The  Last  Rose  of  Summer, Kesetiaan  yang  Menawan

Sosbud, YPTD339 Dilihat

The  Last  Rose  of  Summer, Kesetiaan  yang  Menawan

Saat  itu  saya  mendapat  kesempatan  untuk mengunjungi  Tower  of  London, sebuah  penjara  yang  mengerikan  bagi  tahanan  pemerintahan  jaman  raja /  ratu  Inggris, merupakan  kesempatan  yang  kudambakan ,mengapa? Saya  ingin  melihat  bukti  bisu  sejarah  karena  orang  yang  dipenjarakan  disitu  akan  berakhir  dengan  hukuman  mati, di  Guillotin (  dipenggal  kepalanya). Kini  tempat  itu dijadikan  tempat  wisata atau  tepatnya  cagar  budaya  bangsa itu.

Bersama  Yaomen  penjaga  Tower  of  London
Bersama Yaomen penjaga Tower of London

Daffodils   kuning  indah  semarak,disekitar  Tower  of  London,  berterbangan  burung  gagak yang  mengurai  cerita  tersendiri  akan  tempat  itu. Ketika  musim  semi  tiba, saat  saya  berkunjung  di  tempat  ini.  Hasrat  yang  menyirap  dibenakku,  sebuah  pencarian  dimana  Thomas  More  pernah  dipenjarakan  dan  dibunuh. Hal  itu  kuketahui  waktu  saya  belajar  Sastra  Inggris.  Menyimak, merenungkan  dan  berusaha  menggali dan  menghidupkan  apa  yang  pernah  ditulis  oleh  Santo  yang  pujangga, serta  ahli  hukum ini yang  saat  itu  menjadi  sahabat  Raja  Henri  ke VIII.

Benar  disebuah  ruang  penjara  nan  pengap, tempat  Thomas  More dipenjarakan  disini,  karena keberaniannya  menentang  Raja  Henry ke  VIII  yang  akan  menceraikan  permaisurinya  Catherine dari Aragon (  Th  1527) dan  menikah  dengan  Anne  Boleyn. Ketidak  setujuannya  itu  ditunjukkan  dengan sikap dia  tidak  menghadiri  perkawinan  raja dan  wanita  itu  pada bulan  Juni 1533. Thomas  More  dengan  berani  menegur perilaku  raja  yang  salah  apalagi Sang  Raja  yang  menentang  dan  membangkang  pada  ajaran  gereja serta  tahta  Suci  sebagai  Kepala  Gereja  Katolik sedunia. Intuisi  Thomas More  amat  kuat, apapun  akibatnya  dia  lakukan  untuk  menegur  raja  yang  tamak, karena  kalau  bukan  dia  siapa  yang  berani  menegur  raja, karena  tiada  orang  yang  dekat  dengan  raja.

Itu  semua  dilakukannya  demi  persahabatan  yang  tulus  dan  menyelamatkan  martabat  raja. Namun  Sang  raja  tidak  menggubrisnya,  dan  benar  apa  yang  dikhawatirkan  oleh  Thomas  More raja  semakin  mengumbar  nafsunya  menindas  rakyat  dan  memperistri  6  wanita : Catherine of  Aragon, Anne  Boleyn, Jane  Seymor, Anna the Clevess, Katherine  Howard, Chatherine  Parr.

Ketidak  senangan  dan  rasa  tersinggung membuat  raja menyerang dengan segala  fitnahan  dan  kecaman kepada  Thomas  More  sahabatnya, agar  dia  terpukul  dan  mau  mendukung  raja.  Namun  hati  Thomas  More  tidak  bergeming  dengan  segala  ancaman  itu,  karena  nuraninya  dikobarkan  oleh  api  cinta  kepada  Tuhan  dan  kebenaran  iman.  Meskipun  selama  ini  persahabatan  telah  terjalin,  dia  menjadi  kepercayaan  dan  orang  penting  raja,  dia  memilih  jalan  yang  terbaik  meskipun  akibatnya  dipenjarakan  di  Tower  of  London pada  tanggal  17  April 1534 dari  pada  bersumpah  kepada  raja  yang  menolak  tahta  suci  gereja  kudus dan  ajarannya.

Pada  tanggal  6  Juli  1535, Thomas  More  bersama  Uskup Fisher yang  pestanya  dirayakan  hari  ini  tanggal  22  Juni, dinyatakan  bersalah  oleh  raja  dan setelah  menjalani  hukuman  di  Tower  of  London  dia dipenggal  kepalanya, kata-katanya  yang  terakhir  “ Aku  ingin  menjadi  hamba  yang  baik  bagi  raja tetapi  Allahlah  yang  utama  dan  pertama  kuabdi dengan  setia “. Dia  menulis  Utopia (1516) yang  terkenal yang  memuat  gagasannya  akan  pemerintahan  yang  adil, penuh  damai  dan  sejahtera  bagi  rakyat  dan  kehidupan  bersama, gambaran  masyarakat  yang  ideal walaupun  disajikan  dalam  karya  sastra fiktif. Namun  memuat  gagasan  More  nan  agung.

Thomas More dibeatifikasi  pada  tahun  1886 dan  dikanonisasi oleh  Gereja  Katolis, sebagai  Santo/ Orang  Kudus  oleh Paus  Pius XI  pada  tahun  1935.

Sebelum  kematian,  dia  menulis  puisi  dengan  paku  digoreskannya  di  tembok  penjara, karena keluarganya  tidak  diijinkan  untuk  mengirimkan  kertas  dan  alat  tulis  yang  dimintanya.  Luapan  hatinya  terukir  dalam  puisi  yang  menggambarkan  perjuangan  dan  pergolakannya  melawan  ketidak jujuran  dan  penyelewengan.  Persahabatannya  telah  dikhianati  oleh  raja,  sang  penguasa, yang  ingin  mengumbar  nafsunya. Dalam kepengapan  penjara,  jiwanya  tetap  bebas  untuk  mengukir  keindahan  budinya  yang  tergores  dalam  sebuah  Puisi:

di depan  Tower of  London
di depan Tower of London

The Last Rose of Summer
by Thomas Moore

’TIS the last rose of summer
Left blooming alone;
All her lovely companions
Are faded and gone;
No flower of her kindred,
No rose bud is nigh,
To reflect back her blushes,
To give sigh for sigh.

I’ll not leave thee, thou lone one!
To pine on the stem;
Since the lovely are sleeping,
Go, sleep thou with them.
Thus kindly I scatter
Thy leaves o’er the bed,
Where thy mates of the garden
Lie scentless and dead.

So soon may I follow,
When friendships decay,
And from Love’s shining circle
The gems drop away.
When true hearts lie withered
And fond ones are flown,
Oh! who would inhabit
This bleak world alone?

Dia  menggambarkan  dirinya   sebagai  mawar  nan  cantik  yang  tersisa, yang  dibantai  oleh  kekejaman  sahabatnya  sendiri  yang dikuasai  nafsu  untuk  meraih  segala  kenikmatan  dunia.  Tidak  hanya  dia,  namun  banyak  mawar-mawar  cantik,bunga  nan  indah  di  Inggris  yang  bermekaran  disaat  bulan  Juni  puncaknya  musim  semi. Gambaran  orang-orang  Ingris  yang  penting  saat  itu  disekeliling  raja,  yang  berhati  murni, penuh  kejujuran,  tulus  mengabdi, namun  dibantai  demi  keserakahan  pribadi Sang  penguasa.  Semua  orang  yang  cantik  budi dan  moralnya  telah  pergi…., pergi  dari  bangsanya… tidak  tersisa  untuk  memberi  teladan  keindahan, keutamaan yang  menyuarakan  desah-desah  kebenaran.  Untuk  memperingatkan  bila  terjadi  keserongan  dan  ketidak  benaran.  Dari  kebusukan  persahabatan    itu  Thomas  More  mendengarkan  suara  panggilan  kebenaran, panggilan  Ilahi  yang  menuntunnya  untuk  meninggalkan  kenyamanan,  kedudukan, kuasa, dan  ketenaran  nama.

Jiwanya  ingin  terbang  dan  pergi  mencari  gambarannya  yakni  Allah  sendiri,  yang  akan  memeluk  dalam  cinta,  kasih  kesucian  tanpa  syarat.  Dia  rela  terbang  pergi  untuk  menggapai  tidur  yang  indah  bersama  rekan-rekannya  pejuang  kebenaran  yang  telah  dibantai  sebelumnya.  Kepergian  itu  indah,  karena  dia  akan  menjadi  penghuni  di  tempat  Bapa-Nya. Daripada  tinggal  sendiri  dalam  kubang  kebusukan  suatu  persahabatan.

