Celoteh Nyakbaye,Cerpen “”Seonggok Daging Bernama Hati (3)”

Cerpen, Fiksiana, KMAB615 Dilihat

Azan subuh tidak membangunkanku, pukul delapan pagi aku baru terbangun untuk hari minggu jika tidak tentu aku menjadi bualan di kantor karena terlambat masuk kerja.

Niat hati untuk membersihkan diri, terpaksa aku tunda. Melihat hp berharap Intan menghubungiku setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab dari hp ku tadi malam. Netraku sendu, tak ada panggilan dari Intan, ada rasa kecewa, bukan kecewa lebih tepatnya sakit karena Intan sepertinya menghindariku. Bergegas aku mandi, aku harus menyusul Intan.

Mobilku mendekati rumah Ayan dan Ibu Intan, ada rasa takut, jangan – jangan Intan menceritakan masalah rumah tangga kami. Aku tidak mau rasa sayang mereka kepadaku berubah menjadi rasa benci karena mereka kecewa dengan apa yang sudah aku lakukan terhadap Intan.

Dengan langkah ragu aku melangkah keluar dari mobil, mengatur langkah serta gugup yang datang tanpa diundang, mengucapkan salam setelah sampai di pintu rumah.

Langkah berat terdengar dari dalam, pasti Ayah, bantinku. Suara berat menjawab salamku. Panel pintu terbuka wajah tua serta bijaksana terpampang jelas menyambut kedatanganku.

“Masuk Yan.” Suara berat Ayah terdengar

“Terus saja ke Kamar, Intan sakit semalam tapi sekarang sudah agak baikkan.” Aku terkejut dengan ucapan Ayah.

Langkah lebarku tergesa menuju kamar gadis Intan, kamar setelah aku mengijab qabul namanya pernah kami tempati hampir satu bulan setelah itu Aku membawa Intan untuk tinggal di rumah peninggalan orang tuaku.

Menekan panel pintu kamar Intan, tanpa mengucap salam aku langsung masuk. Netraku sendu melihat Intan terbaring lemah dengan mata tertutup. Langkahku mendekati Intan, setelah dekat aku meraba dahi Intan, masih terasa hangat.

“Intan baik – baik saja Bu, biarkan Intan istrirahat dulu. Sarapannya nanti saja.” Ucapan lemah terucap dari mulut Intan, tapi matanya tetap terpejam.

“Kenapa belum sarapan, kasian anak kita jam segini belum makan Intan.” Ucapku selembut mungkin

Perlahan aku melihat Intan membuka netranya, melihatku sekilas kemudian menutup netranya kembali. Tidurnya yang tadi telentang, berubah menjadi menyamping, memunggungi diriku.

“Belum lapar.” Pelan suara Intan tapi aku masih bisa mendengarnya.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan