Jantungku (part 2)

Raihan Saputra namanya, tinggi 180 cm dengan kulit sawo matang khas orang Indonesia dengan mata tajam serta senyum yang menawan. Sudah lebih setahun kami kenalan tepatnya sejak kaki ini menginjak di kampus biru. Bawaanya yang sangat supel membuat semua orang senang berinteraksi dengannya, ringan tangan dengan otak cemerlang tentu menjadi tumpuan kaum hawa untuk mendekatinya. Tapi aneh bin ajaib, selalu saja aku yang menjadi tumpuan ke jahilannya. Ada saja yang menjadi topic dalam dirinya untuk menjahiliku, mahluk cupu yang tidak ada istimewanya.

Aku merasakan ada yang memegang jilbab di kepalaku

“Jangan pegang – pegang, bukan muhrim.” Jeriku ketika sadar yang memegang kepalaku adalah Raihan si biang usil kepada diriku

“Aku pegang jilbab bukan dirimu.” Masih saja berkilah membuatku tambah kesal

Tanpa aba – aba Raihan sudah duduk di depanku, manik matanya seperti ingin menguliti diriku, sungguh aku jadi seperti duduk di atas bara api yang mengeluarkan panas, kalau aku sate pasti sudah matang dari tadi.

Malas aku melihatnya, menundukkan wajah lebih baik daripada aku harus berpacu dengan jantungku. Berpura – pura fokus dengan buku yang memang sedari tadi sebelum Raihan datang sudah ku pegang.

“Baca apa, apakah lebih menarik dari diriku.” Ucapnya menyombongkan dirinya. Aku mendengus mendengarnya.

“Hana aku bicara denganmu bukan dengan tunggul.” Amuk Raihan, karena aku mengacuhkannya.

Aku menganggkat wajahku dan memandangnya sekilas, dan kembali fokus ke buku yang ada di tanganku.

“Hana kamu itu benar – benar membuatku jengkel.” Ucapnya naik satu oktaf

“Apa yang membuatmu jengkel.” Tanpa menganggkat wajahku dan berusaha tetap terlihat fokus dengan buku di tanganku.

“Kamu selalu saja mengacuhkanku, apa kamu benar – benar tidak suka bersosialisasi denganku.” Ucapnya pelan sekarang.

“Aku tidak merasa ada yang perlu kita bicarakan.” Acuhku lagi

“Sebenci itukah kamu kepadaku.” Ucapnya memelas.

“Aku.” Menganggkat wajahku, gugup dan melihat manik matanya seakan ingin menembus hatiku.

“Apa yang sebenarnya Raihan inginkan dengan selalu mengusiliku.” Akhirn kalimat itu terucap juga dari mulutku setelah sekian lama aku memendamnya.

“Hana.” Bukannya meneruskan perkataannya tapi Raihan malah meninggalkanku dengan wajah yang sungguh aku tidak mengerti ekspresinya.

***

Tinggalkan Balasan