Pantulan bayangan di cermin terlihat jelas di depanku, sudah lebih dari lima belas menit aku memandangi diriku sendiri. Kuning langsat dengan rambut yang tertutup rapat oleh jilbab sejak lima tahun yang lalu aku baru sadar untuk menutup semua aurat yang mengoda lawan jenis. Senyum kecut terpancar di bibir sensualku, itu kata mereka mengenai bibirku. Mata walaupun tidak terlalu blok tapi cukup mempesona bagi lawan jenis yang melihatnya.
Walaupun namaku tidak kebarat – baratan tapi cukup untuk menjadi ingatan bagi yang mengenalku. Fitri Nur Sari seperti memanggil tiga nama saja bukan, aku lebih senang dipanggil Nur, tidak ada alasan spesipik kenapa aku senang dipanggil Nur, mungkin Nur bisa berarti cahaya, ya aku berharap hidupku selalu di penuhi cahaya tentunya.
Besok umurku genap 23 tahun gelar sarjana sudah aku sandang, SE sesuai dengan cita – citaku dan sekarang aku sedang bersinar diterima pada suatu perusahaan bonafit di Batam dengan gaji yang lumayan besar, aku mensyukuri semuanya dengan cara selalu tepat waktu dalam menyegerakan panggilan sholatnya. Akhir – akhir ini aku bahkan sudah rutin melaksanakan sholat malam, malu sich sebenarnya tapi sungguh aku ingin cepat berkeluarga.
***
Langkahku terhenti ketika aku mendengar seseorang memanggil namaku, aku tajamkan pendengaranku, maklum lagi di keramaian aku takut salah mendengar, dan benar memang ada yang memanggil namaku. Ku hentikan langkahku melihat sekeliling, dan mataku hampir keluar dari cangkangkannya bagaimana tidak aku melihat sosok sahabat yang sudah berpisah sejak kami lepaskan seragam putih abu – abu.
“Hanan.” Pekikku tertahan sambil tersenyum lebar melihatnya melangkah mendekat kepadaku.
Hanan mengulurkan tangan untuk berjabat, aku menangkupkan tangan di dada. Aku melihat Hanan takjub dengan penampilanku sekarang, bagaimana tidak aku berubah seratus delapan puluh derajat sewaktu SMA aku tomboy dan sekarang aku lebih feminism dan ya begitulah semua sudah mulai menuju kebaikan.
“Kok masih mengenalku, Han.” Suaraku takjub
“Bagaimana aku bisa melupakan seorang Fitri Nur Sari yang bercahaya.” Katanya tetap dengan menatapku takjub, aku sampai jengah dibuatnya.
“Sejak kapan.” Tangan Hanan menunjukkan penampilanku yang berjilbab
“Baru.” Ucapku malu menjawab pertanyaan Hanan
“Tambah cantik Nur.” Aku tersipu mendengar perkataan Hanan
“Sendiri.” Suara kami bersamaan, akhirnya kami tertawa.
“Aku sendiri.”
“Sama Aku juga sendiri.”
“Kita ngobrol sambil ngopi, mau?” ajak Hanan kepadaku
Kami berjalan menuju salah satu stan makanan yang tersedia di Mall. Setelah memesan minuman dan makanan kecil, aku melihat Hanan terus menatapku, membuat malu.
“Kamu masih sama seperti kita SMA Nur, hanya penampilan yang sekarang Aku lebih suka.”
“Sejak kapan seorang Hanan bisa merayu.” Ejekku kepada Hanan tapi ada sesuatu yang aku rasakan ketika Hanan memujiku.
“Kerja dimana Hanan?”
“Aku kerja di Malaysia, sekarang lagi libur jadi sebelum ke Karimun aku main dulu ke Batam.”
“Jauh sekali.” Hatiku langsung nelangsa, ternyata sahabatku jauh sekali kerjanya. Ada rasa kecewa mendengar Hanan mengataka kerja di Malaysia.
“Nur sudah berkeluarga?” pertanyaan Hanan hanya mendapatkan gelengan kepala dariku. Tiba – tiba aku merasa malas untuk melanjutkan percakapan kami setelah tadi aku mengetahui hanya hari ini saja aku akan bertemu dengan Hanan.
“Nur sudah punya calom?” sekali lagi aku mengelenggkan kepalaku menjawab pertanyaan Hanan
“Alhamdulillah.” Wajahku yang tadi sempat membuang pandangan dari Hanan sekarang pandanganku lekat memandanga Hanan mendengar kata syukurnya karena aku masih sendiri.
“Ada yang salah dengan sendiri.” Aku tersinggung dengan ucapan Hanan dan membuang napas kesal.(bersambung)














keren cerpennya