Membulak balikkan badan, tergiang pengajian tapi sore yang aku ikuti, apakah aku salah? Terus pertanyaan itu menghantuiku. Jika rasa cintaku kepada Bang Farah diragukan aku tidak terima, tapi apakah aku meragukan cinta Sang Khalid kepadaku, bukannya aku umat-Nya.
Tergiang diteligaku, ketika beberapa hari yang lalu Bang Farhan datang ke losmen tempat aku menginap.
“Izinkan Abang menjadi suaminya sampai dia melahirkan, setelah itu anak itu akan menjadi anak kita. Abang tidak pernah mengingkari janji, Abang hanya ingin mempunyai anak dari darah daging abang sendiri. Kami sudah membuat perjanjian itu, dia tidak akan menuntut apa – apa, hanya karena dia yatim piatu abang tidak punya pilihan lain selain membawanya kerumah. Bisa saja abang tidak membawanya pulang, setelah anak Abang lahir, Abang mengambilnya dan mengatakan bayi itu dari panti asuhan. Tapi abang tidak mau melakukan itu, kita sudah berjanji untuk saling menghargai, karena itu Abang meminta hargai keputusan Abang walaupun abang tahu Abang salah karena tidak meminta izin untuk menikahinya.” Sebenarnya masih banyak yang dikatakan Bang Farhan tapi aku tidak sanggup mendengarkannya.
Pikiranku kacau saat ini, semua yang dikatakan penceramah sore tadi bagaikan putaran film yang memenuhi kepalaku.
“Setiap manusia tidak akan diuji di luar batas kemampuanya, setiap ujian pasti ada hikmahnya. Ridho serta ikhlas adalah jalan terbaik menyikapinya. Dan percayalah pasti ada sesuatu yang Indah di sebalik rasa sakit yang kita terima, berdamailah dengan keadaan sehingga kita merasa nyaman.” Sepenggal kalimat yang terus berputar dikepalaku.
***
Saat ini kami sedang menanti di depan ruang persalinan, Mia. Namanya Mia, madu yang diberikan oleh suamiku. Sejak subuh sebenarnya dia sudah mengerang kesakitan, pengecekan terakhir seminggu yang lalu dokter sudah memberi kabar bahwa kandungannya tidak baik – baik saja. Proses melahirkan normal tidak akan mungkin, penyakit jantung yang dideritanya penyebab semua itu, apalagi ada tiga nyawa yang dipertaruhkan. Itu kata – kata dokter ketika menyambut kami tadi pagi.
Menunggu semuanya normal, akhirnya pukul sebelas siang Mia masuk kamar operasi. Menitik air mataku, gadis belia dengan sejuta pengorbanan dan berharap sebelum ajal menjemput nyawanya ingin menjadi Ibu.
Flashback
Ketukan di kamar losmenku, membuatku mengerutkan kening. Siapa yang bertamu. Semenjak kedatangan Bang Farhan beberapa hari yang lalu aku tidak pernah ke datangan tamu. Bukannya tidak ada tamu, tapi selain Bang Farhan serta Ibu mertuaku tidak ada satu orangpun dari teman main mau teman kantor yang tahu tempat aku melarikan diri dari masalah rumah tanggaku.
Dengan malas aku mengayuh kaki menuju kamar, membuka pintu. Netraku membulat penuh melihat siapa yang saat ini berdiri di depanku. Belum sempat aku menutup pintu, gadis dengan perut buncit penuh duduk menyimpuh di depanku. Tangannya menegang kakiku sambil terisak.
“Kak maafkan Mia, dengarkan Mia sebelum kakak membuat keputusan dalam rumah tangga kakak. Izinkan Mia menjelaskan semua, setelah itu kakak boleh menghakimi Mia dan Bang Farhan. Mia akan menerima semua yang menjadi keputusan Kakak.” Cucuran air matanya sungguh membuat merasa berdosa. Akhirnya aku meraih tanggannya, membawanya masuk ke kamarku. (bersambung)











