Merajut Kenangan Mematri Fakta
Pangeran muda itu menyapa dengan ramah,mengajak foto bersama terus berjabat tangan dan memegang tanganku serta meletakkan didadanya dan berkata:” Suster doakan saya semoga saya menjadi lebih baik dan tahun baru ini menjadi tahun penuh berkat bagi saya” lalu dia mencium tangan saya berjabat tangan Sr Maria Anzelm dan para tamu yang didekat kami.

Dia mengucap salam kepada yang berulang Tahun katanya : ” Pak Lik met Ultah ya, penuh berkah” Dialah Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Jiwonegoro Sukmaputra. Pangeran tampan dari Pura Mangkunegaran yang rendah hati, bersahaja buah kasih dari Ibu Sukmawati Soekarno Putri dan KGPH Sujiwo.Peristiwa itu terjadi tgl 13 Januari 2019 dalam Perayaan ULANG TAHUN Mas Guruh Soekarno Putra.
Ya sudah 3 kali ini saya mendapat undangan dari Mas Guruh saat beliau Ulang Tahun. Bahkan setiap tahun saya mendapat undangan namun karena saya bertugas di luar negeri bahkan diluar kota Jakarta maka saya kadang tidak bisa menghadirinya. Saya sungguh terharu dengan apa yang diperbuat Gusti Paundra terhadap saya.
Setelah peristiwa malam itu kami terhubung saling berkomunikasi via WA, Instagram, juga Face Book. Lebih menyentuh lagi via Voice note dia memanggil saya bunda. Saya tidak keberatan untuk menjadi bunda rohaninya yang siap mendoakan dalam perjalanan hidupnya. Katanya dalam rekaman suara itu : Syalom Sr Monika apa khabar? Terima kasih lho untuk sapaannya, Tuhan telah mempertemukan kita malam itu. Bolehkah saya memanggil suster dengan sebutan bunda?
Saya mohon restu dan didoakan untuk menjadi orang yang lebih baik,pribadi yang baik kaberkahan dan tahun ini menjadi tahun saya. Saya yang telah lama ngumpet dan digladi dikawah Condro dimuko di Pura Mangkunegaran. Kini saya akan membalas untuk semakin berekreasi ya Bunda, mohon didoa restui saya percaya bunda akan dan selalu mendoakan saya. Terima kasih untuk kiriman foto kita yang begitu damai, kiriman fotonya sudah saya upload di FB dan instragam saya yang mendapat sambutan begitu luar biasa dari rekan dan teman-teman saya yang memang lingkungan saya orang-orang yang baik.
Mereka menyaksikan kedamaian kita berdua. Terima kasih bunda telah membaca kepribadian saya yang memang unik, dll Voice note itu disampaikan dengan renyah, ringan dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa dan sesekali Bahasa Inggris cukup lama. Bahkan dia mencari Biodata saya via Google dan mengirimkannya dengan pesan yang mengagumkan.
Dari situ saya mulai bercerita dengan GPH Paundrakarna mengapa sejak kecil hingga remaja dan kini, saya begitu mengikuti, banyak membaca dan mencintai serta mendoakan keluarga Proklamator Ir Soekarno dan keluarga Mangkunegaran. Nenek saya yang berasal dari Solo banyak bercerita pada saya tentang situasi Istana Mangkunegaran dan juga bapak dan nenek saya pencinta Soekarno, sehingga apa saja yang menyangkut nama Soekarno selalu diceritakan pada saya, dan ternyata Tuhan memperkenankan saya untuk terhubung dengan keluarga Sang Proklamator.
Bagi Kongregasi SND, Presiden pertama RI itu juga banyak perhatian dan murah hati. Hal ini diceritakan oleh Sr Maria Lusia yang membina saya sewaktu saya aspiran, bahwa Suster pernah mendampingi Sr Maria Xavera ( Misionaris dari Jerman) dipanggil di istana negara dan dianugerahi Warga Negara oleh Presiden Soekarno, serta diberi Jeep putih untuk alat tranportasi bila para suster pelayanan didaerah Limpung, Bandar dan sekitar Pekalongan. Semua itu saya ceritakan kepada Gusti Paundra & Mas Guruh dan mereka sangat terharu. Sewaktu Ultah Januari 2019 ada seorang penari yang meskipun tidak diundang dia hadir untuk menari topeng sebagai hadiah, karena neneknya yang juga seorang penari Topeng terbaring sakit dan dibiayai oleh Mas Guruh.

Sebagai pendididk saya tidak ingin anak-anak didik saya melupakah Sejarah Bangsa sebagaimana ditekankan oleh Presiden Soekarno dalam Pidatonya JASMERAH, maka sewaktu saya bertanggung jawab sebagai Kepala SD & SMP Notre Dame saya mengajak anak-anak untuk kunjungan di Gedung Proklamasi dan disitu diterangkan tentang Sejarah Bangsa oleh Ibu Lusia Soetanto, Bp Lingga dan Mas Sigit, serta diberi Buku tebal tentang Soekarno Penyambung Lindah Rakyat Indonesia.
Kami para Suster sewaktu ada pertemuan Asia Oceania juga mengajak para Suster dari pelbagai negara untuk berkunjung dan mengenal sejarah Kraton Mangkunegaran Solo, bahkan saat itu bertemu dengan KGPH, Sujiwo Negoro ( Mangkunegara ke IX ) ayahanda Gusti Paundra. Para Suster yang dari pelbagai negara Asia Oceania dan Eropa itu sangat mengagumi kekayaan budaya Indonesia yang sungguh luar biasa.
Sejak bertemu dengan Gusti Paundra dan selalu mendapat kiriman Voice note dan Videonya saya semakin tertantang untuk mengetahui apa kiprahnya.
Ternyata Cucu Presiden pertama dan Putra Mangkunegara IX, serta calon pewaris tahta yang lahir pada 19 April 1975 ini menuruni darah seni dari para leluhur dan ibundanya Sukmawati Soekarno Putri. Gusti Paundra seorang pencipta tari sekaligus Penari dan pelawak serta melahirkan Adi Cipta Paundrakarna yang kreatif seperti Swara Mahardikha-nya Pak Liknya yaitu Guruh Soekarno Putro.

Gusti Paundra telah mementaskan karya seni Indonesia Megah, Indonesia Gemerlap, Tari Greget Mantep, Video lagu Pitutur, serta duet bersama beberapa penyanyi ternama. Pernah mencoba di dunia politik sebagai wakil dari PDIP sebagai anggota DPD kota Solo, namun hanya sejenak, dia meninggalkan dunia politik dan menekuni darah seni yang selalu bergejolak dijiwanya.
Karya seninya sebagai cara untuk menghidupkan dan melestarikan budaya Kraton digelar setiap Sabtu Pon sebagai peringatan weton ramandanya. Selain dunia Tarik suara, tari dan modeling serta Cover Boy, pangeran tampan ini juga menggeluti dunia Sinetron & Layar lebar. Pernah membintangi Film Gita Cinta dari SMA, BJ Habiebie dan Kartini ( memerankan pangeran Busono kakak ke 2 RA Kartini). Meskipun berdarah bangsawan, beliau begitu merakyat dan banyak kawan dari pelbagai lapisan masyarakat. Gusti Paundra doaku selalu menyertaimu, semoga Kiprahmu menjadi berkat bagi banyak Orang. Dan sebagai Biarawati saya paling bahagia kalau ada seorang yang minta DOA padaku.
Oleh Sr. Maria Monika SND
Artikel ke 25 YPTD










