Kembang Di Ranting Kering (Part Akhir)

Cerpen, Fiksiana692 Dilihat

Hari ini tidak seperti biasanya, jam segini biasanya hanya aku yang tinggal di rumah dengan kesibukan sebagai ibu rumah tangga tentunya. Masih setia dengan bantal dan sarungnya, aku tersenyum jaman boleh modern tapi laki – laki yang bergelar suamiku masih suka menggunakan sarung daripada bedcover didinginnya AC, lihat saja dia bergulung bagaikan udang di goreng.

Ada apa dengan lelakiku ini, tidak biasanya dia masih dirumah dijam segini. Aku ingin membangunkannya tapi dengkur halusnya membuaku tidak sampai hati untuk merengut lenanya mungkin saja dia tengah bermimpi jadi orang kaya dalam hidup kami yang serba sederhana.

Aku jadi teringat dengan mobil majikannya yang terpakir indah dihalaman rumah kami yang sempit, tidakkah dia lelakiku akan dimarahi oleh majikannya karena masih dirumah, tapi aku sungguh tidak tega membangunkan tidur nyenyaknya.

***

“Bang…bangun, sudah mau sholat zhuhur.” Dengan tidak tega hatiku membangunkannya.

Satu kali, dua kali, tiga kali aku membangunkannya dengan memanggil saja, terahim sudah terdengar akhirnya dengan terpaksa, tanganku juga ikut mengucang badannya, dan akhir dia, lelakiku mengeliatkan badan dan membuka matanya.

“Akhirnya aku bisa bangun dengan perasaan lega.” Ucapannya membuatku tercengang.

“Aku di PHK alias diberhentikan kerja.” Aku tambah terkejut mendengar perkataanya

“Terus kita makan apa?” tanyaku dalam sedih

“Kita punya mobil.” Jawabnya enteng

“Mobil?” tambah bingung aku dibuat lelakiku

‘Iya…kita punya mobil.” Jawabnya lagi

Melihat ekspresiku yang bingung, lelakiku tersenyum dan meminta aku untuk duduk disinggah sana ranjang, duduk disebelahnya.

“Bosku mau pindah keluar negeri, sebagai bonus, karena menurutnya Abang pegawai yang setia dan selalu membantu kesusahannya. Dia menghadiahkan mobilnya untuk dijadikan ojek mobil.” Suamiku menjeda ucapanya dan memandangku sambil menunjukkan ekspresi apakah aku sudah mengerti.

“Gaji selama 1 tahun kedepanpun Abang terima.” Ucapanya membuatku tidak bisa lagi menahan airmata kebahagian. Aku memeluk suamiku, lengan kokoh karena setiap hari memegang stir membalas pelukan memberikan kehangatan yang sama setiap kali dia memelukku.

“Terima kasih membiarkan aku menikmati tidurku hari ini.” Ucapannya menambah volume airmata yang turun membuat aliran sungai di pipiku.

“Terima kasih sudah menjadi istriku dalam susah.” Tambah deras airmataku, sekarang bagaikan air bah mengalir

“Semoga hidup kita tidak hanya sebagai ranting saja tapi akan menjadi pohon yang besar. Ini berkat kesetianmu mendampingiku bagikan bunga yang kembang diranting dirimu, Istriku.” Selesai mengucapkan kata yang menurutku seumur kami berumah tangga baru hari ini dia lelaki romantic membuatku tersenyum dalam tangis bahagiaku.***

Tinggalkan Balasan

1 komentar