The Last Rose of Summer, Kesetiaan yang Menawan
Saat itu saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Tower of London, sebuah penjara yang mengerikan bagi tahanan pemerintahan jaman raja / ratu Inggris, merupakan kesempatan yang kudambakan ,mengapa? Saya ingin melihat bukti bisu sejarah karena orang yang dipenjarakan disitu akan berakhir dengan hukuman mati, di Guillotin ( dipenggal kepalanya). Kini tempat itu dijadikan tempat wisata atau tepatnya cagar budaya bangsa itu.

Daffodils kuning indah semarak,disekitar Tower of London, berterbangan burung gagak yang mengurai cerita tersendiri akan tempat itu. Ketika musim semi tiba, saat saya berkunjung di tempat ini. Hasrat yang menyirap dibenakku, sebuah pencarian dimana Thomas More pernah dipenjarakan dan dibunuh. Hal itu kuketahui waktu saya belajar Sastra Inggris. Menyimak, merenungkan dan berusaha menggali dan menghidupkan apa yang pernah ditulis oleh Santo yang pujangga, serta ahli hukum ini yang saat itu menjadi sahabat Raja Henri ke VIII.
Benar disebuah ruang penjara nan pengap, tempat Thomas More dipenjarakan disini, karena keberaniannya menentang Raja Henry ke VIII yang akan menceraikan permaisurinya Catherine dari Aragon ( Th 1527) dan menikah dengan Anne Boleyn. Ketidak setujuannya itu ditunjukkan dengan sikap dia tidak menghadiri perkawinan raja dan wanita itu pada bulan Juni 1533. Thomas More dengan berani menegur perilaku raja yang salah apalagi Sang Raja yang menentang dan membangkang pada ajaran gereja serta tahta Suci sebagai Kepala Gereja Katolik sedunia. Intuisi Thomas More amat kuat, apapun akibatnya dia lakukan untuk menegur raja yang tamak, karena kalau bukan dia siapa yang berani menegur raja, karena tiada orang yang dekat dengan raja.
Itu semua dilakukannya demi persahabatan yang tulus dan menyelamatkan martabat raja. Namun Sang raja tidak menggubrisnya, dan benar apa yang dikhawatirkan oleh Thomas More raja semakin mengumbar nafsunya menindas rakyat dan memperistri 6 wanita : Catherine of Aragon, Anne Boleyn, Jane Seymor, Anna the Clevess, Katherine Howard, Chatherine Parr.
Ketidak senangan dan rasa tersinggung membuat raja menyerang dengan segala fitnahan dan kecaman kepada Thomas More sahabatnya, agar dia terpukul dan mau mendukung raja. Namun hati Thomas More tidak bergeming dengan segala ancaman itu, karena nuraninya dikobarkan oleh api cinta kepada Tuhan dan kebenaran iman. Meskipun selama ini persahabatan telah terjalin, dia menjadi kepercayaan dan orang penting raja, dia memilih jalan yang terbaik meskipun akibatnya dipenjarakan di Tower of London pada tanggal 17 April 1534 dari pada bersumpah kepada raja yang menolak tahta suci gereja kudus dan ajarannya.
Pada tanggal 6 Juli 1535, Thomas More bersama Uskup Fisher yang pestanya dirayakan hari ini tanggal 22 Juni, dinyatakan bersalah oleh raja dan setelah menjalani hukuman di Tower of London dia dipenggal kepalanya, kata-katanya yang terakhir “ Aku ingin menjadi hamba yang baik bagi raja tetapi Allahlah yang utama dan pertama kuabdi dengan setia “. Dia menulis Utopia (1516) yang terkenal yang memuat gagasannya akan pemerintahan yang adil, penuh damai dan sejahtera bagi rakyat dan kehidupan bersama, gambaran masyarakat yang ideal walaupun disajikan dalam karya sastra fiktif. Namun memuat gagasan More nan agung.
Thomas More dibeatifikasi pada tahun 1886 dan dikanonisasi oleh Gereja Katolis, sebagai Santo/ Orang Kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1935.
Sebelum kematian, dia menulis puisi dengan paku digoreskannya di tembok penjara, karena keluarganya tidak diijinkan untuk mengirimkan kertas dan alat tulis yang dimintanya. Luapan hatinya terukir dalam puisi yang menggambarkan perjuangan dan pergolakannya melawan ketidak jujuran dan penyelewengan. Persahabatannya telah dikhianati oleh raja, sang penguasa, yang ingin mengumbar nafsunya. Dalam kepengapan penjara, jiwanya tetap bebas untuk mengukir keindahan budinya yang tergores dalam sebuah Puisi:

The Last Rose of Summer
by Thomas Moore
’TIS the last rose of summer
Left blooming alone;
All her lovely companions
Are faded and gone;
No flower of her kindred,
No rose bud is nigh,
To reflect back her blushes,
To give sigh for sigh.
