Ku tadahkan kedua tangan, memohon dalam dua pertiga malam-Mu. Tidak ada lagi daya upayu selain hanya berpasrah kepada-Nya. Sudah berulang kali aku memohon, tak lelah sampai aku merasakan airmataku hanya untuk meminta padamu tidak untuk yang lain.
Braaak..bunyi pintu dibanding keras, belum juga melepas mukenaku, ternyata doaku belum juga dikabulnya oleh-Nya.
Aku berdiri dari dudukku, meletakkan mukena dan sajadah pada tempatnya, berjalan menuju keluar kamar. Sudut mataku sudah berat, aku harus tabah jangan…jangan menangis aku harus kuat, sekuat batu karang yang selalu dihempas ombak.
Aku berjalan menuju ruang tamu, disofa panjang itu seperti biasa laki – laki yang bergelar suamiku tertelungkup. Bau badannya sudah bagaikan pabrik rokok dan alcohol saja, racauan dari mulutnya tidak aku mengerti tapi apa dayaku sebagai perempuan yang bergelar istri suka tidak suka menjadi tanggung jawabku untuk mengurusnya.
Aku menghampirinya, mencoba menyadarkannya dari pengaruh alcohol, sia – sia. Usaha yang sia – sia tapi entahlah selalu saja aku lakukan berharap ada keajaiban. Akhirnya aku membuka sepatu dan kaos kaki yang melekat padanya. Menaikkan kakinya yang terjuntai di lantai ke atas sofa., aku melangkahkan kakiku menuju dapur mengambil wadah untuk air hangat tidak lupa aku mengambil handuk kecil sebentar ke kamar sebelum kedapur. Membawa wadah air hangat dan handuk menuju tempat suamiku tertidur, mengelap wajahnya belum juga sempurna kerjaku.
Prang… bunyi wadah yang terjatuh …aku mengeleng lemah tangan tak tahu diri dari suamiku mengelak aku membersihkan wajahnya sehingga wadah yang kubawa yang kena getahnya dan jatuh ke bawah.
“Jangan ganggu tidurku.” Racau suamiku antar sadar dan tidak sadar.
Aku memandang sedih, kemilauan harta membuatnya berubah, aku tidak lagi mengenal sosok laki – laki yang bergelar suami didepanku.
***
“Sah. Bagaimana saksi sah. Sah .” Aku mendengar suara dari luar kamarku
“Alhamdulillah, sudah sah aku menjadi istrinya.” Batinku bahagia, sebening air mata jatuh perlahan dipipiku malu tapi akhir keluar satu persatu airmataku.
Satu persatu wanita yang ada di kamarku memberikan selamat, karena mereka juga mendengarkan kata – kata sah karena memang diberikan alat penguat suara. Senyumku malu tapi mau menerima semua ucapan mereka serta doa samawa dengan cepat aku mengaminkannya.
Sudah berlalu 1 windu, sejak pak penghulu mengucapkan kata sah. Janji perkahwinan masih tergiang jelas ditelingaku bahwa sebagai suami wajib memberikan kebahagian lahir dan batin, bukan menyiksa lahir dan batin.
Aku menangis ingin teriak kepada seluruh dunia, aku tak bahagia. Tapi aku yakin pasti tidak ada percaaya aku tidak bahagia. Lihatlah rumah megah dengan perabotan dari luar negeri, mobil digarasi ada 2. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia, pasti mereka mengira aku sangat bahagia.
Tidak aku nafikan pernah bahagia, sangat bahagia sewaktu yang bergelar suamiku tidak pernah melupakan kewajibannya untuk menjadi imam disetiap sholat jamaah kami. Harum tubuhnya, cerah wajahnya karena selalu tersiram air wudhu membuatku tidak pernah puas memandangnya. Pelukan mesra setiap pulang kerja walaupun berat kerjanya tidak pernah lupa dia memberikan rasa aman dalam kecupannya.
***







