Lamunanku (2)

Terbaru559 Dilihat

Aku kembali mengenang nasib diri menumpang, sampai kapan akan menumpang, jika benar selentingan di kantor akankah aku salah satu dari yang akan diberhentikan. Hembusan napas terasa berat, tapi apa yang dapat dibuat. Nasib orang kecil menunggu harapan yang tak berujung.

“Sinta.” Sungguh suara itu membuat jantungku bergemuruh.

Menatap kearahnya, hanya anggukan kepala yang bisa aku berikan.

“Masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan Pak.” Ucapku santun.

“Saya pulang, jangan terlalu malam, tidak ada gaji tambahan karena tidak ada lembur.” Ucap Pak Bos sambil berlalu.

Aku tenggelam dalam kerjaanku, hatiku berat untuk pulang. Masih mengenang kejadian pagi tadi, sungguh menyesakkan dada, bukan niat untuk tidak membantu tapi sungguh, gajiku sudah hampir semua ku berikan pada Makcik bulan ini tapi masih saja ada rasa tidak puas dihati Makcik. Hingga aku engan untuk pulang cepat hari ini kerumah.

***

Hampir jam delapan malam aku sampai di rumah Pak Cik, suara di dalam sungguh membuatku tidak hendak masuk ke dalam.

“Bang, kita terima saja lamaran Pak Daud, berkurang sedikit bebanku. Sinta tak mungkin menolak, jika menolak kita usir saja dari rumah.” Suara Mak Cik membuatku berdiri terpaku di pintu depan rumah.

“Wat, kenapa harus sinta. Anak kita ada.” Suara Pak Cik naik satu oktaf

“Jangan jadi gila Bang, Pak Daud dah berumur tak sebanding dengan anak kita.” Ucap Mak Cik.

“Apa beda dengan Sinta? Wat.” Lirih Pak Cik

“Dah lama Sinta kita bela, sekarang saatnya Sinta membalas budi kita Bang.” Ucapan Mak Cik sungguh membuat hati pilu.

“Sinta tak pernah menyusahkan kita, setiap bulan Sinta selalu menyerahkan gajinya. Tak ada kah belas kasihan kau Wat.” Ucapan Pak Cik sungguh bagaikan air es yang menyejukkan hatiku.

Selama ini Pak Ciklah yang membuatku betah di rumah ini, jika tak ada Pak Cik mungkin sudah lama aku meninggalkan rumah megah yang terasa sempit buatku.

Hampir satu jam Aku menunggun di luar, tiada niat untuk menganggu diskusi Pak Cik dan Mak Cik.

“Sinta, sejak jam berapa pulang.” Suara Pak Cik mengejutkanku

Senyum sedihku terpaksa aku persembahkan kepada Pak Cik. Baru sampai Pak Cik, dustaku.

Langkahku ku percepat, tak menyangka Pak Cik membuka pintu depan. Menuju kamarku, setetes air keluar di sudut netraku. Cepat ku hapus jangan sampai Pak Cik melihatnya apalagi Mak Cik.

“Anak gadis baru pulang, entah kemanalah merayap.” Sinis Mak Cik.

Ku hempaskan badan di kasur yang tidak empuk yang menjadi teman sepanjang aku tinggal di rumah Pak Cik. Niat hati ingin mengantinya setiap menunggu gaji keluar, tapi apa daya keperluaan lain harus di dahulukan daripada kasur empuk yang mungkin mengantarku ke alam mimpi bertemu dengan kebahagianku. Bersambung)

***

Tinggalkan Balasan