I’ll not leave thee, thou lone one!
To pine on the stem;
Since the lovely are sleeping,
Go, sleep thou with them.
Thus kindly I scatter
Thy leaves o’er the bed,
Where thy mates of the garden
Lie scentless and dead.
So soon may I follow,
When friendships decay,
And from Love’s shining circle
The gems drop away.
When true hearts lie withered
And fond ones are flown,
Oh! who would inhabit
This bleak world alone?
Dia menggambarkan dirinya sebagai mawar nan cantik yang tersisa, yang dibantai oleh kekejaman sahabatnya sendiri yang dikuasai nafsu untuk meraih segala kenikmatan dunia. Tidak hanya dia, namun banyak mawar-mawar cantik,bunga nan indah di Inggris yang bermekaran disaat bulan Juni puncaknya musim semi. Gambaran orang-orang Ingris yang penting saat itu disekeliling raja, yang berhati murni, penuh kejujuran, tulus mengabdi, namun dibantai demi keserakahan pribadi Sang penguasa. Semua orang yang cantik budi dan moralnya telah pergi…., pergi dari bangsanya… tidak tersisa untuk memberi teladan keindahan, keutamaan yang menyuarakan desah-desah kebenaran. Untuk memperingatkan bila terjadi keserongan dan ketidak benaran. Dari kebusukan persahabatan itu Thomas More mendengarkan suara panggilan kebenaran, panggilan Ilahi yang menuntunnya untuk meninggalkan kenyamanan, kedudukan, kuasa, dan ketenaran nama.
Jiwanya ingin terbang dan pergi mencari gambarannya yakni Allah sendiri, yang akan memeluk dalam cinta, kasih kesucian tanpa syarat. Dia rela terbang pergi untuk menggapai tidur yang indah bersama rekan-rekannya pejuang kebenaran yang telah dibantai sebelumnya. Kepergian itu indah, karena dia akan menjadi penghuni di tempat Bapa-Nya. Daripada tinggal sendiri dalam kubang kebusukan suatu persahabatan.
Bagiku pengalaman Thomas More dalam bersahabat menjadi cermin, yang senantiasa segar untuk direfleksikan terus menerus. Sebagai manusia yang merupakan mahkluk social, kita butuh teman bahkan sahabat sebagai rekan dalam perjalanan hidup. Dalam persahabatan dapat mengembangkan banyak aspek yang menguji dan menyempurnakan kita untuk menjadi manusia utuh. Tapi dalam bersahabat seseorang tidak boleh saling memanipulasi persahabatan, misalnya nebeng ketenaran sahabatnya, atau bahkan terlalu melekat , tergantung dan terikat oleh sahabatnya sehingga persahabatan tersebut menjadi exklusif dan tidak sehat.
Seorang sahabat yang baik akan membiarkan sahabatnya untuk menjadi diri sendiri dan berkembang dalam persahabatan serta terbuka bagi orang lain. Juga kalau persahabatan itu membawa seseorang menjauh dari Tuhan ataupun imannya. Kita harus bertindak tegas memilih yang terbaik demi keselamatan jiwa kita, berani menegur sahabat yang berjalan/bertidak salah,walaupun akibatnya kita tidak dianggap dan tali persahabatan menjadi putus. Kiranya Thomas More telah memberi teladan gemilang dengan resiko kehilangan kekuasaan, pekerjaan, kenyamanan, pangkat bahkan berakhir dengan penjara dan kematian. Namun dia yakin bahwa tidak ada yang berkuasa atas jiwanya selain Tuhan yang pertama dan utama dia abdi.
Ada kata-kata bijak :” Persahabatan sejati ibarat pertemuan dua malaekat yang ternilai lebih agung dan luhur” Memang persahabatan hendaknya menjadikan dan memberikan berkat satu sama lain. Persahabatan semestinya menuntun para sahabat itu untuk mencapai kebaikan, kesejatian, keakraban yang membawa pada Sang Khalik. Mereka saling berbagi berkat entah dalam suka bahagia, ataupun saat berduka. Persahabatan sejati bagaikan mata dan tangan, apabila tangan terluka mata akan menangis dan apabila mata menangis tangan akan menghapus air mata kepedihan. Saling menghibur, menguatkan dan berbagi bahagia dan rasa senang. Persahabatan mengembangkan kepekaan, solidaritas yang lebih dari sekedar toleransi, namun rasa empati yang mendalam akan segala apa yang terjadi dan dialami oleh sahabatnya. Sahabat adalah tempat curahan hati, tempat sampah yang siap menampung segala rahasia, yang diolah bersama dalam kasih yang membuahkan berkah.
