Mata adalah pancaran hati, aku melihat ada cinta yang membahana disana untukku dulu, setelah berjalanan waktu aku tahu ada yang berubah dari mata itu. aku menghembus napas berat, ada bongkahan beban yang tidak mungkin lepas dari dadaku, sesak menghimpit tapi apa dayaku semua harus terjadi, mata itu tidak lagi dua tapi empat.
“Wi..hari ini abang pulangnya malam, tidak usaha menunggu untuk makan. Makan saja dengan anak – anak.” Aku melirik tak percaya, tumben suamiku tak makan malam di rumah.
Baru kali ini, setelah 6 tahun pernikahan kami, suamiku mengatakan tidak akan pulang untuk makan malam bersama.
“kenapa, ada lembur dari kantor?” Tentu saja aneh rasanya, bukannya ASN seperti suamiku tidak ada lembur sejak kebelakangan ini.
“Ada reuni dengan teman SMA.” Jawabku santai
“Pakai baju kantor?” selidikku lagi
“Bawa baju, malam pulang. Capek?” dahi semakin mengkerut aneh
“Pukul berapa reuninya?” setelah magrib ucapnya
“Sebelum magrib Abang kemana?” aku masih saja bertanya
“Mau ketempat Ibu, Ibu sakit sudah 2 hari.” aku tidak melihat ada yang salah dari perkataan suamiku, tapi entahlah ada rasa lain di dadaku yang tidak yakin dengan ucapnya mungkin ini yang namanya insting seorang istri.
Aku mengantar kepergian suamiku sambil mengendong anak kami yang baru berusia 3 tahun.
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tiba – tiba saja aku merasa ada yang membuat hatiku tidak tenang. Aku meraih gawaiku, mencari nomor orangtua suamiku. Menekan tombol memanggil, tidak butuh waktu lama nomor yang ku panggil mengangkat.
“Assalamualaikum bu.” Aku memulai percakapan
“Walaikumsallam Dewi.” Suara Ibu mertuaku disebarang sana
“Ibu dan Bapak sehat?” tanyaku
“Alhamdulillah sehat, kalian bagaimana, sehat?” Ibu mertuaku bertanya
“Sehat bu, berkata doa Ibu dan Bapak.” Aku masih menahan hatiku untuk menanyakan tentang suamiku
“Indra sudah lama tidak mampir kerumah Ibu, Indra sehatkan?” bagaikan disambar petir mendengar perkataan Ibu. Belum juga aku menjawab ibu malah bertanya lagi
“Walah Ibu sampai lupa, ada apa menelepon Ibu tidak biasanya kalian menelepon malam – malam begini?” tanya ibu mertuaku, kepalaku seakan ditimpa berton – ton batu mendadak sakit dan berkecamuk pertanyaan kemana perginya suamiku. Bukankah sudah tadi sore, kemaren sore, seingatku seminggu ini sudah 3 kali Bang Indra kerumah Ibu jika aku tanya kenapa pulang kantornya terlambat. Aku hampir lupa kalau aku masih menelepon Ibu
“Wi..Dewi.” aku mendengar Ibu memangil namaku dari seberang sana, Ibu pasti heran mengapa aku terdiam saja.
Untung saja anakku menangis,
“Bu nanti kita sambung lagi, cucu Ibu bangun mungkin mau pipis. Assalamualaikum.” Aku menutup sambungan gawai, hatiku benar – benar galau. Ada apa ini, batinku.
***









