Celoteh Nyakbaye, Cerpen “Mengurai Cinta (End)”

Cerpen, Fiksiana, KMAB292 Dilihat

Kami menepati kamar yang aku sewa,  saling berpandang, tak lama mengalir cerita dari mulut gadis belia itu.

“Mia selama ini menumpang di rumah Makciknya, sejak ditinggal orang tua, Makcik yang menjadi tempat Mia bermanja. Turun temurun mereka mempunyai penyakit jantung, Makcik yang tidak ingin menikah karena takut menyusahkan suaminya akhirnya memilih sendiri dan membesarkan Mia yang dititipkan Abangnya sebelum penyakit jantung rengut nyawanya.

Sudah beberapa tahun ini penyakit jantung Makcik tidak lagi bisa di toleransi, Mia sudah berusaha memenuhi semua tanggung jawab sebagai anak dengan memberikan perawatan terbaik. Tapi apa daya sebagai pekerja tentu ada batas kemampuannya. Dan akhirnya Bang Farhan sebagai atasan ditempat Mia berkerja menawarkan bantuan dana dengan syarat Mia mau menjadi istri keduanya,  dengan perjanjian setelah melahirkan anak mereka akan berpisah. Tapi nasib tidak memihak kepada Mia, sebelum pernikahan yang sudah di sepakati Makcik menghembuskan napas terakhirnya.

Setelah lepas empat puluh hari kepergian Makcik, ijab qabul dilakukan, semuanya jadi berubah ketika empat bulan pernikahan berjalan, Mia dinyatakan hamil. Tapi disinilah masalah bermula, Mia dinyatakan memiliki penyakit jantung yang akan membahayakan nyawanya jika meneruskan kehamilannya. Dengan terpaksa pernikahan yang sudah disembunyikan diekspos kepada Syahnaz karena seringnya Mia pingsan. Akhirnya Bang Farhan membawa Mia kehadapan Kak Syah.” Aku melihat Mia menjeda ceritanya sambil melihat wajahku.

“Pak Farhan tidak pernah melayani Mia sebagai istri sangking sayangnya kepada Kak Syah, hanya karena bayi ini Pak Farhan selalu menjenguk Mia, Pak Farhan sungguh suami idaman. Mia beruntung bisa memberikan keturunan padanya.” Mia mengakhari cerita dengan suara isak yang sedari tadi aku dengar.

***

Aku memandang ke dua bayi mungil yang mengisi kamarku, mataku menatap nanar kepada keduanya. Ada luka yang mendalam di hatiku, ketika mengingat bagaimana Ibu mereka berjuang untuk melahirkan mereka, pada akhirnya aku yang mendapatkan kebahagian dari kelahiran mereka.

Aku memandang ke arah pintu yang berbunyi, sosok Bang Farhan muncul dengan senyum yang selalu menyejukkan hatiku. Langkahnya mendekati kami, memeluk tubuhku dari belakang, netra kami memandang buah hati yang sudah lama kami tunggu.

“Maafkan Syah Bang.” Ucapku sambil memindahkan salah satu tangan Bang Farhan yang melekat di perutnku.

Kecupan ringan singgah di pucuk kepalaku

“Jika ada yang harus meminta maaf pasti itu Abang. Tidak ada yang perlu dimaafkan, mungkin ini jalan cerita rumah tangga kita.” Ucapan bijak Bang Farhan membuat aku meneteskan airmata.

“Mengapa menangis, nanti si kecil ikut menangis.” Jari Bang Farhan menghapus air matu dan sekali lagi kecupan singgah di pucuk kepalaku.

“Semoga mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah.” Ucapku lirih

“Pasti Sholeh dan Sholehah seperti Bundanya.” Ucapan Bang Farhan membuat hatiku berbunga.

Malaikat kecilku, aku menatap mereka dengan memegang tangan Bang Farhan yang melingkar di perutku.

“Terima kasih ya Allah, mungkin ini cara terindah darimu untuk menghadirkan mereka dalam kehidupan rumah tanggaku. Mereka anak – anakku yang bukan lahir dari rahimku tapi aku yang  bahagia atas kelahiran mereka.” Batinku berdoa.***

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan