Untung saja, dalam saku gamisku ada handphone dan dompet, karena aku tadi baru pulang dari warung di depan rumah untuk membeli minyak goreng yang habis, untuk membuat sarapan Bang Putra.
Setelah mengatur napas dan memperbaiki penampilanku yang pastinya sangat kacau, aku melangkahkan kaki menuju warung yang menjual sarapan pagi, memesan teh tarik hangat untuk meredakan rasa galau yang masih bercokol dihatiku saat ini.
Netraku menatap kosong orang yang berlalu lalang di depan warung tempat aku minum, bunyi handphoneku menganggu ketenangan yang baru saja aku rasakan, dengan lemah aku mengeluarkan handphoneku dari saku gamis, pasti Bang Putra yang mencarikuku, tapi ternyata aku salah bukan Bang Putra tapi Mak Ngah yang sekarang menjadi mertuaku.
“Assalamualaikum Mak.” Aku mengatur napas, sebelum aku mengangkatnya.
“Delima, ada Putra? Mak nak cakap dengan Putra. Dari Tadi mak Telepon tapi tak di angkat.” Dahiku berkerut kemana Bang Putra, hari minggu tidak mungkin Bang Putra ke sekolah.
“Delima masih di pasar Mak, Bang Putra di rumah.” Suaraku ku atur sedemikian rupa jangan sampai Mak curiga.
“Menantu Mak baik – baik sajakan.” Deg jantung berdegup kencang, Mak Ngah selalu tahu kondisi diriku mungkin melebih Mak aku sendiri.
“Delima baik – baik saja Mak, sebentar lagi delima pulang. Nanti delima suruh Bang Putra telephon Mak ya.” Aku berusaha menyakinkan Mak mertuaku bahwa aku baik – baik saja, walaupun saat ini air bening mulai mengembun di pelupuk netraku.
“Sudah jam sepuluh Delima, kenapa terlalu lama di pasar. Biasanya hari ahad begini Delima ke pasar dengan Putra. Putra sehatkan?” Mati aku, aku sampai lupa kebiasan yang selama enam bulan ini coba kami bangun untuk mendekatkan diri dengan Bang Putra, inipun atas saran Mak Ngah. Tanpa sengaja aku menghembus napas kasar.
“Delima, Delima tidak apa – apa nak.” Ye Mak Delima tidak apa – apa dengan gugup aku menjawab pertanyaan Mak Mertuaku.
“Delima balik sekarang Mak.” Ucapku menutup percakapan kami dan menutup panggilan Mak Mertuaku.
Melangkah dengan malas aku menuju rumah, jika saja aku bisa pulang ke rumah orang tuaku pasti aku bisa menangis di kamar gadisku yang selalu terawat rapi oleh Mak, anak gadis semata wayang walaupun bukan orang senang tapi aku tidak pernah merasa kekurangan.
***