Dalam pengalamanku persahabatan sejati melalui proses jatuh bangun, pengenalan yang panjang akan sifat, karakter dan keberadaan sahabatnya. Semua tidak terjadi secara otomatis, setiap orang punya intuisi tersendiri untuk merasakan dan akhirnya memilih dan menentukan apakah orang yang ditemuinya dan dikenalnya bisa menjadi seorang sahabat. Ada yang baru saja kenal terus cocok dan cepat proses itu berjalan hingga hubungan itu menjadi seperti saudara. Namun adakalanya kita sudah mengenal seseorang, tapi hati kita tidak in the mood untuk menjadi orang dekat/ sahabat baginya.
Tentu dalam menjalin persahabatan ada tantangan dan cobaan yang mesti dihadapi, mungkin suatu saat terjadi salah paham yang kadang melelahkan dan menjengkelkan. Namun bila kita sudah saling mengenal watak, situasi, pribadi sahabat kita hal itu akan membuat persahabatan kita teruji semakin kukuh dan indah, serta rasa sayang dan pengampunan, senantiasa terjalin mengalir, melumuri persahabatan tersebut. Proses dari kawan atau teman menjadi sahabat membutuhkan kesetiaan dari kedua belah pihak. Pemeliharaan kesetiaan, pertemuan yang intens, maupun kadang-kadang perlu diadakan dan disepakati bersama. Seorang sahabat selalu berinisiatif bagaimana dia dapat memahami, mengerti, menyenangkan dan menciptakan rasa aman tanpa ketergantungan yang mengikat pada dirinya.

Bahkan dia terbuka akan orang lain yang mau menjalin persahabatan dengan sahabatnya. Dia senantiasa termotivasi untuk menciptakan kasih, perhatian yang wajar, sehingga persahabatan tersebut benar-benar memberi berkah pada keduanya.
Seorang sahabat tidak akan berkhianat, untuk menyembunyikan kekurangan, kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena cinta dan kasih akan sahabatnya ia berani menyapa bila terjadi salah paham, menegur dengan ketulusan apa adanya jika sahabatnya salah langkah. Sahabat tidak akan berpura-pura baik, penuh kasih, bahkan membungkus rasa marah dengan sebuah senyuman atau ciuman, namun berani berhadapan dengan sahabatnya dan menyatakan apa yang salah serta menyakitkan dengan tujuan supaya sahabatnya berubah, sebagaimana dilakukan oleh Thomas More kepada Raja Henry VIII.
Saya termasuk orang yang senang dan terbuka untuk punya banyak sahabat, entah itu sahabat masa kanak-kanak, saat saya di SMP, SPG, Universitas, bahkan saat ini baik dengan peer group maupun anak-anak dan orang tua. Jadi segala umur. Saya merasakan betapa bahagianya punya banyak sahabat. Semakin terbuka persahabatan diantara saya dan sahabatku serta meluas ke kelompok lain semakin masing-masing pribadi diantara kami diperkaya dalam kehidupan, spiritual, ide-ide kreatif,serta hal-hal yang bermanfaat bagi kami sebagai manusia utuh.
Begitu pula dengan anak-anak didikku, saya lebih senang sebagai sahabat bagi mereka. Saya sering terpesona dan bersyukur boleh mengalami banyak hal yang luar biasa dari buah persahabatan dengan anak didikku, serta teman-temanku yang kini menjadi sahabatku yang menciptakan kenangan indah dan membuahkan berkah.
Menjadi kerinduan setiap insan untuk menjadi bagian dari sahabatnya, dan sesungguhnya tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis, jika itu terjadi pastinya sudah lama runtuh benteng persahabatan itu. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun semua orang tentu tidak akan berhasil untuk mendapatkannya. Banyak orang menikmati indahnya persahabatan, namun tidak kurang yang mengalami kehancuran karena dikhianati sahabatnya.
Apapun yang terjadi yang penting jangan dipihak kita yang jadi pengkhianat. Jauh lebih baik dan mulia pribadi kita menjadi pengampun dan pemberi berkat. Dan yang jauh lebih penting kalau iman kita akan Allah yang hidup dibelokkan oleh sahabat kita dan hidup kita dijauhkan dari Allah Sang pemberi Kehidupan yang bertanggung jawab akan raga, jiwa dan roh kita. Maka lebih baik mati asal kita tetap bersatu dalam Cinta Allah Sang kekekalan abadi sebagaimana yang telah dilakukan oleh Santo Thomas More***.
Oleh Sr. Maria Monika Puji Ekowati.SND
Artikel ke 22 ke YPTD













Sharing kisah persahabatan Thomas More yg indah…
Diberkati untuk menjadi berkat.
Salam sehat selalu sr. Monika
Shalom Bu Dewi, betul persahabatan nan indah sampai Thomas More mengurbankan nyawa demi kebenaran dan keyakinannya.Salam sehat dan terus berkreasi Bu Dewi.Salam dan doaku.