Senyumku mengembang, manik mataku tergelitik membaca kalimat yang tertulis di depanku. Ada rasa yang bagaimana gitu, membuatku berpikir siapa geragan yang menulisnya, sungguh gaya bahasa yang enak dibaca, memanjakan netra rasa dan membuatku tergugah untuk terus meneliti dan menghabiskan cerita yang disungguhinya.
Mentari sudah menurun pamornya sore datang dengan segala kepenatan kerja di siang hari, ditemani secangkir teh tarik asli buatanku yang bukan orang Malaysia. Pasti semua yang pernah berkunjung ke negeri jiran bernama Malaysia sehingga tahu yang namanya teh tarik yang makyos rasanya, membayangkan bagaimana orang asli Malaysia membuat teh tarik dengan gaya yang khas tentu menjadikan teh tarik unik baik cara penyajiannya sampai cita rasa yang di berikannya ketika kita meminumnya.
Teh tarik dalam sajian panas sangat cocok disajikan dengan makan kecil seperti pisang goreng dan kawan – kawannya, sementera untuk teh tarik dingin alias diberi es sangat cocok dinikmati ketika makan nasi beserta lauk pauk yang pedas rasanya.
Tapi sore ini, teh tarik panas menjadi temanku dalam berliterasi. Buku yang terpampang di depanku menyajikan bacaan yang mengelitik rasa dalam membaca di tambah dengan rasa teh tarik yang lagi di nikmati sungguh perpaduan rasa yang sungguh susah untuk dijabarkan.
Netraku dimanjakan dengan gaya bahasa tulisan yang enak sementara lidahku dimanjakan oleh rasa teh tarik yang nikmat membuat tulisan ini tersajikan di depan anda semua. Semoga kita menemukan cara yang unik untuk berliterasi sore dengan cara yang unik pula seperti sore ini habis hujan menikmati teh tarik panas dengan gorengan sungguh luar biasa rasanya.***