Bagiku  pengalaman  Thomas  More  dalam  bersahabat  menjadi  cermin, yang  senantiasa  segar  untuk  direfleksikan  terus   menerus. Sebagai  manusia  yang  merupakan  mahkluk  social, kita  butuh  teman bahkan  sahabat  sebagai  rekan  dalam  perjalanan  hidup. Dalam  persahabatan  dapat  mengembangkan  banyak  aspek  yang  menguji  dan  menyempurnakan  kita  untuk  menjadi  manusia  utuh. Tapi  dalam  bersahabat seseorang  tidak  boleh  saling  memanipulasi   persahabatan, misalnya  nebeng  ketenaran  sahabatnya, atau  bahkan  terlalu  melekat , tergantung  dan  terikat  oleh  sahabatnya  sehingga  persahabatan  tersebut  menjadi  exklusif  dan  tidak  sehat.

Seorang  sahabat  yang  baik akan  membiarkan  sahabatnya  untuk  menjadi  diri  sendiri  dan  berkembang  dalam  persahabatan  serta  terbuka  bagi  orang  lain. Juga  kalau  persahabatan  itu  membawa  seseorang  menjauh  dari  Tuhan ataupun  imannya. Kita  harus  bertindak  tegas  memilih  yang  terbaik  demi  keselamatan  jiwa  kita, berani  menegur sahabat  yang  berjalan/bertidak  salah,walaupun  akibatnya kita  tidak  dianggap  dan  tali  persahabatan  menjadi  putus.  Kiranya  Thomas  More  telah  memberi  teladan  gemilang dengan  resiko  kehilangan  kekuasaan, pekerjaan, kenyamanan, pangkat  bahkan berakhir  dengan  penjara  dan  kematian. Namun  dia  yakin bahwa  tidak  ada  yang  berkuasa  atas  jiwanya  selain  Tuhan  yang  pertama  dan  utama  dia  abdi.

Ada kata-kata  bijak :” Persahabatan  sejati  ibarat  pertemuan  dua  malaekat  yang  ternilai  lebih  agung  dan  luhur” Memang  persahabatan  hendaknya  menjadikan  dan  memberikan  berkat  satu  sama  lain. Persahabatan  semestinya  menuntun  para  sahabat  itu  untuk  mencapai  kebaikan, kesejatian, keakraban  yang  membawa  pada  Sang  Khalik. Mereka  saling  berbagi  berkat  entah  dalam  suka  bahagia, ataupun  saat  berduka. Persahabatan sejati bagaikan mata dan tangan, apabila tangan terluka mata akan menangis dan apabila mata menangis tangan akan menghapus air  mata  kepedihan. Saling  menghibur, menguatkan  dan  berbagi  bahagia  dan  rasa  senang. Persahabatan  mengembangkan  kepekaan, solidaritas  yang  lebih  dari  sekedar  toleransi, namun  rasa  empati  yang  mendalam akan  segala  apa  yang  terjadi  dan  dialami  oleh  sahabatnya. Sahabat  adalah  tempat  curahan  hati,  tempat  sampah  yang  siap  menampung  segala  rahasia, yang  diolah  bersama  dalam  kasih  yang  membuahkan  berkah.

Dalam  pengalamanku  persahabatan  sejati  melalui  proses  jatuh  bangun, pengenalan  yang  panjang  akan  sifat, karakter  dan  keberadaan  sahabatnya.  Semua  tidak  terjadi  secara  otomatis, setiap  orang  punya  intuisi  tersendiri  untuk  merasakan dan  akhirnya  memilih  dan  menentukan  apakah  orang  yang  ditemuinya dan  dikenalnya  bisa  menjadi seorang  sahabat.  Ada  yang  baru  saja  kenal  terus  cocok  dan cepat  proses  itu  berjalan hingga  hubungan  itu  menjadi  seperti  saudara.  Namun  adakalanya  kita  sudah  mengenal  seseorang, tapi  hati  kita  tidak  in the  mood  untuk  menjadi  orang  dekat/  sahabat  baginya.

