoa dalam hati semoga amarahnya tidak datang. Sudah dua hari aku merasakan sesuatu yang tidak baik dengan badanku, setiap aku berdiri pasti ada kabut hitam didepanku dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.
Hari ini aku tidak bisa apa – apa, kemaren aku mendengar suara amarahnya karena tidak ada makanan yang tersedia sewaktu dia pulang kerja. Sumpah serapah keluar dari mulutnya tapi bagaimana lagi aku tidak bisa duduk apalagi untuk berdiri dan melakukan pekerjaan rutinku mengurus rumah ini.
Langkah menjauhiku membuatku merasa aman, aku masih memejamkan mataku tidak berani untuk membukanya. Sampai aku mendengar suara pintu kamar tertutup kembali. Aku membuka mataku sedikit, aman pikirku. Akhirnya aku memaksakan mataku untuk tidur, biarlah hari ini aku tenang. Dan akhirnya aku sampai ke alam bawah sadarku bermain dengan mimpi.(bersambung)
***












