Maafkan Aku Membuatmu Derita (part 7)

Cerpen, Fiksiana204 Dilihat

Ibu memandang ke arah pintu, melihat siapa yang datang Ibu berseru

“ ternyata menantu Ibu yang datang, ayo kesini duduk di samping Ibu.” Aku melihat Ibu melambaikan tangan kea rah Cahaya dan memintanya untuk duduk di samping Ibu. Dengan malu Cahaya mendekat ke arah Ibu, aku gemas melihat tingkah laku Cahaya yang sedikit malu mendengar Ibu memanggilnya menantu.

Senyum Ibu membuatku sangat terharu, sudah lama aku tidak melihat Ibu begitu bahagia, hari ini kedatangan Cahaya membuat Ibu tersenyum manis, terima kasih Cahaya ucapku dalam hati.

***

Cahaya pamit kepada Ibu, lumayan lama Cahaya menemani Ibu mengobrol, akhirnya ia pamit. Ibu menyuruhku untuk mengantar Cahaya sampai ke mobil. Sebelum pulang aku meminta Cahaya untuk menemai aku makan siang di Café yang tertelak tidak jauh  dari rumah sakit, hari ini aku mau semua jelas. Aku akan meminta Cahaya untuk menjadi pendampingku, aku tidak mau membuang waktu. Aku takut Cahaya akan di ambil orang.

“Cahaya maukan menemai Indra makan dulu sebelum pulang” kataku

Cahaya hanya menganggukkan kepalanya membuatku bertambah gemas dengan lingkahnya yang malu – malu. Jalan menyebrang menuju Café sengaja aku meraih tangannya Cahaya tidak menolaknya membuat aku merasa Cahaya pasti akan menerima aku sebagai pasangannya. Setelah sampai di seberang jalan dengan malu Cahaya melepaskan tangannya yang aku pegang sewaktu kami menyebrang jalan. Wajahnya memerah, membuatku tidak bisa lepas memandangnya, ingin rasanya aku membelai pipi yang memerah itu. Tapi aku harus menahannya, aku takut Cahaya malah takut dengan diriku, Ya Allah jangan biarkan wanita ini pergi dari sisiku. Aku berdoa sambil berjalan menuju café.

Sesampai di Café aku sengaja mengajak Cahaya untuk duduk di pojok Café sehingga aku dengan leluasa bisa menyampaikan hasrat hatiku kepada Cahaya.

Seorang pelayan datang menghampiri kami, aku memesan nasi lengkap dengan ayam dan lalapnya, sementara Cahaya hanya memesan soto air jus menemani makan siang kami hari ini. Setelah selesai makan aku menyampai hasrat hatiku kepada Cahaya.

“ boleh Cahaya bertanya?” aku menganggukkan kepala ketika cahaya mengajukan pertanyaan setelah aku mengutarakan isi hatiku untuk memintanya menjadi pendamping hidupku.

Aku tahu, alasan pertama sebelum aku melihat Cahaya adalah memenuhi permintaan ibu untuk cepat menikah. Aku tidak berani mengatakan dengan jujur untuk saat ini aku sungguh menjadikan dia permaisuri hatiku, aku sedikit memaksa akhirnya Cahaya meminta 1 malam untuk berfikir dan memberikan jawaban atas permintaanku.

***

Hari ini kali kedua Cahaya menemui ibuku, setelah menjawab iya atas permintaanku aku pasti cahaya juga menyukaiku. Seorang wanita tidak akan mengatakan iya jika tidak mempunyai perasaan terhadap laki – laki. Aku menjemput Cahaya seperti janji kami, hari ini Ibu akan keluar dari rumah sakit, Ibu bagaikan mendapatkan suplemen yang tepat untuk sakitnya setelah bertemu dengan Cahaya.

Tak henti ibu memuji Cahaya setelah pertemuan pertama dengannya.

“ Ibu suka sekali dengan Cahaya, anakknya baik. Pasti kamu sudah lama mengenalnya tapi tidak mau mengenalkannya kepada Ibu. Anak nakal, Ibu sakit baru mau mengenalkanny.”

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Ibu, biarlah ibu senang aku tidak perlu memberikan penjelasan bahwa aku cinta pandang pertama kepada Cahaya.

Setelah memakirkan mobil di depan rumah Cahaya, bukan Cahaya yang menyambutku tetapi Ibu Cahaya

“ Mari masuk nak Indra, Cahaya lagi berganti pakian. Sebentar lagi juga siap.” Aku mengikuti langkah Ibu Cahaya dan duduk di ruang tamu setelah Ibu Cahaya mempersilakannya. Belum sempat juga aku membuka whatsapp di handphone aku mendengar suara

“ Sudah lama menunggu”

Aku mengarahkan pandangan mataku kearah suara, aku melihat sosok yang membuat aku terkesima. Betapa sempurnanya dia diciptakan Allah, menutup auratnya dengan jilbab dan baju yang tidak menampakkan lekuk tubuhnya tapi tetap terlihat cantik. Aku tersenyum memandangnya

“ belum juga lima menit ”

“ Minum dulu, baru berangkat.” Aku tidak jadi berdiri, Ibu Cahaya sudah membawakan minum dan camilan. Setelah meminum teh yang dibawa Ibu Cahaya aku langsung pamit kepada Ibu untuk membawa Cahaya menjemput Ibuku di rumah sakit. (bersambung)

***

Tinggalkan Balasan