Tentu  dalam  menjalin  persahabatan  ada  tantangan  dan  cobaan  yang  mesti  dihadapi, mungkin  suatu  saat  terjadi  salah  paham  yang  kadang  melelahkan  dan  menjengkelkan. Namun  bila  kita  sudah  saling  mengenal  watak, situasi, pribadi  sahabat  kita hal  itu  akan  membuat persahabatan  kita  teruji  semakin  kukuh  dan  indah, serta  rasa  sayang  dan  pengampunan,  senantiasa  terjalin  mengalir, melumuri  persahabatan  tersebut. Proses  dari  kawan  atau  teman  menjadi  sahabat  membutuhkan  kesetiaan  dari  kedua  belah  pihak. Pemeliharaan  kesetiaan, pertemuan  yang  intens, maupun  kadang-kadang  perlu  diadakan  dan disepakati  bersama.  Seorang  sahabat  selalu  berinisiatif  bagaimana  dia  dapat  memahami, mengerti, menyenangkan  dan  menciptakan  rasa  aman  tanpa  ketergantungan  yang  mengikat  pada  dirinya.

di depan  Tower of  London
di depan Tower of London

Bahkan  dia  terbuka  akan  orang  lain  yang  mau  menjalin  persahabatan  dengan  sahabatnya. Dia  senantiasa  termotivasi  untuk  menciptakan  kasih, perhatian  yang  wajar, sehingga  persahabatan  tersebut  benar-benar  memberi  berkah  pada  keduanya.

Seorang  sahabat  tidak  akan  berkhianat, untuk  menyembunyikan  kekurangan, kesalahan untuk  menghindari  perselisihan, justru  karena  cinta  dan  kasih  akan  sahabatnya  ia  berani menyapa  bila  terjadi  salah  paham, menegur  dengan  ketulusan  apa  adanya  jika  sahabatnya  salah  langkah.  Sahabat  tidak  akan  berpura-pura  baik, penuh  kasih, bahkan  membungkus  rasa  marah  dengan  sebuah  senyuman  atau  ciuman, namun  berani  berhadapan  dengan  sahabatnya dan  menyatakan  apa  yang salah  serta  menyakitkan  dengan  tujuan  supaya  sahabatnya  berubah, sebagaimana  dilakukan  oleh  Thomas  More  kepada  Raja  Henry VIII.

Saya  termasuk  orang  yang  senang  dan terbuka untuk  punya  banyak  sahabat, entah  itu  sahabat  masa  kanak-kanak, saat  saya di SMP, SPG, Universitas, bahkan  saat  ini  baik  dengan  peer  group  maupun  anak-anak  dan  orang  tua.  Jadi  segala  umur. Saya  merasakan  betapa  bahagianya  punya  banyak  sahabat.  Semakin  terbuka  persahabatan  diantara  saya  dan  sahabatku  serta  meluas  ke  kelompok  lain  semakin  masing-masing  pribadi  diantara  kami  diperkaya  dalam  kehidupan, spiritual, ide-ide  kreatif,serta  hal-hal  yang  bermanfaat  bagi  kami  sebagai  manusia  utuh.

Begitu  pula  dengan  anak-anak  didikku,  saya  lebih  senang  sebagai  sahabat  bagi  mereka. Saya  sering  terpesona dan  bersyukur  boleh  mengalami  banyak  hal  yang  luar  biasa  dari  buah  persahabatan  dengan  anak  didikku, serta  teman-temanku  yang  kini  menjadi  sahabatku  yang  menciptakan  kenangan  indah  dan  membuahkan  berkah.

Menjadi  kerinduan  setiap  insan  untuk  menjadi  bagian  dari  sahabatnya, dan  sesungguhnya  tidak  ada  persahabatan  yang diawali  dengan  sikap  egoistis, jika  itu  terjadi  pastinya  sudah  lama  runtuh  benteng  persahabatan  itu. Semua  orang  pasti  membutuhkan  sahabat  sejati,  namun  semua  orang  tentu  tidak  akan  berhasil  untuk  mendapatkannya.  Banyak  orang  menikmati  indahnya  persahabatan, namun  tidak  kurang  yang  mengalami  kehancuran  karena  dikhianati  sahabatnya.

Apapun  yang  terjadi  yang  penting  jangan  dipihak  kita  yang  jadi  pengkhianat. Jauh  lebih  baik  dan  mulia  pribadi  kita  menjadi  pengampun  dan  pemberi  berkat. Dan  yang  jauh  lebih  penting  kalau  iman  kita  akan  Allah  yang  hidup  dibelokkan  oleh  sahabat  kita  dan  hidup  kita  dijauhkan  dari  Allah  Sang  pemberi  Kehidupan  yang  bertanggung  jawab  akan    raga, jiwa  dan  roh  kita. Maka  lebih  baik  mati  asal  kita  tetap  bersatu  dalam  Cinta  Allah  Sang  kekekalan  abadi  sebagaimana  yang  telah  dilakukan  oleh  Santo  Thomas  More***.

Oleh  Sr. Maria  Monika Puji  Ekowati.SND

 Artikel ke  22 ke  YPTD

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar