Aku menghampirinya, bau harum masakkannya membuat aku berselera, padahal sudah 2 hari ini aku tidak makan, entahlah seperti ada yang tidak beres dengan badanku ini. Dengan takut aku mendekatinya, ingin menyapa tapi aku takut.
“Sudah bangun, masih pusing?” tiba – tiba saja Bang Is berbalik dan memandangku dengan tangan memegang sudip ditangannya.
“Mukanya kenapa?” ucapnya lagi
Aku memegang wajahku dengan kedua tanganku, bukan mukaku yang bermasalah tapi jantungku yang takut bang Is marah lagi seperti beberapa hari ini sering terjadi.
Bang Is berjalan menuju kearahku, menarik kepalaku. Mendaratkan ciuman dipucuk kepalaku dan kembali lagi ke pengorengan yang tadi ditinggalkannya sebentar. Aku terpana dengan yang dilakukannya.
“Duduk, jangan terlalu lama berdiri nanti pitam lagi.” ujarnya lembut.
Bagaikan tersihir aku mengikuti perintahnya, duduk manis di depan meja makan. Aku memperhatikan semua gerak – gerik Bang Is. Tara, akhirnya dimeja makan sudah terhidang nasi goreng kampung, telor dadar, telur mata sapi, irisan tomat dan timun. Juga ada tempe tahu yang digoreng pakai tepung. Segelas susu dan satu cangkir kopi, aku mengenyitkan dahiku siapa yang minum susu, pikirku.
Bang Is mengeser kursi didepanku, duduk dan melihat tepat ke wajahku.
“Tidak lapar.? Tanyanya
Aku memandang ke arah Bang Is,
“Susunya buat siapa.? Tanyaku lugu
“Buat Ais.” Jawabnya sambil tersenyum penuh makna
“Sejak kapan Ais harus minum susu?” Tanyaku kepadanya
“Sejak hari ini.? Jawabnya masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya
“Abang tidak sakitkan?” Tanyaku bingung.
“Tidak ada yang sakit di antara kita berdua.” Sambil berkata itu Bang Is berdiri dan berjalan menuju arah tempat duduku. Mengelus pucuk kepalaku dan kemudian mengecupnya lembut.
“Terima kasih.” Ucapnya sambil membelai wajahku
Aku mendongakkan kepalaku memandang Bang Is
“Ais yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena Abang tidak marah dengan Ais.” Ucapku takut – takut
Aku melihat wajah Bang Is masih tersenyum dan netranya berbinar
“Sebentar lagi Ais akan jadi Ibu dan Abang menjadi Ayah.” Ucapnya membuatku terkejut.
Ah ternyata selama beberapa pekan ini, Bang Is yang mengidam sementera aku yang hamil. Aku tertawa dalam hati. Aku memeluk pingang Bang Is, sambil berucap dalam hati
“Aku cinta Kamu, Suamiku.” Setetes airmata menetes disudut mataku. Dengan cepat Bang Is menghapusnya sekarang giliran mataku yang mendapat ciuman penuh cinta dari Bang Is.***







